Mohon tunggu...
Hadi Santoso
Hadi Santoso Mohon Tunggu... Tukang Nulis

Pemungut kisah dari lapangan. Pernah bekerja di "pabrik koran". Nominasi kategori 'Best in Specific Interest' Kompasianival 2018. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Bagaimana Kabar Akun Kompasiana Kalian? Semoga Tidak "Berdebu"

16 Agustus 2019   11:31 Diperbarui: 16 Agustus 2019   11:42 0 26 21 Mohon Tunggu...
Bagaimana Kabar Akun Kompasiana Kalian? Semoga Tidak "Berdebu"
Bagaimana kabar akun Kompasiana kalian, semoga tidak /sumber: shutterstock


Siapakah motivator yang paling hebat dalam urusan memotivasi orang?

Sampean (Anda) pastinya akan memunculkan beberapa nama. Dari nama terkenal yang sering wira-wiri di layar kaca ataupun jadi narasumber di media cetak, hingga mungkin tetangga sampean yang tentu saja belum setenar seperti nama-nama tersebut.

Namun, setenar apapun motivator, mereka sejatinya hanya bisa memotivasi. Wilayah mereka hanya sebatas bisa mendorong orang lain agar melakukan sesuatu yang mereka sarankan melalui kata-kata, narasi berenergi, ataupun cerita yang menggugah.

Sebab, untuk urusan mau memulai lompatan pertama menuju perubahan, itu bukan ranahnya motivator. Itu urusannya sampean sendiri. Karenanya, motivator paling hebat sejatinya sampean sendiri.

Ambil contoh seorang motivator menulis. Mereka hanya bisa memotivasi orang lain untuk senang menulis. Berbagai 'jurus menulis' bisa mereka keluarkan untuk mengajak orang lain agar mau memulai dan akhirnya terbiasa menulis.

Mulai 'jurus' bagaimana memulai menulis dari tema-tema ringan yang disukai agar lebih mudah, lalu ada banyak saluran (media) untuk memajang tulisan agar bisa dibaca banyak orang, hingga berbagai macam 'hadiah' yang bisa didapatkan melalui menulis sebagai motivasi.    

Tapi ya, meski seratus jurus sudah dikeluarkan, tidak ada jaminan seorang motivator menulis akan bisa menggugah orang lain untuk mengawali menulis. Sebab, keputusan akhir untuk memulai menulis atau sekadar menjadikan ucapan motivator itu sebatas sebagai wawasan, ada pada orang tersebut.

Karenanya, dalam urusan mengajak orang lain untuk menulis ini, perihal efektivitas, saya lebih menyukai 'peran' sebagai pengajar. Bukan sekadar motivator. Kebetulan, dua 'peran' itu pernah saya rasakan.

Tentu saja, bisa berbagi ilmu menulis dan memotivasi orang lain untuk menulis melalui acara 'pelatihan menulis' ataupun "workshop content creator" itu menyenangkan. Minimal kita telah membagikan sedikit ilmu yang kita miliki kepada mereka yang bersungguh-sungguh ingin tahu.

Namun, menjadi pengajar yang bisa bertemu mahasiswa di kelas, itu rasanya berbeda. Sebab, kita tidak hanya bisa menyampaikan materi perihal dasar jurnalistik di depan kelas sembari berdiskusi, tetapi kita juga punya 'kuasa' untuk memaksa mereka agar mau menulis.

Sekira April lalu, ketika masa Ujian Tengah Semester (UTS), saya sengaja tidak membuat soal-soal ujian yang biasanya mereka kerjakan di kelas ataupun di rumah. Sebagai tugas UTS, mereka saya wajibkan meliput dan menulis agenda seminar bertajuk "Majalah Digital" di kampus yang lantas ditayangkan di Kompasiana.

Tentu saja, awalnya mereka harus memiliki akun di Kompasiana. Tentunya harus mendaftar terlebih dulu. Singkat cerita, adik-adik mahasiswa dari tiga kelas itupun memiliki akun di Kompasiana. Lantas menulis tulisan untuk tugas UTS tersebut.

Nah, berselang tiga bulan kemudian, jelang masuk periode Ujian Akhir Semester (UAS), saya sampaikan bahwa ujiannya lagi-lagi bukan mengerjakan soal, tetapi menulis tulisan opini. Kali ini, tulisannya harus dikirim ke media cetak dan dimuat bila ingin mendapatkan nilai A.

Sebelum memulai mengirimkan tulisan ke media, mereka saya sarankan untuk 'berlatih menulis tulisan opini' di Kompasiana. Dengan terbiasa menulis, minimal akan terlatih mengembangkan tulisan hingga 800-an kata sebagai syarat tulisan opini di media massa. Lantas, sampailah saya pada pertanyaan: "bagaimana kabar akun Kompasiana kalian?".

Saya senang ketika mengetahui masih ada sekitar empat hingga lima anak yang tetap punya semangat untuk menulis. Beberapa dari mereka biasanya membagikan tautan tulisan mereka ke WhatsApp saya. Namun, mereka hanyalah minoritas.

Sebab, mayoritas mahasiswa di tiga kelas ini menjawab, setelah membuat akun untuk tulisan UTS dulu, mereka tidak pernah lagi menulis tulisan kedua di Kompasiana. Malah, ada yang sudah lupa password untuk login karena saking lamanya tidak pernah lagi menyapa Kompasiana.
 
Saya jadi tergoda untuk bertanya, apakah memang menjaga semangat konsistensi menulis itu sesulit merawat kisah asmara Long Distance Relationship (LDR)?

Lha wong LDR-an kini lebih mudah dengan adanya video call, skype ataupun aplikasi chatting whatsApp. Bandingkan dengan zaman dulu yang hanya mengandalkan "wartel" dan harus menelpon hampir tengah malam atau pagi setelah Shubuh bila ingin tarif telponnya murah (pengalaman ini hehe)

Tetapi memang, untuk bisa istiqomah menulis itu tidak mudah. Tak hanya bagi adik-adik mahasiswa, tetapi juga semua orang. Butuh semangat besar dan motivasi jelas agar seseorang bisa rutin menulis.

Bagi saya, mereka yang mampu rutin menulis setiap hari, pasti telah masuk kategori mencintai menulis. Bukan lagi sekadar suka menulis. Karena cinta, mereka selalu merasakan kerinduan bila lama tidak bertemu. Rindu bila sehari saja tidak menulis.
 
Dalam hal kecintaan dan kerinduan menulis itu, saya mengagumi penulis-penulis konsisten di 'rumah ini' (baca Kompasiana). Karena saking banyaknya, akan terlalu panjang bila disebutkan satu demi satu. Yang jelas, tidak sulit menemukan banyak nama di rumah ini yang setiap hari 'merawat cinta' dan 'mengobati rindu' dengan menghasilkan tulisan di Kompasiana.

Jangan bayangkan mereka bisa menulis konsisten karena mereka punya banyak waktu longgar. Lha wong hampir semua 'tukang nulis' di rumah ini orang-orang yang sibuk dengan kesibukannya masing-masing. Namun, karena cinta mereka terus menulis. Sebab, bila tidak menulis sehari saja, rasanya sudah rindu.

Semangat setia menulis itulah yang turut menginspirasi saya untuk ikut rajin menulis di rumah ini. Meski sehari-hari disibukkan pekerjaan menulis dengan bertemu orang (mewawancara) lantas menuliskannya, saya berusaha meluangkan waktu untuk singgah di rumah ini. Singgah untuk melabuhkan tulisan dengan tema yang berbeda dari rutinitas pekerjaan menulis.  
   
Setelah menjadi 'penghuni' rumah ini selama hampir sembilan tahun, tulisan ini menjadi 'koleksi' ke-800 saya. Jumlah yang terhitung masih sedikit. Lha wong beberapa figur tenar di Kompasiana mampu menghasilkan ribuan tulisan dalam waktu lima tahun. Mudah untuk menemukan siapa saja figur hebat itu karena tulisan mereka setiap harinya beredar di rumah ini.

Bial harus menyebut nama, ada Pak Tjiptadinata Effendi bahkan sudah berkarya menghasilkan 4256 tulisan sejak Oktober 2012. Mas Susy Haryawan sudah merajut 2308 tulisan sejak 2 Juni 2014. Lalu ada Mas Irwan Rinaldi dengan 2143 tulisan sejak bergabung pada November 2013. 

Juga ada Pak Hendro Santoso yang sudah menulis 1059 tulisan sejak 4 Mei 2012. Serta ada mas Arnold Adoe yang sudah membuat 1026 tulisan sejak Januari 2014. Juga nama-nama lainnya yang tidak kalah produktif dalam menghasilkan tulisan.

Beliau-beliau ini merupakan panutan di Kompasiana dalam urusan merawat konsistensi menulis. Bagi mereka, tiada hari tanpa menulis di rumah ini. Sehari saja tidak 'mengunjungi' rumah ini, mereka mungkin akan merasakan rindu tak tertahan.

Tetapi memang, laksana rindu, semangat menulis itu bisa naik turun. Bisa membuncah, bisa juga biasa saja. Di tahun-tahun awal bergabung, saya sempat merasakan nuansa seperti itu. Kadang bersemangat memposting tulisan. Tapi pernah hampir setahun sama sekali tidak menulis. Mampir ke Kompasiana sekadar baca-baca.

Karenanya, merujuk pada dinamika semangat yang awalnya naik turun tersebut, capaian 800 tulisan ini perlu "dirayakan" lewat penanda tulisan. Harapannya, semoga tulisan ini bisa menjadi pengingat. Agar rasa cinta dan rindu menulis di rumah ini, terus dirawat.

Sebab, tentunya ada rasa malu bila saya yang sering memotivasi orang untuk menulis, malah jarang menulis. Seorang yang memotivasi orang lain, seharusnya bisa menjadi contoh. Bahwa dia telah melakukan lebih dulu sebelum memotivasi orang lain.

Karena sekarang perkuliahan masih libur, kelak bila kembali bertemu mereka di kelas, saya akan senang bertanya "bagaimana kabar akun Kompasiana kalian?". Bertanya sembari berharap, semoga akun Kompasiana mereka tidak seperti buku yang karena saking lamanya tidak dijamah sehingga akhirnya berdebu. Salam.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x