Mohon tunggu...
Hadi Santoso
Hadi Santoso Mohon Tunggu... Tukang Menulis

Pemungut kisah dari lapangan. Pernah sewindu bekerja di 'pabrik koran'. The Headliners Kompasianival 2019. Nominee 'Best in Specific Interest' Kompasianival 2018. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Pilihan

Introspeksi dan Inovasi, Kunci Marcus/Kevin Meraih Gelar Semudah "Share Pesan Broadcast"

12 November 2019   14:13 Diperbarui: 12 November 2019   14:23 273 4 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Introspeksi dan Inovasi, Kunci Marcus/Kevin Meraih Gelar Semudah "Share Pesan Broadcast"
Ganda putra Indonesia, Kevin Sanjaya (kiri) dan Marcus Gideon, sudah memenangi 8 gelar BWF di tahun ini. Level permainan mereka kini mengungguli ganda putra dunia lainnya/Foto: Olahraga.Kompas.com

Apa yang membuat orang hebat di bidangnya bisa bertahan lama menikmati kesuksesannya? Jawabannya ternyata sederhana: bercermin. Tentunya bukanbercermin yang sekadar memandangi rupa diri di kaca cermin. Tidak begitu.

Namun, mereka yang mampu bercermin dengan menengok masa lalu perihal apa saja yang membuat mereka sukses maupun gagal. Juga membayangkan gambaran situasi persaingan di masa depan. Lantas, membuat rencana matang menghadapi situasi bayangan itu demi melanggengkan sukses.

Rutinitas "bercermin" itulah yang dulunya dilakukan mendiang Steve Paul Jobs. Dalam salah satu quote terkenalnya, orang jenius yang dikenal sebagai pencetus Apple Inc dan studio animasi Pixar yang melahirkan film-film apik seperti Toy Story hingga Monster Inc ini pernah bilang begini:

"For the past 33 years, I have looked in the mirror every morning and asked myself: 'If today were the last day of my life, would I want to do what I am about to do today?' And whenever the answer has been 'No' for too many days in a row, I know I need to change something".

Inti dari ucapan Steve Jobs tersebut, dia tidak mau hari ini hanya melakukan hal sama seperti hari kemarin. Melewatkan hari demi hari dengan melakukan pekerjaan yang terus berulang. Begitu-begitu saja. Jobs sadar, dirinya butuh perubahan. Semangat perubahan itulah yang lantas membuat hidupnya penuh dengan inovasi.

Tentu saja, inovasi tidak selalu cepat kelihatan hasilnya. Terkadang ia butuh waktu. Dan, selama perjalanan waktu mempraktekkan inovasi itu, kesalahan dan kegagalan acapkali terjadi. Disinilah momentum pentingnya. Apakah inovasi yang direncanakan itu layu sebelum berkembang karena tidak bisa move on dari kegagalan. Atau, belajar dari kesalahan sehingga terciptalah inovasi  itu.

Persis seperti ucapan Steve Jobs lainnya: "Sometimes when you innovate, you make mistakes. It is best to admit them quickly and get on with improving your other innovations".

Di Fuzhou, Marcus/Kevin meraih gelar kedelapan di tahun ini

Saya mendadak teringat dengan Steve Jobs serta quote hebatnya setelah menyaksikan penampilan ganda putra Indonesia, Marcus Gideon/Kevin Sanjaya di turnamen BWF World Tour Super 750 yang baru berakhir, Minggu (10/11).

Kita tahu, Marcus/Kevin menjadi juara sekaligus mempertahankan gelarnya di turnamen tersebut. Mereka bahkan meraih empat gelar beruntun di turnamen itu yang menjadi rekor.

Namun, bukan hanya raihan gelar itu yang menarik untuk diulas. Tetapi, bagaimana penampilan pasangan ganda putra berjuluk Minnions ini yang patut dibahas.

Marcus dan Kevin, juara du Fuzhou China Open 2019/Foto: badmintonindonesia.org
Marcus dan Kevin, juara du Fuzhou China Open 2019/Foto: badmintonindonesia.org
Bagi Marcus dan Kevin, gelar juara bukanlah barang langka. Bukan hal mahal. Malah, merujuk prestasi mereka di tahun ini, meraih gelar di turnamen BWF World Tour itu serasa semudah membagikan pesan broadcast di platform percakapan WhatsApp. Seolah tinggal sentuh layar gawai.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN