Mohon tunggu...
Habibah Nur Shober
Habibah Nur Shober Mohon Tunggu... Mahasiswa

Life Goes On

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Standar Kecantikan dalam Cerpen Fenghuang Karya Wendoko (Telaah Kritik Sastra Feminisme)

15 April 2021   18:42 Diperbarui: 15 April 2021   18:54 96 2 0 Mohon Tunggu...

 ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk membongkar konstruksi standar kecantikan dalam cerpen Fenghuang karya Wendoko yang pernah diterbitkan Koran Tempo. Dalam cerpen ini, Wendoko menggambarkan perempuan sebagai tokoh yang melakukan selebrasi terhadap standar kecantikan. Akan tetapi, Wendoko juga membongkar bagaimana standar kecantikan ini menempatkan perempuan sebagai objek dengan ruang gerak yang terbatas. Untuk menganalis isu dalam cerpen ini, konsep feminisme dari Naomi Wolf dalam bukunya Beauty Myth diaplikasikan dalam penelitian ini dengan metodologi kualitatif yang berfokus pada pembongkaran makna dalam teks cerpen. Hasil penelitian menunjukkan bentuk keterperdayaan perempuan terhadap konstruksi standar kecantikan yang dibangun publik dan bentuk inferiorisasi yang dihadapi perempuan yang menjadi korban konstruksi ini. Kemudian, data yang diperoleh dianalisis menggunakan pendekatan kritik sastra feminisme, khususnya teori mitos kecantikan Naomi Wolf.

Keywords: feminisme, kritik sastra feminisme, konstruksi, perempuan, ruang gerak, standar kecantikan

PENDAHULUAN

 Umumnya, standar kecantikan perempuan sangat tipikal meskipun adanya perbedaan letak geografis. Hal ini bisa dilihat dari ajang kontes kecantikan dunia yang diikuti oleh perwakilan perempuan dari berbagai negara. Kontes ini dikenal dengan nama Miss Universe yang telah diadakan sejak tahun 1952. Dalam kontes ini, setiap negara bisa berpartisipasi dengan mengirimkan seorang perempuan yang memiliki standar kecantikan yang tipikal. Kriteria cantik yang harus dipenuhi perempuan ini secara dominan berpusat pada tubuh, yaitu: langsing, tinggi, memiliki kulit yang mulus, rambut yang panjang, usia yang masih muda, dan tentu saja wajah dengan alis yang rapi, mata yang belo, hidung yang mancung, dan bibir yang merah.

 Kontes Miss Universe ini pun berperan dalam membangun standar kecantikan yang harus dipenuhi oleh perempuan dari negara manapun, entah itu perempuan Eropa ataupun Asia. Ironisnya, standar kecantikan ini tidak memberikan kesempatan yang setara bagi setiap perempuan untuk bisa dilabeli sebagai perempuan cantik. Misalnya saja, perempuan Eropa lebih mudah memenuhi standar kecantikan dengan perawakannya yang memang lebih tinggi, hidung yang lebih mancung, dan mata yang lebih besar dibanding perempuan Asia. Maka dari itu, standar kecantikan yang muncul dalam masyarakat bisa dikatakan sebagai sebuah konstruksi yang tak pernah berpihak untuk menjadikan perempuan sebagai subjek. Tuntutan untuk menjadi cantik dengan standar tertentu ini juga memposisikan perempuan sebagai individu yang inferior karena terus-terusan harus khawatir untuk melakukan aktualisasi diri yang berpusat pada tubuh.

 Standar kecantikan yang sama untuk setiap perempuan di seluruh belahan dunia ini menjadi pakem karena adanya konstruksi yang disebarkan lewat media. Melalui berbagai iklan dan siaran televisi, masyarakat terbiasa mendefinisikan perempuan cantik dengan standar kecantikan tertentu. Melalui majalah, masyarakat juga dikonstruksi untuk memenuhi standar kecantikan yang direpresentasikan model pada sampul depan. Pada kenyataanya, perempuan hanyalah aksesoris yang ditampilkan media yang berujung pada kekerasan simbolik pada perempuan (Udasmoro, 2013).

 Hal demikian pada gilirannya juga berdampak pada persepsi perempuan itu sendiri yang mengidentifikasi sosok perempuan cantik dan ideal sebagai dia yang kurus, tinggi, putih, dan berambut pirang, dengan wajah yang mulus tanpa noda, simetris, hidung mancung, bibir tipis, dada yang menonjol, pinggul yang padat berisi, kaki yang jenjang, dan tanpa cacat sedikitpun. (Wolf, 2004: 4). Penentuan standar kecantikan dalam suatu masyarakat telah menyebabkan penderitaan bagi sebagian perempuan yang dianggap berada di bawah garis kecantikan (Wolf, 2004: 24). Ketika seorang perempuan tidak dapat memenuhi standar kecantikan yang diterapkan dalam masyarakat, besar kemungkinan mereka dihinggapi rasa tidak nyaman, kesepian, terasing, dan rasa percaya diri yang rendah (Wolf, 2004: 24).

 melawan salah satu bentuk diskriminasi yang menggunakan citra kecantikan sebagai senjata untuk menentang kemajuan perempuan. Inilah yang selama ini disebut sebagai mitos kecantikan. Dalam bahasa yang lebih sederhana, mitos kecantikan menggunakan citra kecantikan untuk menentang kemajuan perempuan (Wolf, 2004: 24). 

Menurut Beauvoir, ketika perempuan terjun ke dalam dinamika masyarakatnya, ia akan segera menjadi objek penilaian publik yang cenderung menuntutnya merepresentasikan daging yang murni sesuai dengan fungsinya. Karena kita hidup dalam lingkaran “budaya tradisional”, yang dimaksud publik di sini tidak lain adalah laki-laki. Perempuan kemudian tidak dipandang sebagai subjek kepribadian, tetapi sebagai benda yang tertutup rapat dan tunduk pada “kodratnya”. Tuntutan-tuntutan itu termanifestasi dalam konsep keinginan laki-laki yang berkenaan dengan gaya berpakaian perempuan, bentuk tubuh yang langsing, hingga penggunaan make up dan perhiasan (Beauvoir, 2003: 236).

Konstruksi standar kecantikan yang difokuskan pada tubuh ini juga direpresentasikan dalam berbagai karya sastra Indonesia, salah satunya adalah cerita pendek (cerpen) karya Wendoko yang berjudul Fenghuang. Cerpen ini diterbitkan pada 16 desember 2012 di Koran Tempo. Dalam cerpen ini, Wendoko menghadirkan burung fenghuang sebagai metafora perempuan cantik. Feghuang sendiri adalah seekor burung dalam mitologi terkenal yang kerap kali muncul dalam cerita legenda Tiongkok. Burung ini digambarkan sebagai hewan dengan bulu dan warna yang sangat indah dan cantik. Saking cantiknya, fenghuang juga menjadi hewan yang dipuja dan dianggap memberi keberkahan. Akan tetapi, dibalik keindahannya, Fenghuang juga digambarkan memiliki keterbatasan, yaitu hanya bisa bertelur satu kali saja. Gambaran yang diberikan Wendoko ini membongkar bagaimana standar kecantikan nyatanya hanyalah konstruksi yang manipulatif. Perempuan, pada akhirnya, tetap ditempatkan sebagai sosok yang memiliki keterbatasan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN