Hadi Santoso
Hadi Santoso menulis dan mengakrabi sepak bola

Menulis untuk berbagi kabar baik. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Menangkap Pelajaran dari Menjuri Lomba Menulis

7 Desember 2018   11:17 Diperbarui: 7 Desember 2018   12:25 189 7 3

Apa hal ataupun kabar yang paling sampean (Anda) tunggu dari Kompasiana?

Apakah kabar dari penulis favorit di Kompasiana yang tulisannya setiap hari ditunggu-tunggu tetapi dalam beberapa hari lha kok tidak mem-posting tulisan.

Apakah penasaran menunggu nama sampean masuk atau tidak dalam daftar peraih K-Rewards yang diumumkan pada awal bulan setelah sebulan aktif memposting tulisan dan wara-wiri di 'rumah' tetangga di Kompasianer untuk berbagai pesan dan komentar?

Ataukah menunggu sembari berharap ada gelaran blog competition baru d Kompasiana yang berarti ada hadiah yang bisa diraih? Atau malah, tidak sabar menunggu pengumuman pemenang blog competition yang Anda ikuti tetapi belum juga ketahuan siapa juaranya?

Ah, setiap dari kita rasanya punya cerita dan jawaban berbeda dalam menyikapi pertanyaan apa hal yang paling ditunggu dari Kompasiana? Namun, saya tergoda untuk menulis perihal blog competition yang hampir setiap bulan menantang para Kompasianer untuk menulis tema yang sudah ditentukan. Tentunya dengan iming-iming hadiah menarik.

Nah, perihal lomba menulis ini, sebenarnya, lebih menarik mana, menjadi peserta lomba menulis atau menjadi juri yang menilai tulisan para peserta lomba menulis? Tanpa harus memilih, mudah untuk menjawab  kedua-duanya menarik.

Perihal lomba menulis, kebetulan, pekan kemarin saya dipercaya untuk menjadi salah satu juri blog competition yang digelar oleh instansi pemerintahan di Surabaya. Tema lomba menulis yang diusung tentang jelajah cagar budaya di Surabaya. Pesertanya lumayan banyak. Jumlah blogger yang berpartisipasi di lomba dengan tema ini bahkan jauh lebih banyak dari lomba serupa dengan tema berbeda yang digelar sebelumnya.

 Dalam beberapa kali kesempatan menjuri sebelumnya, saya yang 'mantan pekerja pabrik koran' ini biasanya dipasangkan dengan kawan-kawan dari jurnalis media cetak ataupun online yang masih aktif.

Kali ini, saya mendapatkan sebuah kehormatan. Saya yang tukang nulis kelas biasa ini menjuri bersama dua orang top. Satunya founder Good News From Indonesia, Akhyari Hananto yang kini sibuk luar biasa sebagai pembicara perihal media sosial dan generasi milenial di berbagai kota di Indonesia. Dan juri satunya, tokoh tata kota di Surabaya, Prof Johan Silas.   

Lalu, apa sih enaknya menjadi juri lomba menulis? Ada banyak pelajaran yang saya peroleh. Pelajaran yang cukup penting dalam menambah wawasan saya yang penasaran dan merasa tertantang untuk ikut menulis ketika ada lomba menulis. Karena bernilai penting itulah, tulisan ini coba saya bagikan di sini.

Tahu 'poin-poin yang' dinilai Juri

Dalam setiap lomba menulis, tentunya ada poin-poin utama yang menjadi dasar penilaian bagi para juri. Ada panitia yang terang-terangan mencantumkan poin tersebut agar diketahui para peserta lomba. Ada yang sekadar menuliskan syarat-syarat yang harus dipenuhi peserta. Termasuk durasi lomba dan hadiahnya.

Merujuk hal itu, dalam menilai sebuah karya, juri sejatinya sudah punya 'aturan main' yang harus dipatuhi. Tentu saja setiap juri memiliki 'selera' terhadap tulisan. Namun, selera itu tidak subyektif. Tetapi sudah dipandu oleh aturan main itu tadi. Jadi tidak benar bahwa untuk menang dalam lomba menulis, kita harus tahu selera juri lebih dulu. Yang benar adalah perhatikan panduan tentang poin-poin  apa saja yang dinilai dari tulisan.

Semisal untuk tema Jelajah Cagar Budaya Surabaya, bagi saya, tema ini sejatinya tidak sulit. Kenapa? Sebab, ketika kita masuk dalam mesin pencari dan menuliskan kata kunci "cagar budaya di Surabaya", kita akan dengan mudah mendapatkan beragam informasi. Itu sejatinya menjadi pesan penting bagi penulis.

Bahwa, dalam menghasilkan tulisan perihal tema ini, buatlah cerita yang berbeda alias harus lepas dari informasi mainstream yang selama ini ada dan dikemas secara mendalam. Kedalaman substansi tulisan dan juga kreativitas penulis dalam memilih angle tulisan, plus cerita yang mengalir inilah yang menjadi poin utama.

Tentunya juga dilengkapi dengan foto-foto keren tentang cagar budaya yang ada. Sebab, yang dinilai bukan hanya substansi tulisan, tetapi juga tampilan keseluruhan dari tulisan. Umumnya, salah satu poin yang dinilai dalam lomba blog adalah kemenarikan desain blog.

Pahami tema lomba

Hal yang juga penting untuk diperhatikan adalah memahami tema lomba menulis yang dilombakan. Jangan sampai salah memahami tema yang bisa berujung tulisan yang kita hasilkan malah melenceng dari tema yang diinginkan panitia lomba.

Seperti lomba blog yang saya juri kemarin, ada beberapa peserta yang rupanya keliru dalam memahami tema lomba. Kata "jelajah cagar budaya" tersebut rupanya dipahami secara beragam. Ada yang memahami makna jelajah ya menjelajah dari satu tempat ke tempat lainnya.

Sehingga, tulisan yang dihasilkan pun menjelajahi beberapa lokasi alias menampilkan beberapa cagar budaya dalam tulisan. Sayangnya, narasi yang dibuat untuk menjelasan satu demi satu cagar budaya yang diulas, sama sekali tidak kuat. Malah terkesan dangkal.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2