Hadi Santoso
Hadi Santoso menulis dan mengakrabi sepak bola

Menulis untuk berbagi kabar baik. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Artikel Utama

Mengapa Pemain-pemain Indonesia "Babak Belur" di Chinese Taipei Open 2018?

6 Oktober 2018   06:52 Diperbarui: 6 Oktober 2018   12:05 3312 8 6
Mengapa Pemain-pemain Indonesia "Babak Belur" di Chinese Taipei Open 2018?
Tunggal putra Indonesia, Ihsan Maulana Mustofa, 'babak belur' di Chinese Taipei Open 2018/Foto: Wartakota Tribunnews

Bulutangkis Indonesia kini seperti memiliki "dua wajah" yang berlawanan. Satu wajah berprestasi dengan seringkali menghadirkan kabar bagus. Sementara satunya akrab dengan kegagalan dan tentu saja menjadi 'lampu kuning' bagi kemajuan bulutangkis Indonesia.

Bila kita melihat pemain-pemain utama seperti pasangan ganda putra Marcus Fernaldi/Kevin Sanjaya atau Greysia Polii/Apriyani Rahayu di ganda putri juga Anthony Sinisuka Ginting, Jonatan Christie dan Gregoria Mariska Tunjung di nomor tunggal, kita seperti melihat wajah dengan masa depan cerah. Mereka bergantian meraih gelar.

Namun, bila melihat penampilan pemain-pemain pelapis yang mayoritas berusia muda, kita seperti disuguhi gambaran sebaliknya. Suram.

Faktanya, sepanjang tahun ini, bila rujukannya hasil, penampilan pemain-pemain pelapis ini belum menunjukkan hasil menggembirakan. Meski sudah ada plotting mereka diturunkan di turnamen BWF World Tour level Super 100 maupun Super 300---sementara pemain utama tampil di level Super 500, 750 dan 1000--tetapi anak-anak muda ini masih sulit berprestasi. Bahkan, mulai muncul wacana tahun depan mereka akan terdegradasi dari Pelatnas.

Fakta terbaru tersaji di turnamen Chinese Taipei Open Super 300 yang digelar mulai 2 Oktober 2018 lalu. Dari 17 pemain Indonesia yang tampil di lima nomor yang dimainkan, Indonesia hanya menyisakan dua pemain yang lolos ke semifinal yang akan dimainkan Sabtu (6/10/2018) hari ini.

Ada apa dengan pemain-pemain pelapis Indonesia? Benarkah mereka masih kesulitan bersaing di level tinggi?

Di tunggal putra, tiga pemain yang dimainkan, Ihsan Maulana Mustofa, Chico Dwi Aurora dan Firman Abul Kholik, belum bisa memberikan hasil mengejutkan seperti halnya Anthony Ginting maupun Jonatan Christie. Firman dan Chico tumbang di putaran kedua.

Sorotan paling tajam mengarah pada Ihsan Maulana Mustofa. Dua pekan lalu, ketika Ihsan menjadi juara Bangka Belitung Indonesia Masters yang merupakan turnamen BWF level Super 100, ada harapan dia akan kembali bersinar seperti beberapa tahun lalu.

Namun, tiga hari berikutnya, dia langsung out di putaran pertama Korea Open 2018--turnamen level 500. Saya menganggap kekalahan Ihsan itu "masih wajar". Sebab, dia kalah dari Chou Tien-chen (CTC), finalis Asian Games 2018 yang akhirnya jadi juara di Korea Open 2018. Meski, terkadang saya berharap Ihsan bisa seperti Ginting yang mampu membuat pemain-pemain unggulan tak berkutik seperti halnya di China Open.   

Nah, ketika Ihsan tampil di Chinese Taipes Open 2018, yang merupakan turnamen level 300, Ihsan seharusnya bisa meraih hasil bagus. Apalagi, dia ditempatkan sebagai unggulan 6 di tunggal putra seiring tidak tampilnya pemain-pemain top dunia.

Yang terjadi, Ihsan malah langsung rontok di putaran pertama. Dia kalah dari pemain Hongkong, Chan Yik Chak yang merupakan pemain kualifikasi. Kok bisa? Ah, mungkin dia kelelahan setelah dalam tiga minggu terakhir terus tampil, dari Bangka Belitung ke Korea lantas ke Taiwan.

Tapi, bukankah turnamen bulutangkis sekarang memang jadwalnya padat. Dalam satu bulan bisa ada tiga, empat bahkan lima turnamen berbeda level. Seharusnya, kondisi fisik pemain tidak lagi kaget dengan jadwal padat itu. Toh, bukankah mereka dimainkan sesuai level turnamennya.

Sejatinya, kalah menang itu memang biasa dalam pertandingan. Namun, terbiasa kalah di first round ataupun babak-babak awal tentunya menjadi hal yang tidak bagus. Terlebih bila kalahnya dari pemain non-unggulan.

Dalam hal ini, Ihsan wajib mencontoh kawan dekatnya, Anthony Ginting yang menurut saya kini menjadi tunggal putra Indonesia paling konsisten. Ginting kini tidak lagi menjadi spesialis kalah di awal. Bahkan, pekan lalu, usai tampil habis-habisan di China Open dan jadi juara usia mengalahkan pemain-pemain top dunia, "baterai" nya tidak langsung drop ketika tampil di Korea Open yang hanya berjarak dua hari dari final China Open. Dia masih bisa melaju ke perempat final sebelum dihentikan CTC.

Tunggal putri juga belum mampu bersaing di turnamen level 300

Hasil tidak menggembirakan juga terjadi di tunggal putri. Tiga tunggal putri yang tampil di Chinese Taipei Open 2018, Dinar Dyah Ayustine dan Fitriani, "babak belur". Padahal, kecuali Tai Tzu-ying yang tampil karena berstatus tuan rumah, tidak ada nama-nama pemain top yang tampil seperti Akane Yamaguchi, Pusarla Sindu, Carolina Marin ataupun Chen Yufei. Tiongkok bahkan tidak mengirimkan pemainnya.

Namun, meski sama-sama menghadapi pemain pelapis dari negara lain, mereka tak berkutik. Dinar langsung out di putaran pertama. Ruselli terhenti di putaran kedua. Keduanya kalah dari pemain yang sama, Pai Yu-po (Taiwan). Hanya Fitriani yang lumayan bisa menembus perempat final.

Meski, dengan kualitas lawan yang dihadapi, seharusnya Fitriani bisa melangkah lebih jauh. Buktinya, tunggal Malaysia se-angkatannya, Soniia Cheah bisa lolos ke semifinal. Fitriani seharusnya bisa memperlihatkan kemajuan seperti yang diperlihatkan Gregoria Mariska Tunjung yang kini sering mengalahkan pemain top dunia.

Mengapa tunggal putri kita sangat kesulitan meraih prestasi bagus meski di turnamen level 100 ataupun 300? 

Entahlah. Untuk saat ini, memang masih seperti begini kualitas tunggal putri kita. Butuh perubahan luar biasa dari segi variasi permainan, kebugaran pemain maupun mental tanding bila ingin mengerja ketertinggalan dengan negara-negara lain. Pun, kalaupun diberlakukan degradasi (dan memang harus), belum terlihat pemain yang benar-benar mencolok untuk masuk ke Pelatnas.  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2