Mohon tunggu...
Hadi Santoso
Hadi Santoso Mohon Tunggu... Tukang Nulis

Pemungut kisah dari lapangan. Pernah bekerja di "pabrik koran". Nominasi kategori 'Best in Specific Interest' Kompasianival 2018. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Artikel Utama

"Stop Bullying", Satukan Energi Dukung Atlet Indonesia di Asian Games 2018

3 Agustus 2018   11:35 Diperbarui: 4 Agustus 2018   21:19 0 8 7 Mohon Tunggu...
"Stop Bullying", Satukan Energi Dukung Atlet Indonesia di Asian Games 2018
Pebulu tangkis Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (AFP PHOTO / ANDY BUCHANAN)

Kekalahan pahit yang dialami atlet-atlet bulutangkis Indonesia di ajang BWF World Championship 2018 alias Kejuaraan (Bulutangkis) Dunia 2018 yang digelar di Nanjing, Tiongkok, seolah memunculkan kembali "lagu lama".  Lagu lama perihal kebiasaan beberapa suporter yang senang mem-bully atlet-atlet yang tidak meraih hasil sesuai yang diharapkan.

Di Kejuaraan Dunia 2018, atlet-atlet bulutangkis Indonesia memang meraih hasil yang tidak sesuai harapan. Utamanya di sektor tunggal putra dan putri.  Tiga pemain tunggal Indonesia, Jonatan Christie, Anthony Sinisuka Ginting dan Tommy Sugiarto serta dua pemain tunggal putri, Fitriani dan Gregoria Mariska Tunjung, tersisih di babak-babak awal. Malah, Jonatan yang menjadi unggulan, langsung out di pertandingan pertama.

Hasil pahit itu menjadi 'lampu kuning' alias peringatan jelang mereka tampil di Asian Games 2018. Sebab, kecuali Tommy Sugiarto, empat pemain di sektor tunggal putra/putri tersebut akan menjadi tumpuan Indonesia di cabang olahraga (cabor) bulutangkis Asian Games 2018 baik di nomor beregu maupun di nomor perorangan.

Ironisnya, tidak sedikit penggemar bulutangkis Indonesia yang merespons kekalahan atlet-atlet Indonesia tersebut dengan cara salah. Mereka malah mencemooh, memojokkan bahkan mem-bully para atlet ini. 

Rupa-rupa cacian dan bully-an itu bisa dengan mudah ditemui di laman-laman komentar di beberapa akun Instagram yang fokus memberitakan perjuangan pemain Indonesia di Kejuaraan Dunia 2018. Tengok saja, kata-kata tidak pantas yang ditujukan pada atlet-atlet bulutangkis Indonesia, banyak berseliweran di kolom komentar di media sosial. Tidak hanya mencemooh penampilan sang atlet di lapangan, beberapa komentar malah menjurus ke tampilan fisik.

Bahkan, tidak hanya kepada atlet-atlet muda, atlet senior yang kaya prestasi seperti Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir yang sudah meraih medali emas Olimpiade 2016 dan juga juara dunia 2017, juga tidak lepas dari nyinyiran suporter di dunia maya ketika mereka kalah di final Singapore Open 2018 pada pertengahan Juli lalu.

Meski, masih ada warganet yang bijak dalam menyikapi kekalahan para atlet bulutangkis Indonesia dengan menyampaikan kritikan dalam bahasa yang enak dibaca/didengar, bahkan memotivasi sang atlet untuk segera move on dari kekalahan dan segera fokus ke Asian Games.

Apakah bully-an di media sosial itu bisa berpengaruh pada penampilan atlet?

Jangan pernah menyepelekan 'kekuatan' bully-an yang beredar di media sosial. Bully an di media sosial itu sangat mungkin menjadi beban bagi atlet dan berpotensi menjatuhkan mental serta mengikis kepercayaan diri sang atlet ketika turun bertanding. Pada akhirnya, penampilan mereka di lapangan tidak optimal karena pikiran mereka tidak bisa lepas.  

Pasalnya, di era sekarang ini, hampir semua atlet memiliki akun media sosial dan juga mengikuti (follow) akun-akun yang berkaitan dengan informasi cabang olahraga yang digelutinya. Semisal bulutangkis. Kalaupun komentar suporter di akun-akun media sosial tersebut tidak langsung me-mention nama atlet alias ditujukan langsung kepada sang atlet, tetapi bukan tidak mungkin atlet tersebut membaca kolom-kolom komentar di akun-akun bulutangkis tersebut.

Masalahnya, beberapa atlet bulutangkis kita masih berusia sangat muda. Dan usia muda cenderung masih labil emosinya. Contohnya Gregoria Mariska masih berusia 18 tahun, Fitriani masih berusia 19 tahun, Jonatan Christie 20 tahun, Atnhony Ginting 21 tahun.  Dan, tidak semua dari mereka bisa bersikap easy going dan cuek dengan tidak memedulikan semua komentar-komentar orang lain yang mereka dengar. Bagaimana bila sang atlet yang dalam kehidupan sehari-harinya merupakan tipikal introvert (tertutup) kemudian sulit lepas dari bayang-bayang bully-an?  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3