Mohon tunggu...
JH Kusmargana
JH Kusmargana Mohon Tunggu... -

Jurnalis & Pecinta sepeda

Selanjutnya

Tutup

Healthy Pilihan

Mengenal Poniyem, Kader Kesehatan Tertua di Kulonprogo yang Hanya Tamatan SD

20 September 2018   22:12 Diperbarui: 20 September 2018   22:29 539
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Usianya telah genap 61 tahun pada 28 Februari 2018 lalu. Namun peranan Poniyem, sebagai salah satu kader kesehatan di desanya, masih sangat diandalkan hingga saat ini. 

Tanpa keterlibatan nenek 5 cucu ini, berbagai kegiatan di bidang kesehatan di dusun Gunung Gempal, Giripeni, Wates, Kulonprogo, mungkin tak akan bisa berjalan. Mulai dari kegiatan Imunisasi, Posyandu, KB, hingga pencegahan stunting atau kekurangan gizi pada anak. 

Ya, Poniyem merupakan salah satu kader kesehatan tertua yang masih aktif di kabupaten Kulonprogo. Ia juga tercatat sebagai kader kesehatan swadaya dengan masa pengabdian paling lama yang mencapai hampir 40 tahun.

Ditemui belum lama ini, wanita yang hanya lulusan SD itu mengaku mulai aktif menjadi kader posyandu sejak umur 24 tahun. Tepatnya sekitar tahun 1981 saat ia tengah mengandung dan melahirkan anak pertamanya. 

"Awalnya dulu saya rajin menimbangkan bayi anak saya ke puskesmas. Kemudian saya diminta untuk membantu menjadi kader posyandu. Dari situ saya juga diminta jadi kader KB. Saya ingat tugas pertama saya waktu itu diminta buat gambar peta KB se-dusun," kenangnya. 

Meski hanya tamatan SD, Poniyem ternyata mampu menyelesaikan setiap tugasnya dengan baik. Hingga akhirnya ia pun dipercaya melaksanakan berbagai kegiatan pelayanan kesehatan di desanya. Mulai dari menyelenggarakan kegiatan penimbangan balita, melakukan penyuluhan pada warga, hingga membuat laporan kesehatan. 

Menjadi kader kesehatan pada era awal tahun 1980an tentu tak bisa dibandingkan dengan masa sekarang. Pada saat itu, sebagaimana dikatakan Poniyem, hampir semua dusun belum memiliki kegiatan posyandu. Bahkan satu desa atau satu kelurahan di Kulonprogo tak jarang hanya memiliki 1 posyandu saja. 

"Jaman dulu menjadi kader posyandu itu sulit sekali. Beda dengan sekarang. Dulu saya harus jalan kali beberapa kilometer sambil membawa timbangan dan panci berisi makanan tambahan setiap mau mengadakan posyandu. Karena setiap kegiatan posyandu harus dilaksanakan bergiliran dan berpindah-pindah dari satu dusun ke dusun lain," ungkapnya.

Tak hanya itu, sebagai kader KB, Poniyem juga diberikan tugas mengajak warga agar mau bergabung menjadi peserta KB. Termasuk juga mendata setiap keluarga yang telah berpasangan di dusunya. Padahal, saat itu mayoritas masyarakat desa masih sangat takut dan antipati dengan program-program semacam itu.

"Resikonya banyak musuh. Kadang sudah datang jauh-jauh jalan kaki untuk memberikan penyuluhan, tapi begitu sampai tidak dibukakan pintu. Bahkan ada yang sampai suaminya datang marah-marah ke rumah saya, karena takut istrinya kenapa-kenapa," ceritanya yang mengaku harus rutin mendatangi sekitar 400 lebih KK di dusunya. 

Menjadi kader kesehatan secara sukarela tanpa gaji selama puluhan tahun, tentu banyak cerita suka maupun duka yang telah dialami Poniyem. Ibu dua anak dan istri penjual bakso ini mengaku pernah merasa sangat sakit hati ketika dirinya diremehkan oleh salah seorang warga dusunnya. Dimana dia dianggap tidak pantas memberikan penyuluhan soal kesehatan karena hanya lulusan SD.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun