Mohon tunggu...
Hadi Santoso
Hadi Santoso Mohon Tunggu... Bekerja Menulis

Pemungut kisah dari lapangan. Pewawancara. Pernah sewindu bekerja di 'pabrik koran'. The Headliners Kompasianival 2019. Nominee 'Best in Specific Interest' Kompasianival 2018. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Kisahuntukramadan Pilihan

Kita dan Tantangan Merawat "Warisan" Ramadan

7 Juni 2019   15:48 Diperbarui: 7 Juni 2019   15:55 42 6 2 Mohon Tunggu...

Dalam sebuah riwayat yang sering disampaikan para ustadz dalam tausiyahnya, dikisahkan bahwa Rasulullah Muhammad SAW pernah dicurhati oleh seorang laki-laki fasik--orang yang gemar melakukan perbuatan dosa. Laki-laki fasik itu menyampaikan kepada nabi bahwa dirinya ingin bertobat. Dia lalu bertanya tentang amalan apakah yang harus dilakukannya.

Mendapati pertanyaan tersebut, Rasulullah memberikan "tips sederhana" bila ingin berhenti bermaksiat. Rasulullah memintanya untuk tidak berbohong. 

Mendengar jawaban Rasulullah tersebut, laki-laki itu langsung menyanggupi karena merasa syarat tersebut mudah saja untuk dilakukan. Dalam hati dia bergumam: "kalau untuk tidak berbohong saja, apa susahnya".

Setelah berpisah dengan Rasulullah, laki-laki itu kemudian mendapati beberapa situasi yang menggodanya untuk bermaksiat. Namun, setiap hendak berbuat dosa, dia teringat pesan Rasulullah untuk tidak berbohong.

"Bagaimana nanti kalau saya bertemu Rasul dan ditanya apakah sudah berhenti bermaksiat, padahal saya sudah berjanji untuk tidak berbohong," pikirnya.

Dia pun urung melakukan maksiat. Di kesempatan berikutnya, situasinya juga kembali seperti itu. Setiap kali tergoda berbuat dosa, dia teringat pesan Rasulullah dan tak jadi melakukannya. Hingga akhirnya dia pun berhenti bermaksiat.

Lantas, ketika kembali bertemu Rasulullah, dia menceritakan apa yang dialaminya. Dia tersadar betapa 'syarat' dari Rasulullah untuk tidak berbohong itu ternyata 'kuncinya' bertobat. 

Sebab, setiap kali ingin berbuat dosa, dia seperti memiliki rem yang mencegahnya. Dia juga merasa malu bila kembali bertemu Rasulullah tetapi masih belum berubah.

Ramadan mewariskan sikap merasa malu dan merasa diawasi

Kisah laki-laki fasik yang akhirnya bertobat karena tidak mau berbohong bila tidak bermaksiat itu selaras dengan semangat yang diwariskan Ramadan kepada kita. 

Bukankah selama berpuasa Ramadan, kita juga memiliki "rem" yang mencegah kita berbuat dosa karena merasa diawasi oleh Yang Maha Melihat. Jangankan berbuat dosa, perbuatan halal tetapi bisa membatalkan puasa, kita pun enggan melakukannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x