Mohon tunggu...
Hadi Santoso
Hadi Santoso Mohon Tunggu... Tukang Nulis

Pemungut kisah dari lapangan. Pernah bekerja di "pabrik koran". Nominasi kategori 'Best in Specific Interest' Kompasianival 2018. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Lucas Moura, Pemain "Buangan" Pencipta All English Final di Liga Champions

9 Mei 2019   08:58 Diperbarui: 9 Mei 2019   11:48 0 3 2 Mohon Tunggu...
Lucas Moura, Pemain "Buangan" Pencipta All English Final di Liga Champions
Lucas Moura, membawa Spurs ke final untuk menghadapi Liverpool/Foto: twitter Champions League


Tepat kiranya bila menggambarkan jarak antara kegembiraan dan kesedihan itu sangat dekat. Sekatnya sangat tipis. Terlebih di lapangan sepak bola. Tim yang bergembira ria di babak pertama, bisa menangis menggelepar di akhir babak kedua. Bahwa nasib dalam sepak bola bisa berbalik sangat cepat, seperti halnya wahana roller coaster yang naik turun.

Kenyataan nasib bak roller coaster yang bisa berubah cepat seperti itulah yang terjadi di Amsterdam Arena, Kamis (9/5) dini hari tadi. Ketika tuan rumah Ajax Amsterdam dipecundangi tamunya, Tottenham Hotspur di semifinal leg II Liga Champions.

Bayangkan, di menit kelima tambahan waktu di akhir babak kedua, skor pertandingan masih 2-2. Bila seperti itu, Ajax-lah yang akan lolos ke final untuk kali pertama sejak 1996 silam. Sebelumnya, di leg I, Ajax menang 1-0 di London. Ajax hanya berjarak sekitar satu menit dari kepastian ke final.

Namun, yang terjadi kemudian, di menit ke-96, serangan Tottenham berlangsung cepat. Bola jatuh di kaki Dele Ali yang berdiri di depan garis kotak penalti. Alli lantas menyodorkan bola ke Lucas Moura yang tengah berlari dan meski dijepit dua pemain Ajax, lantas menendang bola ke pojok kiri gawang. Gol.  

Maka, berhamburanlah pemain-pemain Spurs merayakan gol bersejarah itu. Pelatih Spurs, Mauricio Pocchettino yang berada di seberang lapangan, berteriak histeris sembari berangkulan dengan staf dan pemainnya. 

Sementara pemandangan yang bikin sedih terlihat ketika pemain-pemain Ajax membujur lemas di lapangan, seperti tak percaya dengan kenyataan pahit yang mereka alami. Final yang sudah berada di depan mata, musnah dalam hitungan detik. Beberapa fans Ajax yang disorot kamera juga terlihat sangat terpukul dengan mata sembab.

Selebrasi tim Tottenham Hotspur usai lolos ke final/Foto: Twitter Champions League
Selebrasi tim Tottenham Hotspur usai lolos ke final/Foto: Twitter Champions League
Setelah itu, ketika bola diletakkan di tengah, sepuluh pemain Ajax berada di garis tengah sembari berharap bisa menyamakan skor dengan sedikit waktu yang tersisa. Namun, harapan itu kandas. Wasit Felix Brych dari Jerman meniup peluit akhir.

Laga pun berakhir dengan kemenangan 3-2 untuk Spurs. Artinya, agregat gol menjadi sama 3-3. Namun, Spurs yang lolos ke final dengan aturan gol away karena mencetak lebih banyak gol di kandang lawan dibandingkan Ajax.

Padahal, Ajax mengawali laga dengan sempurna. Di babak pertama, mereka unggul 2-0 lewat Matthijs de Light di menit kelima dan Hakim Ziyech di menit ke-35. Artinya, Ajax sempat unggul agregat 3-0.

Namun, Spurs rupanya belum menyerah. Tim London ini rupanya tidak mau kalah dengan semangat besar yang diperlihatkan tim Inggris lainnya, Liverpool yang berhasil come back kekalahan 0-3 dari Barcelona di semifinal hari sebelumnya.

Di awal babak kedua, Pocchettino memasukkan striker tua, Fernando Llorente. Artinya, Spurs bermain dengan penyerang setelah sebelumnya hanya menempatkan Lucas Moura sebagai "false nine" alias penyerang palsu. Moura sendiri digeser ke sayap kanan sementara Son Heung-Min di sisi kiri.

Hasilnya sungguh dasyat. Spurs bermain menekan. Hanya dalam empat menit, Spurs menyamakan skor lewat dua gol Lucas Moura di menit ke-55 dan 59. Kehadiran Llorente dan penampilan mobile Son yang absen di laga pertama, membuat pertahanan Ajax kerepotan dan seolah gagap menghentikan kecepatan lari Moura.  

Sampai di sini, Ajax yang sebelumnya menyingkirkan Juventus dan Real Madrid, meresponsnya dengan melakukan serangan balik. Di akhir babak pertama, Ajax nyaris membuat laga game over ketika sepakan Dusan Tadic membentur tiang gawang. Hingga akhirnya, momen gol Moura di masa akhir menjadi happy ending bagi Spurs dan bitter ending bagi Ajax. Tottenham lolos ke final Liga Champions untuk kali pertama.

Lucas Moura, terbuang dari PSG, melambung di Spurs

Ajax seperti kembali mengalami 'demam panggung' ketika bermain di kandang sendiri. Faktanya, dari tiga laga home di babak knock out, mereka gagal menang. Sebelumnya kalah 1-2 dari Real Madrid dan ditahan Juve 1-1. Bedanya, bila di dua laga sebelumnya, mereka bisa move on, kali ini mereka tersingkir.

Dan, Lucas Moura-lah yang mengirimkan tangis kepada pemain-pemain Ajax. Pemain Brasil yang di laga semifinal pertama seperti tertidur di lapangan karena minim kontribusi ini, justru 'meledak; di Amsterdam Arena.

Siapa Lucas Moura?

Sebagai pemain Brasil, Moura bukanlah nama baru di panggung sepak bola Eropa. Pertengahan tahun 2012 lalu, klub kaya Prancis, Paris Saint-Germain memboyongnya. PSG terpikat dengan penampilan bagusnya di klub Sao Paulo ketika dia menjadi pencetak gol sekaligus pengumpan handal di Liga Brasil (mencetak 13 gol dan 8 assist di tahun 2011).

Kala itu, Moura jadi buruan. PSG memenangi persaingan dengan Manchester United dan Inter Milan yang juga dikabarkan berminat mendatangkan pemain kelahiran 13 Agustus 1992 ini. PSG lantas mengumumkan bahwa Moura akan pindah ke Paris pada Januari 2013. 

Di musim pertamanya di Eropa, Moura mencatat 15 penampilan di semua ajang dan belum mampu mencetak gol. Dia baru panas di musim penuh pertamanya, 2013/14. Moura yang mendapat jersey nomor 7, sempat menjadi andalan PSG. Moura yang memiliki kelebihan dalam kecepatan berlari dan skill olah bola layaknya pemain Brasil, ikut berperan dalam sukses PSG meraih gelar Liga Prancis empat tahun beruntun (musim 2013-2016).

Namun, hidup memang berbuah cepat. Pasca kedatangan rekan senegaranya, Neymar Jr, situasi di PSG menjadi sulit bagi Moura. Posisi Moura tergusur dari tim inti. Bila dimusim 2016/17, dia bermain 37 kali di liga, tetapi di musim 2017/18 dia hanya bermain 6 kali, itupun sebagai cadangan.

Fakta itu menjadi pesan jelas, bahwa Moura tak lagi dibutuhkan PSG seiring kehadiran Neymar plus Kylian Mbappe dan Edinson Cavani. Maka, musim itupun menjadi periode terakhirnya di PSG. Pada sesi transfer Januari 2018, Moura pun pamitan. Dia pindah ke London, bergabung dengan Tottenham dengan harapan memperbaiki kariernya yang mulai berantakan di Paris.

Separoh musim 2017/18 lalu menjadi periode adaptasi baginya untuk mengenal sepak bola Inggris. Baru di musim 2018/19 ini, Moura yang berusia 26 tahun, memperlihatkan bahwa dirinya belum habis. Moura jadi salah satu pemain kesayangan Mauricio Pochhettino.

Liga Inggris yang memang cocok dengan gaya bermainnya dengan mengandalkan kecepatan, bak seperti taman bermain yang menyenangkan. Dia langsung nyetel di awal musim 2018/19. Moura pernah jadi pemain terbaik Liga Inggris periode Agustus 2018. Moura bermain 31 kali dengan mencetak 10 gol.

Sementara di Liga Champions, dari 11 penampilan, dia sudah mengemas lima gol. Termasuk tiga gol bersejarah ke gawang Ajax pada semifinal dini hari tadi. Bersejarah karena hat-trick tersebut membawa Tottenham ke final Liga Champions untuk kali pertama dalam sejarah klub.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2