Mohon tunggu...
Hadi Santoso
Hadi Santoso Mohon Tunggu... Tukang Nulis

Pemungut kisah dari lapangan. Pernah bekerja di "pabrik koran". Nominasi kategori 'Best in Specific Interest' Kompasianival 2018. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Artikel Utama

Tunggal Putri "Habis" di Babak Awal, tapi Kita Tak Perlu Menangis

18 Juli 2019   14:42 Diperbarui: 18 Juli 2019   21:42 0 17 9 Mohon Tunggu...
Tunggal Putri "Habis" di Babak Awal, tapi Kita Tak Perlu Menangis
Pebulu tangkis tunggal putri Indonesia, Gregoria Mariska Tunjung melawan tunggal putri Thailand, Ratchanok Intanon dalam babak kedua Blibli Indonesia Open 2019 di Istora Senayan, kompleks GBK, Jakarta, Kamis (18/7/2019).(KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG)

Tidak ada yang tidak mungkin terjadi di lapangan olahraga. Semuanya mungkin terjadi. Namun, ketidakmungkinan yang bisa menjadi mungkin itu juga bukan semudah seorang pesulap yang tinggal mengucapkan mantranya agar aksi sulapnya terjadi.

Sebab, di lapangan olahraga, ada banyak faktor yang membuat ketidakmungkinan menjadi mungkin. Di antaranya kesiapan, ketenangan, motivasi berlipat dari mereka yang dianggap tidak mungkin menang, hingga bantuan keberuntungan.

Seperti juga kita yang sempat memiliki harapan tunggal putri Indonesia bisa melangkah jauh, bahkan mungkin juara di turnamen bulutangkis Indonesia Open 2019. Meski sulit, siapa tahu harapan itu mungkin terjadi. Siapa tahu, tunggal putri Indonesia bisa "meledak" karena tampil di Istora, di depan pendukungnya sendiri.

Namun, sekali lagi, kemungkinan itu tidak cukup dengan mengucapkan mantra seperti pesulap. Yang terjadi hari ini, kita harus menerima kenyataan pahit. Empat wakil tunggal putri Indonesia di Indonesia Open 2019, sudah habis di babak awal. Ini menyusul kekalahan Gregoria Mariska Tunjung dari pemain top Thailand, Ratchanok Intanon.

Gregoria yang menjadi satu-satunya tunggal putri Indonesia yang masih tampil di putaran II, belum mampu membuat kejutan. Dia kalah rubber game (tiga game) dari Intanon 21-13, 19-21, 15-21, Kamis (18/7) siang.

Sebelumnya, 3 tunggal putri Indonesia langsung tereliminasi di putaran pertama yang dimainkan pada Selasa (16/7) dan Rabu (17/7). Diawali kekalahan Rusellli Hartawan yang takluk straight game dari Intanon 14-21, 14-21. Lalu Lyanny Alessandra Mainaky kalah rubber game dari pemain Amerika Serikat, Zhang Beiwen.

Hasil pahit juga diterima salah satu tunggal putri andalan Indonesia, Fitriani yang memang "ketiban sial". Fitri harus langsung bertemu pemain terbaik Tiongkok yang menjadi unggulan 2, Chen Yufei. Fitri kalah 7-21, 19-21 dari juara All England Open 2019 tersebut.

Meski kalah, perjuangan Gregoria Mariska layak diapresiasi
Tetapi memang, di turnamen BWF World Tour level Super 1000 (level tertinggi) seperti Indonesia Open, tidak ada lawan mudah. Semua pemain harus siap menghadapi siapapun, termasuk unggulan utama.

Alur cerita seperti itu juga disadari oleh Gregoria Mariska Tunjung. Setelah tampil hebat di putaran pertama ketika mengalahkan pemain masa depan Thailand, Pornpawee Chochuwong dengan "skor aduhai", 21-10, 21-8 (16/7), rute drawing mempertemukan pemain kelahiran Wonogiri berusia 19 tahun ini dengan Intanon.

Secara kualitas permainan, Intanon jelas berbeda dengan Porpawee Chochuwong. Meski, secara usia tidak terlalu berbeda jauh, Intanon (24 tahun) dan Chochuwong (21 tahun), tetapi jam terbang keduanya berbeda jauh.

Predikat Intanon sebagai juara dunia 2013 dan juara Asia 2015 serta 3 kali juara BWF World Tour dan 6 kali juara BWf Superseries, tentu berbeda dengan Chochuwong yang merupakan peraih medali perunggu SEA Games 2017 dan 3 kali juara turnamen level International Challenge (di bawah Super Series).

Apalagi, Intanon selama ini bak seperti menjadi hantu menakutkan bagi Gregoria. Dalam empat kali pertemuan sebelumnya, Gregoria selalu kalah. Pertemuan terakhir terjadi di Malaysia Open 2019 pada awal April lalu. Gregoria takluk 12-2, 16-21.
 
Namun, semua "keterbatasan" itu toh tidak membuat Gregoria kalah sebelum berperang. Justru, Jorji--panggilan Gregoria, tampil luar biasa saat menghadapi Intanon di Istora siang tadi. Sebelum kalah rubber agme, dia sejatinya berpeluang menang straight game.

Ya, Gregoria mengawali pertandingan dengan sempurna. Dia mampu mengungguli Intanon di game pertama dengan skor 21-13. Jorji yang seringkali dituding netizen sering "mager" di lapangan, kali ini bermain lincah. Footwork-nya keren. Pertahanannya juga kokoh bak tipikal pemain-pemain Jepang.

Saya yang mengikuti pertandingan ini dari layar laptop melalui live streaming, sempat membayangkan bahwa dia bakal menang straight game seperti saat mengalahkan Chochuwong.

Apalagi, di game kedua, Gregoria sempat beberapa kali unggul dalam perolehan poin. Sayangnya, ketika memasuki poin-poin kritis, juara dunia junior 2017 ini masih kurang tenang. Intanon pun berhasil menang 21-19. Pertandingan pun berlanjut ke game ketiga.

Harus melakoni rubber game meski seharusnya bisa menang dua game langsung, tentunya berat bagi Gregoria. Toh, dia tetap mampu tampil bagus. Setidak di awal gama ketiga. Gregoria mampu menjaga keunggulan dua poin dari Intanon di angka 11-9, 12-10, 14-12. Namun, memasuki poin 15, terlihat jelas staminanya mulai terkuras.

Kondisi itu dimanfaatkan oleh Intanon. Ketika skor sama 15-12, pemain yang pernah sekali juara Indonesia Open di tahun 2015 ini lantas mendapatkan enam poin beruntun. Sementara Gregoria tak mampu menambah poin. Laga seru selama 65 menit itupun berakhir 21-15 untuk kemenangan Intanon.

Kemajuan dalam permainan Gregoria

Tentu saja, namanya kekalahan akan selalu menyakitkan. Terlebih bila sebelumnya sempat memiliki peluang menang. Apalagi, kekalahan Gregoria membuat tunggal putri Indonesia sudah habis di Indonesia Open 2019. Paceklik gelar tunggal putri di Indonesia Open sejak tahun 2001 juga semakin bertambah panjang.

Dengan semua fakta pahit tersebut, suporter seperti kita mungkin akan dengan mudah menyebut prestasi tunggal putri kita memang begitu-begitu saja. Bahwa tunggal putri kita masih kesulitan bersaing dengan pemain-pemain top dunia. Apalagi meraih gelar.

Namun, terlepas dari semua fakta pahit tersebut, perjuangan Gregoria bak sebuah blessing in disguise. Ya, masih ada secuil kabar bagus di tengah kabar habisnya tunggal putri kita di babak awal Indonesia Open 2019.

Apa yang ditampilkan Gregoria saat melawan Ratchanok Intanon yang merupakan satu dari enam tunggal putri terbaik dunia saat ini, memberikan harapan bahwa tunggal putri kita sejatinya tidak buruk-buruk amat.

Memang, kelemahan seperti ketenangan yang masih kurang ketika memasuki poin-poin kritis ataupun stamina yang belum sepenuhnya bisa on terus untuk menghadapi pertandingan rubber game ketat, masih menjadi pekerjaan rumah.

Namun, kita juga tidak boleh menutup mata dengan bagaimana Gregoria kini lebih lincah bergerak di lapangan. Penempatan bolanya juga semakin oke. Bahkan, kemampuan bertahannya juga semakin oke. Beberapa kali dia mampu meredam smash-smash Intanon. Bahkan, ketika memastikan menang, Intanon terlihat histeris pertanda dia puas karena telah melakoni laga sulit.

Tentu saja, tidak hanya Gregoria, pujian juga perlu diberikan untuk pelatih tunggal putri, Rionny Mainaky. Kemajuan pesat yang ditunjukkan Gregoria memperlihatkan bahwa pola latihan yang diberikan Rionny, telah memperlihatkan hasil. Kita tentu berharap, tunggal putri kita bisa semakin berkembang seperti saat Rionny membuat tunggal putri Jepang berprestasi di tingkat dunia.

Pada akhirnya, semoga kemajuan yang diperlihatkan Jorji, bisa terus ditingkatkan. Tentunya tidak hanya Jorji, tetapi juga tunggal putri penghuni Pelatnas Utama lainnya seperti Fitriani dan Ruselli. Apalagi, dalam dua pekan depan, turnamen lainnya sudah menunggu. Yakni Japan Open 2019 dan Thailand Open 2019.

Andai saja pekan depan Jorji dkk mampu tampil hebat di Japan Open, hasil pahit di Indonesia Open 2019 ini memang tidak perlu kita tangisi. Justru, kegagalan di Indonesia Open 2019 ini menjadi momentum untuk tampil lebih baik di turnamen berikutnya. Salam bulutangkis.

VIDEO PILIHAN