Hadi Santoso
Hadi Santoso menulis dan mengakrabi sepak bola

Menulis untuk berbagi kabar baik. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Artikel Utama

"Formula Rahasia" Marcus/Kevin yang Patut Kita Teladani

12 November 2018   16:08 Diperbarui: 13 November 2018   05:19 2088 10 8
"Formula Rahasia" Marcus/Kevin yang Patut Kita Teladani
Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon | Ilustrasi: badmintonindonesia.org

Adakah sebuah formula rahasia untuk menghasilkan seorang pemenang di lapangan olahraga, khususnya di lapangan bulutangkis?

Dari laga final turnamen bulu tangkis BWF World Tour Super 750, Fuzhou China Open 2018 yang berakhir Minggu (11/11/2018) tadi malam, kita jadi tahu bahwa formula rahasia itu sejatinya tidak ada.

Persis seperti percakapan Master Shifu dan Tai Lung di film Kungfu Panda yang sungguh mengena itu. Bahwa sebenarnya tidak ada mantra rahasia. Kita sendirilah yang bisa membuat biasa menjadi istimewa.

Pasangan ganda putra Indonesia, Marcus Gideon/Kevin Sanjaya yang tampil sebagai juara usai mengalahkan ganda Tiongkok He Jiting/Tan Qiang, seperti mengirim pesan jelas kepada kita, termasuk kepada rekan-rekan seprofesinya, bahwa untuk menjadi juara yang istiqomah itu sejatinya bukan hal supersulit selayaknya mencari jarum dalam tumpukan jerami.

Kita tahu, untuk kesekian kalinya, Marcus/Kevin menjadi penyelamat Indonesia dari malu besar akibat mengakhiri turnamen tanpa gelar. Betapa tidak malu bila sebagai negara papan atas bulutangkis tetapi hanya bisa meraih atlet negara lain naik podium juara di setiap bulan di turnamen BWF. Tapi untunglah itu tidak terjadi.

Monggo googling untuk tahu di turnamen apa saja Marcus/Kevin menjadi satu-satunya pemain Indonesia yang berhasil meraih gelar. Hampir setiap bulan di tahun ini, ganda putra yang dijuluki fansnya sebagai Duo Minions melakukannya untuk Indonesia.

Oktober lalu, mereka jadi satu-satunya kebanggaan Indonesia di Denmark Open. Pun, pada bulan September, mereka melakukannya di Japan Open yang tulisannya saya ulas di "Teladan Marcus/Kevin untuk Pebulutangkis Indonesia".

Sebenarnya, mengapa Marcus/Kevin bisa tampil konsisten ketika pebulutangkis-pebulutangkis Indonesia lainnya masih sulit untuk sekadar menjaga standar penampilan dari turnamen ke turnamen berikutnya?.

Mengapa Marcus/Kevin bisa juara di Fuzhou China Open ketika beberapa pebulutangkis Indonesia rontok di babak awal. Salah satunya ganda putra, Fajar Alfian/M Rian Ardianto yang sejatinya diharapkan bisa melejit setelah tampil di final Asian Games 2018 pada Agustus lalu.

Menurut saya, bukan hanya soal kesiapan fisik dan juga kemampuan teknik. Tentu saja dua hal ini sangat penting. Namun, di lapangan, ketika menghadapi tensi pertandingan yang menguras emosi, ketenangan mental-lah yang menjadi penentu.

Dan, dalam soal ini, Marcus/Kevin adalah "raja"nya. Capaian tujuh gelar juara di turnamen BWF World Tour sepanjang tahun 2018 plus juara/medali emas di Asian Games 2018, jadi bukti tak terdebatkan.

Ada beberapa kelebihan Marcus/Kevin yang menurut saya bisa diadopsi oleh ganda-ganda putra Indonesia, termasuk juga oleh pebulutangkis-pebulutangkis Indonesia pada umumnya. Apa saja?

Mental Tangguh, Tidak mudah menyerah

Juara sejati selalu memiliki mental pemenang. Mental pemenang inilah yang dimiliki oleh Marcus Gideon/Kevin Sanjaya sehingga membuat mereka tidak mudah menyerah.

Pada final Fuzhou China Open 2018, Marcus/Kevin sempat kalah nyesek di game pertama, 25-27 dari He Jiting/Tan Qiang. Kalah dengan skor seperti itu setelah sempat tertinggal 18-20 lalu mengejar dan terjadi enam kali setting point, tentunya bikin baper. Namun, mental mereka seperti tidak terpengaruh.

Di game kedua, mereka berbalik menang 21-17 untuk melanjutkan pertandingan ke game ketiga. Dan di game penentuan, permainan mereka semakin oke dan akhirnya menang 21-15.

Ini bukan kali pertama, Marcus/Kevin memperlihatkan mental pemenang. Di babak semifinal ketika melawan juara dunia 2017 asal Tiongkok, Zhang Nan/Liu Cheng, mereka juga sempat kalah di game pertama, 17-21. Namun, mereka tidak kehilangan semangat. Mereka lantas berhasil come back dan menang di game kedua dan ketiga untuk lolos ke final.

Cepat Mengevaluasi Kesalahan

Dan, untuk bangkit dari kekalahan di game pertama sehingga kemudian tampil bagus di game berikutnya, tentunya tidak cukup hanya mengandalkan semangat besar. Bila sekadar mengandalkan semangat, lawan pastinya juga lebih bersemangat karena hanya butuh satu game lagi untuk menang.

Namun, selain semangat, dibutuhkan kemampuan cepat untuk memperbaiki kesalahan yang dilakukan di game pertama yang berujung kekalahan. Kemampuan inilah yang dimiliki Marcus/Kevin.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3