Mohon tunggu...
Hadi Santoso
Hadi Santoso Mohon Tunggu... Tukang Nulis

Pemungut kisah dari lapangan. Pernah bekerja di "pabrik koran". Nominasi kategori 'Best in Specific Interest' Kompasianival 2018. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Artikel Utama

Tak Pernah Juara, Benarkah Minions Terkena "Kutukan" di Korea Open?

29 September 2019   06:40 Diperbarui: 16 Oktober 2019   07:25 0 7 3 Mohon Tunggu...
Tak Pernah Juara, Benarkah Minions Terkena "Kutukan" di Korea Open?
Ganda putra Indonesia, Marcus Gideon (kanan) dan Kevin Sanjaya, disebut gagal di Korea Open 2019 karena 'kutukan'/Foto: badmintonplanet.com


Apakah sampean (Anda) percaya ada kutukan dalam olahraga?

Percaya atau tidak percaya, sebenarnya ada beberapa 'pamali' dalam olahraga. Pamali  yang sudah menjadi 'rahasia umum'. Pamali alias pantangan yang bila dilanggar, si pelanggar ataupun timnya, akan terkena sial.

Ambil contoh di sepak bola. Ada pantangan bila sebelum pertandingan final dimulai/belum selesai, jangan sekali-kali menyentuh trofi/piala yang biasanya dipajang di tepi lapangan. Siapa yang memegang trofi, maka akan sial. Benarkah? Percaya atau tidak percaya ya monggo.

Pemain Timnas Prancis, Dimitri Payet pernah mengalaminya. Tahun 2018 lalu, timnya, Olympique Marseille tampil di final Europa League melawan Atletico Madrid. 

Payet cedera ketika pertandingan. Ia pun diganti. Nah, ketika berjalan menuju bench, ia menyentuh trofi. Maka, ketika Marseille lantas kalah 0-3 via perpanjangan waktu, Payet pun jadi sorotan. Bahkan, CNN ikut memberika ulasan.

Tapi yang jelas, 'kutukan menyentuh trofi' ini terkenal. Ia bahkan masuk dalam "top 10 infamous curses in football".  Silahkan menuliskan kata "trophy touch curse" di laman pencarian wikipedia, sampean (Anda) akan menemukan jawabannya.

Dulu, juga ada kepercayaan di sepak bola antar kampung. Bahwa, ketika tendangan seorang pemain menghantam tiang atau mistar gawang, maka akan sial. 

Lucunya, ada yang meyakini, untuk menghilangkan sial itu, gawangnya harus dikencingi. Entah benar atau tidak. Namanya juga kepercayaan. Bisa percaya. Bisa tidak.

Ada 'kutukan' untuk Marcus/Kevin di Korea Open ?

Tapi itu di sepak bola. Bagaimana bila di bulutangkis. Apa iya ada kutukan seperti itu? Apa iya, bila shuttlecock menyangkut di net, jadi pertanda sial. Kalau itu sih bukan pertanda sial. Tapi pertanda kalah. 

Lha wong bila pengembalian ke lawan, shutlecocknya terus-menerus menyangkut di net, tentunya akan berbuah poin untuk lawan.

Nah, wujud 'kutukan' di bulutangkis--bila dikait-kaitkan---ada pada ketidakmampuan seorang pemain untuk juara di sebuah turnamen. Apalagi bila pemain itu merupakan pemain top dunia yang bolak-balik juara di banyak turnamen. 

Namun, mereka tak pernah mampu juara di sebuah turnamen dari tahun ke tahun.

Analogi gatuk adanya kutukan itulah yang disematkan pada ganda putra andalan Indonesia, Marcus Gideon dan Kevin Sanjaya dalam penampilan mereka di Korea Open. Penyebabnya, sejak tampil di turnamen tersebut pada tahun 2015 silam, Marcus/Kevin memang tak pernah mampu juara.

Padahal, di All England Open, Indonesia Open, dan China Open yang merupakan turnamen BWF World Tour level tertinggi (Super 1000), Marcus/Kevin sudah beberapa kali juara. Lalu, mengapa di Korea Open yang 'hanya' Super 500, mereka tak pernah mampu juara?  

Cerita 'kutukan' Minion, julukan Marcus/Kevin--di Korea Open, bermula di tahun 2015. Kala itu, Marcus/Kevin masih merupakan pasangan yang baru dipasangkan oleh PBSI. 

Sialnya, mereka sudah langsung bertemu unggulan 1 yang juga juara bertahan, Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong. Hasilnya, Marcus/Kevin langsung kalah, 11-21, 12-21 dari ganda tuan rumah tersebut.

Setahun kemudian, mereka tidak ikut serta di Korea Open. Mereka kembali tampil di tahun 2017. Kali ini sebagai unggulan 2. Marcus/Kevin tampil apik. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x