Mohon tunggu...
Hadi Santoso
Hadi Santoso Mohon Tunggu... Tukang Nulis

Pemungut kisah dari lapangan. Pernah bekerja di "pabrik koran". Nominasi kategori 'Best in Specific Interest' Kompasianival 2018. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Artikel Utama

Rusia Rasa Istora, Tim Indonesia Akhirnya Juara Dunia untuk Kali Pertama

6 Oktober 2019   06:01 Diperbarui: 6 Oktober 2019   13:46 0 12 6 Mohon Tunggu...
Rusia Rasa Istora, Tim Indonesia Akhirnya Juara Dunia untuk Kali Pertama
Membanggakan. Tim bulutangkis junior Indonesia akhirnya jadi juara dunia di Rusia. Tadi malam, Indonesia mengalahkan Tiongkok 3-1 di final yang bikin jantung dag dig dug/Foto: badmintonindonesia.org


Kabar menggembirakan akhirnya datang dari Kota Kazan di Rusia. Lewat perjuangan pantang menyerah, tim bulu tangkis junior Indonesia akhirnya tampil sebagai juara di Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis Beregu Junior (BWF World Junior Championship Team) 2019.

Tim bulu tangkis junior Indonesia jadi juara dunia setelah mengalahkan juara bertahan Tiongkok dengan skor 3-1 di final yang membuat jantung dag dig dug, Sabtu (5/10) tadi malam.

Sejak digelar tahun 2000 silam, ini merupakan gelar perdana bagi tim junior Indonesia di kejuaraan bulu tangkis yang juga dikenal dengan nama Suhandinata Cup ini. Ya, piala yang memakai nama tokoh Indonesia ini akhirnya "pulang kampung" ke negara asalnya.

Tentu saja, mendengar kabar tim bulutangkis junior Indonesia jadi juara dunia, sangat melegakan. Bikin bangga. Apalagi, kita mengalahkan Tiongkok. Kita yang selama ini nyaris selalu kalah dari tim Tiongkok di kejuaraan beregu, ternyata bisa menang. 

Sebelumnya, dalam 10 pertemuan melawan Tiongkok di Kejuaraan Dunia Junior, tim Indonesia kalah 9 kali. Termasuk kekalahan di final 2014 dan 2015 dengan skor telak, 0-3.

Dan memang, bila melihat dan mengikuti langsung bagaimana menit demi menit perjuangan anak-anak muda Indonesia di final tadi malam melalui tayangan live streaming, kita bisa merasakan nuansa pertandingan yang sangat mendebarkan.

Pertandingan yang dimulai pukul 17.00 waktu Indonesia dan baru berakhir sekitar pukul 22.00 tersebut sungguh 'tidak baik' bagi kesehatan jantung. Bagaimana tidak, sepanjang pertandingan, jantung kita dibikin dag dig dug demi melihat perjuangan pemain-pemain Indonesia.

Dengan komposisi final yang memainkan lima pertandingan, diawali ganda campuran, lalu tunggal putri, tunggal putra, ganda putri, dan diakhiri ganda putra, bisa dikatakan final tersebut sangat berimbang.

Sebab, kekuatan Indonesia maupun Tiongkok, kali ini memang nyaris sama di hampir semua nomor. Itu memberikan gambaran bahwa pertandingan akan berjalan ketat. Faktanya memang begitu. Dari empat pertandingan yang digelar di final tadi malam, semuanya berakhir dengan rubber game.

Indonesia sempat unggul 2-0

Di pertandingan pertama, Indonesia memainkan pasangan Daniel Marthin dan Indah Cahya Sari Jamil yang sebelumnya menjadi penentu kemenangan Indonesia 3-2 atas Thailand di semifinal (4/10). Keduanya kembali tampil tokcer.

Daniel/Indah mengawali pertandingan dengan sempurna. Mereka menang 21-18 di game pertama atas pasangan Feng Yanzhe/Lin Fangling. Sayangnya, mereka kalah 18-21 di game kedua. Laga pun harus ditentukan lewat rubber game.

Di game ketiga, Daniel/Indah mampu tampil dominan. Pasangan Tiongkok kewalahan. Penempatan bola-bola ke tempat sulit dijangkau dam smash-smash keras oleh Daniel, serta permainan sigap Indah di depan net, membuat mereka memenangi laga dengan skor cukup jauh, 21-11. Indonesia unggul 1-0 atas Tiongkok.

Di pertandingan kedua, laga ketat dan dramatis juga tersaji saat tunggal putri Indonesia, Putri Kusuma Wardani, menghadapi tunggal putri Tiongok, Zhou Meng. 

Termotivasi kemenangan Daniel/Indah, Putri juga tampil apik. Dia menang 21-18 di game pertama. Namun, apa mau dikata, di game kedua, dia malah kalah tipis 20-22. Laga pun berlanjut di game ketiga.

Di game ketiga, kedua pemain saling kejar-mengejar dalam perolehan poin. Namun, di interval kedua, Putri melesat. Dia mau capek dengan terus bergerak mengejar shuttlecock. Defencenya juga keren. 

Beberapa kali smash Zhou Meng bisa ia kembalikan. Dia juga tampil lepas dengan beberapa kali berteriak di lapangan ketika mendapatkan poin. Pada akhirnya, Putri menang 21-14. Indonesia pun unggul 2-0.

Artinya, tim Indonesia hanya butuh satu kemenangan lagi untuk jadi juara. Meski, tidak ada jaminan Indonesia bakal juara. Pemain-pemain muda Indonesia pastinya belum lupa kejadian pahit di final Kejuaraan Asia Junior 2019 pada Juli lalu. Kala itu, Indonesia juga unggul 2-0 atas Thailand. Siapa sangka, Indonesia akhirnya kalah 2-3 dan gagal jadi juara.

Tinggal satu poin untuk juara, Bobby yang sempat unggul 20-16 malah kalah

Karenanya, tekanan besar dihadapi tunggal putra, Bobby Setiabudi yang tampil di pertandingan ketiga. Bobby menghadapi Liu Liang. Tekanan itupula yang membuat Bobby yang di semifinal mampu mengalahkan juara dunia dan juara Asia, Kunlavut Vitidsarn, tampil kurang lepas di game pertama. Dia kalah 17-21. Namun, Bobby berbalik menang dengan skor sama di game kedua.

Dan, momen paling mendebarkan terjadi di game ketiga. Hingga interval pertama, kedua pemain bergantian merebut poin. Sulit memprediksi siapa yang akan menang. Bobby lantas unggul 11-10.

Di interval kedua, pelan-pelan, Bobby mulai meninggalkan Liu dalam perolehan poin. Hingga akhirnya, Bobby unggul 20-16. Match point. Satu poin lagi, dia akan menang. Satu poin lagi, Indonesia akan juara dunia.

Namun, yang terjadi sungguh pahit. Bobby yang sebelumnya meloncat kegirangan ketika mendapat poin 20, seolah langsung kehilangan ketenangannya. Ia ingin buru-buru menyudahi pertandingan. 

Tak dinyana, Liu justru mendapat empat poin beruntun, 20-20 dan memaksakan setting point. Lantas, Liu kembali mendapat dua poin beruntun. Bobby pun kalah 20-22. Terlihat dia sangat kecewa dan terpukul.

Momen ini sungguh menguras emosi. Saya pun sempat lemas. Seolah tak percaya. Lha wong sudah siap-siap juara karena hanya perlu satu poin dan unggul 4 poin, pun Bobby seolah sudah tahu cara mendapatkan poin, eh ternyata tertikung.  

Tetapi memang, dalam laga final, apalagi ketika kualitas pemain yang nyaris sama, maka ketenangan dan kekuatan mental pemain-lah yang menjadi penentu. Dalam hal ini, Bobby masih harus belajar lagi bagaimana meredam euforia dini. Bahwa, sebelum menang, haram hukumnya merasa menang.

Kemenangan Indonesia ditentukan lewat ganda putri dadakan

Kekalahan Bobby membuat Tiongkok memperkecil skor jadi 1-2. Final berlanjut ke pertandingan keempat yang memainkan ganda putri. Bila Indonesia menang, final akan selesai karena skor sudah 3-1. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2