Mohon tunggu...
Hadi Santoso
Hadi Santoso Mohon Tunggu... Tukang Menulis

Pemungut kisah dari lapangan. Pernah sewindu bekerja di 'pabrik koran'. The Headliners Kompasianival 2019. Nominee 'Best in Specific Interest' Kompasianival 2018. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Sistem Zonasi dan Anak-anak yang Gembira Bersepeda ke Sekolah

6 Juli 2019   06:31 Diperbarui: 6 Juli 2019   07:32 352 10 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sistem Zonasi dan Anak-anak yang Gembira Bersepeda ke Sekolah
Anak-anak bersepeda menuju sekolah/Foto: hipwee

Adakah kebijakan yang diambil oleh seorang pimpinan, bisa menyenangkan semua orang yang merasakan dampak kebijakan tersebut?

Rasanya sulit untuk menemukan model kebijakan semacam itu. Yang ada adalah kebijakan yang diambil karena didasari pertimbangan bisa memberikan lebih banyak kemanfaatan bagi banyak orang dibandingkan keburukannya. Meski mungkin tidak semuanya.

Ambil contoh bila sampean (Anda) menjadi ketua RT ataupun lurah di kampung. Saya yakin, dalam membuat keputusan yang menyangkut kepentingan warga kampung, sampean pastinya tidak berniat untuk menyengsarakan mereka. Meski, tidak semua warga mungkin senang dengan keputusan yang sampean buat tersebut.

Nah, berkorelasi dengan pengandaian tersebut, seperti itulah kiranya kebijakan sistem zonasi pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang diterapkan pemerintah. Kita tahu, sistem zonasi yang merujuk Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 14 Tahun 2018 tentang PPDB ini memunculkan pro dan kontra.

Bahwa, sekolah-sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah wajib memberikan kuota sebanyak 90 persen dari keseluruhan murid yang diterima, untuk calon peserta didik yang berdomisili pada radius zona terdekat. Hanya 10 persen sisanya, yang boleh diberikan untuk siswa di luar daerah provinsi sekolah itu.

Zonasi, dikeluhkan juga diharapkan 

Di beberapa tempat, beberapa wali murid yang merasa keberatan, bahkan turun ke jalan. Para orang tua ini berdemo menyoal sistem zonasi yang menurut mereka merugikan anak-anak mereka yang 'naik sekolah' dan berharap mendapatkan sekolah yang diinginkan (baca sekolah favorit).

Saya cukup sering mendengarkan keluh kesah beberapa kawan yang merasakan langsung penerapan sistem zonasi ini. Diantaranya, mereka merasa dirugikan dengan zonasi karena beranggapan anak mereka sudah bersusah payah belajar dan berprestasi, tetapi tidak bisa melanjutkan ke sekolah yang berkualitas hanya karena persoalan jarak.

Dari mendengar keluhan mereka ataupun membaca curhatan mereka di media sosial, seolah sistem zonasi ini buruk dan tidak ada bagus-bagusnya. Apa iya?

Padahal, tidak mungkin sebuah kebijakan diambil tanpa ada dampak positifnya. Begitu juga sistem zonasi. Silahkan menuliskan "kelebihan sistem zonasi" di mesin pencari Google, sampean akan menemukan banyak sekali tautan berita yang berkisah tentang sisi positif zonasi.

Beberapa kelebihan dari penerapan zonasi, diantaranya berdampak bagus pada pemerataan kualitas sekolah. Sekolah tidak lagi terpolarisasi oleh embel-embel kata "favorit" dan "pinggiran". Namun, saya kurang tertarik mengulas sisi ini.

Saya lebih senang menyoroti perihal kemudahan yang didapatkan siswa karena jarak rumah dengan sekolah yang tidak begitu jauh itu. Bahwa, dengan zonasi, siswa bisa lebih mudah datang tepat waktu (tidak terlambat) karena lokasi rumah dan sekolah yang berdekatan.

Karena dekat, ketika tiba di sekolah, siswa tidak lelah dan stress karena kemacetan jalan. Pada akhirnya, kondisi fisik dan pikiran siswa bisa lebih segar dalam menerima pelajaran di sekolah.

Oleh pemerhati anak, Seto Mulyadi yang akrab disapa Kak Seto, kemudahan bagi siswa untuk bersekolah itu disebutnya sebagai upaya memenuhi hak anak untuk belajar dengan gembira.

"Iya, memenuhi hak anak untuk belajar dengan gembira. Sekolah tidak terlalu jauh lagi, tidak perlu bermacet-macet di jalan," ujar Kak Seto seperti dikutip dari https://www.republika.co.id/berita/ptyyyv284/kak-seto-dambakan-anak-ke-sekolah-bersepeda-ria .

Bahkan, seiring penerapan zonasi, Kak Seto yang juga menjabat sebagai Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) mendambakan anak-anak berangkat sekolah dengan bersepeda ria. Apalagi, bila transportasi sepeda kayuh digalakkan kembali. Diharapkan, pemandangan siswa bercengkarama di sepanjang jalan menuju sekolah di atas sepeda pancal mereka, bisa kembali muncul.

Ke sekolah bersepeda, minimal anak-anak tidak mager

Setiap orang tua pastinya ingin anaknya bersekolah dengan gembira. Meski, menjadi pertanyaan besar, apakah harapan anak-anak berangkat sekolah dengan bersepeda ria itu bisa terwujud di semua wilayah.

Memang, masih ada beberapa wilayah yang memungkinkan anak-anak berangkat menuju sekolah dengan bersepeda ria. Namun, di beberapa wilayah lainnya, situasi jalanan kini sudah jauh berbeda dengan beberapa tahun lalu.

Ambil contoh di tempat saya. Dulu, ketika duduk di bangku sekolah dasar pada awal 90-an, saya setiap hari menikmati bersekolah dengan bersepeda. Kala itu, jalanan di beberapa kampung di Sidoarjo masih cukup lengang. Di tepi jalan masih tumbuh pohon-pohon randu yang teduh. Selain naik sepeda, berangkat sekolah dengan berjalan kaki pun nikmat rasanya.

Kini, jalanan di kampung saya telah 'disulap' bak jalanan kota. Bukan hanya pohon-pohon randu itu telah lenyap, jumlah kendaraan bermotor dan bermesin yang lalu-lalang setiap pagi, membuat jalanan seperti tidak pernah sepi.

Memang, beberapa siswa masih bersepeda menuju sekolah. Meski jumlahnya tidak sebanyak dulu. Dan, mereka juga harus ekstra waspada. Karena memang, jalanan di kampung tidak memiliki lajur khusus untuk sepeda. Karenanya, tidak ada lagi cerita bersenda gurau dan bersepeda berjajar di jalan seperti dulu.

Toh, meski begitu, minimal anak-anak bisa mendapatkan manfaat dari bersepeda menuju sekolah. Dengan bersepeda, badan mereka akan bergerak dibandingkan sekadar duduk manis di dalam mobil antar jemput ataupun diantar orang tua dengan sepeda motor.

Bukankah aktivitas bergerak ini kini menjadi 'barang mahal' ketika banyak anak sekarang senang mager alias malas gerak karena kecanduan gawai?

Terkait mager ini, tahun ajaran lalu, saya acapkali merasa kasihan dengan anak-anak yang berangkat ke sekolah dengan mobil jemputan. Kebetulan, setiap pagi (tentunya kecuali hari libur), mereka melintas di depan rumah karena menjemput salah seorang anak tetangga saya.

Pagi sekali, sekitar pukul 06.15, mobil jemputan sudah tiba di depan rumah tetangga saya. Ketika anak tetangga saya itu belum siap, sopir mobil tersebut akan membunyikan klakson. Tidak jarang, murid-murid yang berada di dalam mobil berteriak memanggil nama anak tersebut.

Saya jadi berpikir, bila sepagi itu sudah tiba di perumahan saya, bagaimana dengan anak-anak yang sudah di dalam mobil itu. Entah mereka dijemput jam berapa dari rumahnya. Karenanya, tidak jarang, saya melihat anak-anak itu, tertidur di dalam mobil. Mungkin memang masih mengantuk.

Tetapi memang, cerita anak berangkat ke sekolah itu rupa-rupa warnanya. Ada peran keputusan masing-masing orang tua. Apakah mereka 'menyerahkan' anak-anaknya kepada mobil jemputan, memilih mengantarnya sendiri. 

Ataukah, memberikan kesempatan anak-anaknya untuk bersepeda menuju sekolah. Karenanya, dengan sistem zonasi, tidak ada salahnya berharap agar anak-anak bisa merasakan pagi yang lebih gembira menuju sekolah.

Ah ya, perihal pro-kontra penerapan zonasi di masyarakat, tentu saja itu menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk segera mengimbanginya dengan percepatan langkah pemerataan pendidikan. 

Tidak hanya itu, kita sebagai orang tua juga perlu untuk melihat kembali kedekatan kita dengan anak. Jangan-jangan, selama ini kita hanya merasa perlu mencarikan mereka sekolah. Lantas, setelah mereka bersekolah, kita tidak pernah lagi tahu apa yang mereka alami di sekolah karena sibuk urusan pekerjaan. Salam.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN