Mohon tunggu...
Hadi Santoso
Hadi Santoso Mohon Tunggu... Penulis

Pemungut kisah dari lapangan. Pernah bekerja di "pabrik koran". Nominasi kategori 'Best in Specific Interest' Kompasianival 2018. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Pilihan

Di Bangkok , Fitriani dan Firman Menjawab Perundungan "Warganet Nakal"

11 Januari 2019   14:47 Diperbarui: 11 Januari 2019   15:39 0 3 2 Mohon Tunggu...
Di Bangkok , Fitriani dan Firman Menjawab Perundungan "Warganet Nakal"
Firman Abdul Kholik, tampil bagus di Thailand Masters 2019/Foto: Warta Kota Tribunnews

Fitriani dan Firman Abdul Kholik. Sebuah kebetulan bila dua pebulutangkis yang memiliki awalan nama huruf F ini memiliki alur nasib yang hampir mirip. Keduanya punya potensi, tetapi belum mampu 'meledak' layaknya tokoh rekaan Marvel, Dr Bruce Banner yang berubah menjadi Hulk ketika marah.

Karena ketidakmampuan (belum mampu) 'meledak' itulah, nama Fitri dan Firman di kalah tenar dari rekan mereka di Pelatnas PBSI. Fitri yang kini berusia 20 tahun, kalah tenar dari Gregoria Mariska Tunjung (19 tahun).

Sementara Firman (21 tahun), jelas kalah ngetop dari Anthony Sinisuka Ginting (22 tahun) dan Jonatan Christie (21 tahun) meski usia mereka sepantaran.

Apesnya lagi, Fitri dan Firman seringkali jadi sasaran perundungan (bullying) warganet di media sosial. Ketika Fitri dan Firman tampil di turnamen lantas gagal meraih hasil bagus, jadilah mereka korban caci maki warganet. Tentunya warganet yang tidak paham caranya mengapresiasi perjuangan atlet. Anggap saja mereka warganet nakal. Sebab, masih ada banyak warganet baik yang mendukung dan terus memotivasi mereka.

Saya pernah iseng membaca beberapa komentar perundungan warganet 'nakal' tersebut di beberapa akun Instagram yang setia mengabarkan kabar terbaru bulutangkis. Beberapa komentar sungguh parah. Bukan lagi pada porsi memberi masukan ataupun mengkritik, tetapi sudah merundung.

Semoga saja Firman dan Fitri tidak seperti saya yang iseng membaca komentar-komentar tersebut. Khawatirnya mental mereka jadi drop. Dulu ketika Susy Susanti, Yuni Kartika dan Mia Audina masih muda, palingan hanya mendapatkan gemblengan tegas dan disiplin dari pelatihnya. Kini, siapapun warganet yang mungkin untuk melakukan servis yang benar saja tidak bisa, malah berlagak jadi pelatih paling cerewet di dunia maya dengan sok-sokan mengomentari gaya permainan dan segala macam.  

Tetapi memang, warganet jahil itu seperti punya 'amunisi baru' untuk merundung Fitri dan Firman. Penyebabnya keduanya memang masih tampil labil di tahun 2018 lalu.

Ketika Gregoria Mariska tampil mengejutkan dengan beberapa kali mengalahkan pemain top dunia di turnamen BWF World Tour dan juara Finnish Open--turnamen level International Challenge, Fitriani yang kali terakhir juara pada 2016 lalu, belum mampu tampil di final.

Begitu juga dengan Firman. Ketika Jojo dan Ginting sudah masuk dalam persaingan tunggal putra elit dunia, dia masih berkutat 'dengan dunianya'. Sempat menjadi perhatian saat ikut membawa tim putra Indonesia jadi juara di Badminton Asia Team Championship (BATC) di Malaysia pada Februari 2018 silam, Firman justru tak mampu tampil bagus di turnamen perorangan. Sepanjang tahun 2018, jangankan masuk final, Firman malah lebih sering tersingkir di babak-babak awal.

Karenanya, jelang akhir tahun, tidak sedikit warganet yang menyuarakan agar keduanya didegradasi dari Pelatnas PBSI. Meski, ada banyak warganet yang berharap Fitri tetap dipertahankan di Pelatnas sebagai lawan tanding Gregoria selama latihan.

Dan, kita tahu, PBSI masih sayang dengan Fitri dan Firman. Masih ada cinta untuk Fitri dan Firman. Keduanya tidak didegradasi. Keduanya masih masuk dalam Pelatnas tahun 2019. Usia yang masih muda sepertinya menjadi salah satu pertimbangan.

Memang, Firman diturunkan statusnya menjadi "magang" dari predikat "utama" di tahun 2018 lalu. Posisinya sebagai pemain utama di Pelatnas kini diisi oleh juniornya, Ikhsan Leonardo Rumbay dan Chico Aura Dwi Wardoyo. Toh, dia masih mendapatkan kesempatan.

Malah, Fitriani dimasukkan dalam salah satu dari tiga tunggal putri (bersama Gregoria dan Ruselli Hartawan) yang diproyeksikan berjuang merebut tiket lolos ke Olimpiade 2020. Status itu tentunya diharapan membuat Fitriani merasa punya tanggung jawab lebih untuk tampil bagus.

Fitri dan Firman tampil keren di Thailand Masters 2019

Karenanya, turnamen Thailand Masters yang digelar di Bangkok, mulai 8 Januari hingga 13 Januari 2019, menjadi panggung pertama untuk menilai Fitri dan Firman. Yang terjadi, Fitri dan Firman rupanya bertekad menjadi "pemain baru" di tahun baru. Pemain baru yang memiliki semangat baru.

Dan, lihatlah, dua pemain yang tahun lalu acapkali menjadi korban perundungan di media sosial oleh suporter yang entah karena saking fanatiknya atau tidak tahu cara mendukung yang benar, mampu tampil hebat di Thailand Masters. 

Mereka seperti ingin menunjukkan bahwa mereka memang layak mendapat kesempatan dari PBSI untuk mengharumkan bangsa di lapangan bulutangkis. Mereka seperti ingin memberi pesan kepada para perundungnya selama ini.

Fitriani mengawali tahun dengan keren di Bangkok/Foto: PBSI
Fitriani mengawali tahun dengan keren di Bangkok/Foto: PBSI
Tadi malam, Fitriani berhasil membuktikan bahwa prediksi di atas kertas bukan segalanya ketika dia menghadapi pemain tuan rumah yang merupakan unggulan 1, Nitchaon Jindapol.

Di atas kertas, Jindapol menang di banyak aspek. Dia merupakan juara bertahan. Di usianya yang sudah 27 tahun, dia lebih berpengalaman. Rangking dunianya juga lebih bagus (rangking 14 berbanding rangking 33). Apalagi, dia bermain di depan suporternya sendiri.

Namun, Fitriani rupanya punya 'skenario' lain. Fitriani membuktikan, perjuangan di lapangan-lah penentunya. Di pertemuan pertama mereka di BWF World Tour, Fitriani tidak mau kalah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2