Hadi Santoso
Hadi Santoso menulis dan mengakrabi sepak bola

Menulis untuk berbagi kabar baik. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis

Berkah di Balik "Sold Out-nya" Tiga Tunggal Putri Indonesia di Ronde 1 Malaysia Open 2018

28 Juni 2018   17:05 Diperbarui: 28 Juni 2018   17:42 1057 2 1
Berkah di Balik "Sold Out-nya" Tiga Tunggal Putri Indonesia di Ronde 1 Malaysia Open 2018
Gregoria Mariska Tunjung, mendapat pelajaran usai menghadapi peraih medali emas Olimpaide 2016, Carolina Marin/Foto: badmintonindonesia.org

Kabar itu akhirnya datang juga. Kabar yang tidak diharapkan tetapi memang sepertinya akan terjadi. Kabar apa? Kabar tersingkirnya tiga tunggal putri Indonesia di turnamen bulutangkis Malaysia Open 2018.

Jauh sebelum turnamen dimulai, tiga tunggal putri Indonesia yang tampil di Malaysia Open 2018, Fitriani, Gregoria Mariska Tunjung dan Dinar Dyah Ayustine memang diprediksi bakal "pulang cepat". Sama halnya seperti tim-tim di Piala Dunia 2018 yang sebelum turnamen dimulai sudah dianggap sebagai "tim hore" dan diprediksi bakal pulang cepat karena berada satu grup dengan "para raksasa.  

Betapa tidak, hasil drawing Malaysia Open 2018 menempatkan ketiganya langsung bertemu lawan kelas berat di putaran pertama. Gregoria Mariska bertemu tunggal putri peraih emas Olimpiade 2016 asal Spanyol, Carolina Marin. Dinar bertemu tunggal putri ranking 2 dunia asal Jepang, Akane Yamaguchi. Dan, Fitriani bertemu tunggal putri terbaik Korsel, Sung Ji-hyun. Sungguh drawing yang ngeri.

Sebagai pecinta bulutangkis Indonesia, tentu saja saya berharap adanya kejutan. Siapa tahu salah satu, salah dua atau bahkan ketiga-tiganya berhasil membuat kejutan dengan mengalahkan tiga pemain top itu.

Terlebih, hari pertama Malaysia Open 2018 yang dimulai Selasa (26/6) lalu, langsung memunculkan kejutan dashyat. Diantaranya Chen Long--tunggal putra peraih medali emas Olimpiade 2016 yang harus pulang cepat usai dikalahkan pemuda Thailand berusia 19 tahun, Kantaphon Wangcharoen. Begitu rival bebuyutan Marcus Gideon/Kevin Sanjaya, ganda Denmark, Mathias Boe/Casrten Mogensen yang juga langsung out usai kalah dari ganda tuan rumah, Ong Yew Sin/Teo Ee Yi.

Sayangnya, berharap kejutan di bulutangkis itu tidak seajaib berharap harapan yang sama seperti di Piala Dunia 2018 yang sarat hasil-hasil tak terduga.

Begitulah yang terjadi. Gregoria, Mariska, dan Fitriani, langsung kalah di pertandingan pertama. Kembali pulang ke Jakarta untuk persiapan menghadapi Indonesia Open 2018 yang digelar awal Juli nanti.

Namun, dalam setiap kabar buruk, selalu ada pelajaran. Ada berkah terselebung. Blessing in disguise. Berkahnya adalah, tiga tunggal putri Indonesia mampu mengeluarkan potensi yang mereka miliki walaupun hasilnya belum maksimal. Mereka tidak mau menyerah begitu saja. Bahkan, ketiganya mampu mengambil satu game dan memaksa pemain-pemain top dunia itu bermain rubber game.

Dinar yang bermain di hari pertama (26/6), sempat menang di game pertama 21-17. Namun, Yamaguchi yang dikenal mau jatuh bangun di lapangan dan punya penempatan pukulan menyulitkan, berbalik menang 21-12 di game kedua. Dan di game penentuan, Dinar,pebulutangkis asal Karanganyar berusia 24 tahun, kembali kalah 13-21.

Di hari kedua, Rabu (27/6), Fitriani yang lebih sering jadi inferior kala bertemu Sung Ji-Hyun, terlihat bermain kikuk di game pertama dan kalah 11-21. Namun, di game kedua, pebulutangkis asal Garut berusia 19 tahun ini memperlihatkan semangat juang tinggi. Setelah kejar-keraan poin dan sempat terjadi tiga kali setting point, Fitri akhirnya menang 24-22. Sayangnya, di game ketiga, Fitri kembali kalah dengan margin poin cukup jauh 12-21.

Gregoria Mariska juga sempat merasakan betapa hebatnya Carolina Marin. Di game pertama, juara dunia junior 2017 yang tahun ini naik level senior ini tak berdaya menghadapi serbuan pebulutangkis Spanyol berusia 25 tahun ini. Bayangkan, Gregoria hanya mendapat 4 angka! Namun, di game kedua, Gregoria berubah total. Pebulutangkis beruaia 18 tahun kelahiran Wonogiri ini bermain jauh lebih bagus dan mampu menang 21-18. Hanya saja, di game ketiga, pengalaman bicara. Marin, sang juara dunia 2014 dan 2015, kembali menang telak 21-8.

"Marin punya kecepatan yang stabil dari awal sampai akhir permainan. Saat bisa memenangkan game kedua, saya pikir saya punya peluang di game ketiga. Namun, di game ketiga, saya sudah tidak bisa mengimbangi kecepatannya," ujar Gregoria dikutip dari badmintonindonesia.org.

Indonesia open 2018 Sudah Menunggu

Seperti tim-tim non unggulan di Piala Dunia yang bisa mencetak gol atau meraih poin saja sudah senang, saya pun sudah merasa senang melihat tiga tunggal putri Indonesia mampu memaksa tiga pemain top dunia bermain rubber game.

Namun, perasaan senang seperti ini tentunya tidak boleh dipelihara. Masak sampai dua tiga tahun mendatang, kita masih saja sebatas senang dengan kabar tunggal putri kita bisa merepotkan pemain kelas dunia. Tentunya, ada harapan agar mereka bisa "naik kelas".

Melawan pemain-pemain top dunia seperti ini akan menjadi pembelajaran bagus bagi ketiganya. Mereka jadi tahu kelebihan-kelebihan apa yang seharusnya dimiliki pemain top dan potensi apa dari mereka yang bisa dimaksimalkan untuk menjadi pemain kelas dunia.

Ah, semoga mereka bisa mengambil pelajaran dari Malaysia Open 2018. Semoga pekan depan, mereka bisa bermain lebih percaya diri di Indonesia Open 2018. Saya pribadi menunggu kelanjutan kabar bagus dari tunggal putri Indonesia. Kabar bagus?

Ya, saya sengaja menyebut kelanjutan karena tahun ini, tunggal putri Indonesia sebenarnya sudah berprestasi. Tunggal putri kita sudah pernah juara lewat Dinar Dyah di Vietnam International Challenge 2018 dan Gregoria di Finnish Open 2018. Salam