Hadi Santoso
Hadi Santoso menulis dan mengakrabi sepak bola

Menulis untuk berbagi kabar baik. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Artikel Utama

PR dari Hong Kong yang Perlu Segera Diberesi PBSI

20 November 2018   09:00 Diperbarui: 20 November 2018   11:23 1962 11 8
PR dari Hong Kong yang Perlu Segera Diberesi PBSI
Jonatan Christie, bisa mengambil pelajaran dari Hongkong Open 2018/Foto: WartaKota

Turnamen bulutangkis Hongkong Open 2018 yang berakhir Minggu (18/11/2018) kemarin, menyisakan beberapa pekerjaan rumah (PR) bagi Persatuan Bulutangkis Indonesia (PBSI). 

PR yang muncul merujuk dari hasil yang dicapai mayoritas pemain Indonesia di turnamen BWF World Tour level Super 500 tersebut. PR yang tentunya perlu untuk disikapi demi kemajuan bulutangkis Indonesia.

Bila boleh ikut memberikan nilai rapor dari penampilan pemain-pemain Indonesia, hanya ganda putra yang menurut saya layak mendapatkan nilai paling keren. Kita tahu, ganda putra berhasil meloloskan tiga wakil di babak semifinal dan menghasilkan Marcus Gideon/Kevin Sanjaya sebagai juara. Dua pasangan lainnya, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan dan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto terhenti di semifinal.

Untuk kesekian kalinya, Marcus/Kevin menjadi satu-satunya pemain Indonesia yang meraih gelar. Pasangan yang oleh fans mereka dijuluki Duo Minions ini berhasil meraih gelar kedelapan mereka di turnamen BWF World Tour tahun ini. Bila ditambah gelar juara/medali emas nomor perorangan di Asian Games 2018 lalu, mereka kini sudah sembilan kali naik podium tertinggi juara.

Sementara bagi Hendra Setiawan/Ahsan, bisa maju ke semifinal dalam dua turnamen beruntun (di pekan sebelumnya mereka tampil di semifinal Fuzhou China Open 2018), membuktikan bahwa di usia yang tidak lagi muda, pasangan juara dunia 2013 dan 2015 ini masih bisa bersain dengan ganda putra elit dunia saat ini. Di semifinal Hongkong Open 2018, Hendra/Ahsan kalah rubber game dari Marcus/Kevin lewat pertarungan seru yang seolah mereka "beda negara".

Bagaimana Fajar/Rian? Pencapaian semifinal di Hongkong Open 2018 (dikalahkan ganda Jepang, Takeshi Kamura/Keigo Sonoda) terbilang bagus. Fajar/Rian seperti ingin menunjukkan bahwa mereka masih ada.  Maklum, selepas tampil di final Asian Games 2018, penampilan mereka seperti menurun. 

Mereka tidak pernah mampu masuk final turnamen BWF. Bahkan, di Fuzhiu China Open Super 750 pada awal November lalu, mereka langsung terhenti di babak pertama.

Bagaimana sektor lainnya?

Pertanyaan ini cukup dijawab singkat dengan kata "de javu". Ya, penampilan pemain-pemain Indonesia di sektor tungal putra/putri, ganda putri dan ganda camppuran, seperti mengulang hasil yang pernah dicapai sebelum-sebelumnnya.

Di tunggal putra, dari empat pemain Indonesia yang tampil, dua pemain langsung terhenti di babak pertama, yakni Tommy Sugiarto dan Ihsan Maulana Mustofa. Sementara Jonatan Christie memenangi duel dengan Anthony Ginting di round 2. Sayangnya, Jonatan seperti tak berdaya saat jumpa Kento Momota di perempat final. Dia kalah rubber game 24-22, 9-21, 9-21. Tommy dan Ihsan pun juga kalah rubber game.

Apa artinya? Bila pemain bulutangkis kalah di game ketiga, paling mudah untuk menarik kesimpulan bahwa kondisi fisik mereka tidak siap untuk melakoni pertandingan dengan durasi panjang yang melelahkan. Bila kondisi fisik drop, tentunya apa yang direncanakan dalam pikiran, tidak dapat berjalan sesuai yang diinginkan. Plus, fighting spirit yang tentunya tidak lagi menyala-nyala.

Ambil contoh Jonatan, dia harus memeras keringat selama 1 jam 4 menit saat melawan Momota. Dan, berada di lapangan selama 1 jam lebih dengan menghadapi pemain seperti Momota yang memiliki pola serangan 'menyebalkan' dan pertahanan mengagumkan, tentu saja akan membuat lawannya frustrasi.  

Dikutip dari badmintonindonesia.org, Jonatan menyebut di  game pertama sebenarnya dirinya bisa menikmati permainan. Sayangnya, saat poin 20-15, Jonatan tak mampu segera menyelesaikan laga. Malah dia dipaksa empat kali melewati setting point sebelum menang 24-22. 

"Memang disayangkan saat poin 20-15 harusnya bisa game dan hemat tenaga. Di game kedua Momota banyak mengarahkan bola yang menyulitkan saya, akurasi penempatannya bagus. Ini membuat tenaga saya cukup terkuras," kata Jonatan usai pertandingan.

"Hal yang sama terjadi di game ketiga, dia lebih fokus dan akurasi bolanya tepat hingga di sudut lapangan. Dari sebelumnya sudah tahu bahwa Momota memang matang pukulannya dan saya dikontrol oleh dia, sehingga fisik saya memang dua kali lipat lebih keluar," sambung dia.

Sementara di tunggal putri, tanpa adanya Gregoria Mariska Tunjung yang cedera dan juga Fitriani, ceritanya bisa ditebak. Dua pemain Indonesia, Ruselli Hartawan dan Dinar Dyah Ayustine yang mengawali turnamen dari babak kualifikasi, hanya mampu bertahan hingga putaran pertama. Ini bak cerita ulangan yang seringkali terjadi di turnamen BWF tahun ini. Kecuali kisah Gregoria Mariska yang beberapa kali mampu menciptakan kejutan dashyat.

Di ganda putri, untuk kesekian kalinya, pasangan Greysia Polii/Apriyani Rahayu lagi-lagi harus terhenti di semifinal. Entah ini sudah yang keberapa kali, mereka terhenti di babak semifinal. Di Kejuaraan Dunia 2018, di Asian Games 2018, di Denmark Open 2018, di China Open 2018, di Japan Open 2018.

Dan sampean (Anda) tahu, dari semua kekalahan di semifinal yang dialami Greysia/Apriyani yang saya sebutkan di atas, semuanya terjadi gara-gara ganda putri Jepang. Di Hongkong Open, Greysia/Apriyani kalah dari ganda putri nomor 1 dunia, Yuki Fukushima/Sayaka Hirota seperti halnya di Japan Open dan Denmark Open 2018. 

Lalu, merek kalah dari ganda putri peraih medali emas Olimpiade 2016, Misaki Matsutomo di semifinal Asian Games dan China Open. Dan di kejuaraan Dunia, Greysia/Polii takluk dari Mayu Matsumoto/Wakana Nagaraha.

Tidak hanya Greysia/Polii, pasangan Rizki Amelia Pradipta/Della Destiara Haris juga takluk dari Hirota/Fukushima di babak perempat final Hongkong Open 2018.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2