Hadi Santoso
Hadi Santoso menulis dan mengakrabi sepak bola

Menulis untuk berbagi kabar baik. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Agar Anak-anak Tidak Tumbuh Jadi "Pencipta Bohong"

5 Oktober 2018   17:09 Diperbarui: 8 Oktober 2018   04:51 3240 6 4
Agar Anak-anak Tidak Tumbuh Jadi "Pencipta Bohong"
Sumber ilustrasi: sohu.com


"Berbohong itu dosa, perbuatan tercela, dilarang oleh agama".

Begitu salah satu penggalan bait lagu yang sering dinyanyikan anak saya ketika masih TK dulu. Syukurlah, di sekolahnya, selain bermain dan bermain serta belajar berbaur dengan kawan sebayanya, dia juga diajari lagu yang menurut saya inspiratif.

Inspiratif. Karena bermula dari lagu, dia jadi bisa belajar untuk tidak suka berbohong. Dan semoga saja, ketidaksukaannya pada bohong itu terus awet hingga besar kelak. Meski, godaan untuk berbohong itu kini jauh lebih menggoda.

Bila dulu, bohong itu hanya bisa dilakukan oleh mulut yang satu ini, kini, bohong bahkan bisa diproduksi oleh 10 jemari tangan. Bedanya, bohong era kekinian itu punya nama baru yang lebih keren, "hoaks".

Pun, bila dulu, orang berbohong kebanyakan karena untuk membela diri supaya tidak disalahkan atau minimal tidak dihukum berat. Semisal karena terlambat datang ke sekolah ataupun lupa tidak mengerjakan pekerjaan rumah lantas merangkai alasan ke guru.

Atau ketika dulu ada janjian bertemu dengan 'mantan pacar' lalu ternyata terlambat beberapa menit dari jam yang ditentukan, lantas mengarang cerita macet lha, ban motor bocor lha atau apa lha. Itu cerita dulu. Dulu sekali.

Kini, bohong urusannya bukan lagi alasan receh seperti itu. Bohong yang bernama hoaks itu levelnya tingkat tinggi. Urusannya bukan lagi pribadi, tetapi bahkan bisa menyangkut kepentingan negara, Ngeri.   

Tentu saja sulit melawan hoaks. Upaya minimal yang bisa kita lakukan adalah dengan tidak ikut menyebarkan berita bohong itu kepada kerabat maupun kawan. Kalau kata orang-orang hebat itu "saring dulu sebelum sharing". Ya, jangan main share-share saja lantas ketika ditanya benar apa tidak, hanya berucap "nggak tahu, saya dapat dari grup sebelah".

Upaya lainnya, jangan biarkan anak-anak kita kelak juga tumbuh menjadi pencipta berita bohong. Ada banyak upaya yang bisa kita lakukan agar anak-anak 'alergi' pada berita bohong. Bahwa mereka harus dibiasakan untuk tidak berbohong.

Jangan sampai berbohong menjadi kebiasaan yang dibiarkan. Sebab, bila dibiarkan, mungkin sekarang levelnya masih remeh temeh. Namun, bila terbiasa, kualitas berbohongnya bisa naik beberapa derajat. Dan itu berbahaya. Ada beberapa cara yang bisa kiat lakukan untuk menciptakan kondisi agar anak tidak suka berbohong.

Menjelaskan kerugian bila berbohong

Bagi anak-anak, perilaku berbohong terkadang dirasa biasa saja. Tidak sedikit yang melakukannya tanpa tahu apa dampaknya. Bahkan, mereka bisa spontan melakukannya sembari tertawa cengegesan.

Dua anak laki-laki saya yang masih bocah pun terkadang begitu. Semisal tentang hal sepele, ada bungkus snack dibuang sembarangan di dalam rumah. Ketika saya bertanya siapa yang membuang bungkus tersebut dan menyarankan dibuang ditempat sampah, terkadang mereka malah saling tunjuk.

Si kakak spontan berujar "adik yang membuangnya". Tak mau kalah, si adik membalas berujar "kakak". Bila begitu, saya langsung berujar ringan "ya mungkin Boni (kucing di rumah saya) yang makan snacknya lantas membuang bungkus nya sembarangan".

Bila sudah begitu, saya lantas menasehati mereka perihal bohong. Tentang kerugian anak yang suka berbohong. Bahwa, tidak hanya mendapat dosa, anak yang suka berbohong juga tidak punya teman. Karena, teman yang baik tidak akan membohongi temannya. Dan, mereka juga tidak mau dibohongi.

Beri "hadiah" bagi yang berani jujur

Nah, bila anak-anak sudah mulai saling tunjuk dengan menyalahkan satu sama lain karena dirinya tidak ingin disalahkan, cara terbaik mengatasinya adalah "memaksa" mereka jujur.

Untuk memaksa jujur ini, tidak perlu pakai kekerasan, ancaman ataupun ucapan kasar. Itu sama sekali tidak membantu. Kalaupun mereka kali ini mengaku, tidak ada jaminan mereka tidak mengulanginya lagi.

Cara terbaik adalah dengan memaafkan kesalahan mereka. Memaafkan di sini bukan berarti menolelir kesalahan sehingga mereka akan berpikir "ternyata kita tidak apa-apa berbuat salah". Bukan begitu. Tetapi, ini lebih semacam "permainan pikiran".

Karena mereka sejatinya takut bila disalahkan apalagi dimarahi, kita perlu menghilangkan ketakutannya itu dulu. Kita bisa sampaikan bahwa bila tidak berbohong dan mau jujur, tidak akan kena marah ataupun disalahkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2