Mohon tunggu...
Habibul Abror
Habibul Abror Mohon Tunggu... Penulis Pemula

Masih belajar di Universitas Negeri Malang

Selanjutnya

Tutup

Politik

Emosi dan Politik dalam Demonstrasi

21 Oktober 2019   12:11 Diperbarui: 21 Oktober 2019   12:13 0 0 0 Mohon Tunggu...

Mahasiswa adalah pelaku penting dalam suatu proses perubahan. Ini bisa terlihat dari kasus demo mahasiswa yang terjadi sampai melibatkan ribuan massa. Dimana mahasiswa menolak beberapa rancangan kebijakan, dua isu yang menjadi sorotan utama demo mahasiswa ialah RUU KUHP dan UU KPK yang baru (hasil revisi).
Untuk menyampaikan suatu aspirasi agar didengar oleh pemerintah, sebenarnya dapat dilakukan oleh beberapa cara, seperti menulis artikel, lagu, gambar, hingga pada demonstrasi. Jadi demonstrasi adalah cara akhir yang dapat dilakukan jika cara-cara sebelumnya tidak berhasil.

Saat melakukan demosntrasi, jangan pernah percaya pada provokator. Mereka sering terhasut oleh omongan provokator hingga menyebabkan demosntrasi anarkis. Mengapa hal ini bisa terjadi ? Bagaimana tingkat emosi dan politik mahasiswa saat melakukan demonstrasi ?

Apakah emosi itu? Menurut Fiske & Taylor (1991) emosi adalah suatu suasana yang kompleks tentang afek-afek, melebihi sekedar perasaan yang baik atau buruk. Fungsi emosi dalam konteks politik ialah individu memiliki respon emosional terhadap isu, aktor maupun peristiwa politik. Memahami sebuah fenomena serta pengambilan keputusan. Ada dua macam emosi yang sering muncul dalam konteks politik yaitu, emosi negatif dan emosi positif. Emosi negatif meliputi marah, muak, perasaan bersalah, malu, penghinaan, takut, cemas. Sedangkan emosi positif meliputi kebanggaan, kebahagiaan. Nah, bagaimana emosi ini dapat berkembang dalam diri mahasiswa saat melakukan demonstrasi ?

Tidak bisa memufakati,karena adanya ketidak sesuaian bisa menjadi penyebab munculnya emosi, baik itu positif maupun negatif. Saat berdemonstrasi, besar kemungkinan mahasiswa akan memunculkan yang namanya emosi (positif -- negatif) sehingga melakukan tindakan-tindakan yang merugikan orang lain, seperti penyerangan terhadap orang lain, merusak fasilitas-fasilitas disekitar. Jika dihubungkan dengan jiwa atau psikis mahasiswa saat melakukan demonstrasi, maka mereka yang lebih memunculkan emosi negatif adalah mereka yang merasa keinginan merekan tidak terwujudkan atau belum mendapatkan respon dari pihak yang berwenang. Mereka yang terlanjur emosi negatif akan cenderung melakukan berbagai kekerasan. Hal ini berkaitan dengan macam-macam emosi negatif yang telah dijelaskan di atas.

Jadi, untuk mengetahui seberapa besar tingkat emosi mahasiswa terhadap politik adalah dengan melihat seberapa lama jangka waktu permasalahan yang dituntut yang menyebabkan terjadinya demonstrasi tersebut. semakin lama permasalahan yang diatasi maka semakin besar pula tingkat emosi mahasiswa dalam demonstrasi.