Leonardi Gunawan
Leonardi Gunawan Karyawan

Warga Negara Biasa Yang Ingin Indonesia Ke Piala Dunia

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara highlight

6 Poin Evaluasi untuk Tim Sukses atas Kekalahan Ahok

16 Februari 2017   20:44 Diperbarui: 17 Februari 2017   09:30 135 7 3

“Ahok Kalah? Ngawur…. Kamu baca berita ngak sih? Ahok juara satu tau…. “  begitulah kira – kira pembicaraan ku bersama fans garis keras Ahok.

Dengan keunggulan hanya sekitar 3-4 persen (berdasarkan hitung cepat berbagai lembaga survey), menurut penulis Ahok – Djarot sebenarnya sudah kalah bersaing dari pasangan nomor 3. 

Seharusnya dengan statusnya sebagai petahana dan pada awal masa pemilihan angka keterpilihan lebih dari 60%, Ahok dengan mudah memenangkan pertandingan Pilkada ini. Banyak faktor memang yang membuat suara Ahok lama – lama tergerus, bahkan sempat ditik nadir, sebelum balik kembali. Baik itu karena faktor Ahok sendiri maupun karena faktor luar yang bertubi-tubi menyerangnya.

Kali ini penulis tidak membahas faktor – faktor luar yang menggerogoti suara Ahok. Tetapi lebih kepada kinerja Tim Suksesnya yang menurut penulis tidak maksimal. Setidaknya penulis mencatat ada enam hal yang perlu mendapatkan perhatian khusus terkait kinerja Tim Suksesnya.

Pertama. Kinerja Ketua Tim Sukses yang jauh dari harapan. Ketua Tim Sukses Pemenangan Ahok dipegang oleh ketua DPRD DKI Jakarta, Prasetio Edi Marsudi dari PDIP. Secara logika politik tentunya tidak ada masalah dengan pemilihan ketua tersebut. Apalagi sosoknya adalah ketua DPRD yang tentunya mempunyai relasi dan jaringan baik secara politik maupun kebawah seharusnya sudah kuat. 

Tetapi fakta dilapangan berbeda, tidak ada gaung sama sekali atau pernyataan – pernyataan yang fantastis dari seorang Prasetio dalam mendukung Ahok. Bahkan wajah sang ketua kalah tenar dari Bang Ruhut yang vokal suaranya beredar dimana – mana di stasiun televisi swasta. Perlu juga dicatat hubungan Ahok dan Prasetio secara pribadi mungkin tidak ada masalah. Tetapi secara institusi antara Gubernur dan DPRD tentunya kita mengetahui bersama terdapat perbedaaan cara pandang yang sangat tajam. 

Terutama terkait penyususan APBD beberapa waktu lalu. Mau tidak mau Prasetio adalah bagian dari DPRD itu sendiri walaupun dia juga bagian tak terpisahkan dari PDIP. Kedepannnya saran penulis Prasetio harus memperbaiki kinerjanya sebagai ketua atau bila perlu ganti sekalian dengan mereka yang lebih vokal dan langsung bersentuhan dengan konstituante.

Kedua. Euforia berlebihan di media sosial. Harus kita akui bahwa pemilih Ahok memang adalah pemilih yang tingkat keterhubungannya dengan media sosial lebih tinggi dibandingkan dengan pendukung pasangan lain. (baca : melek teknologi) hal ini dapat dilihat menjadi pisau bermata dua. 

Disatu pihak tulisan tulisan di media sosial dibanjiri oleh mereka yang mendukung Ahok, seolah olah Ahok unggul tapi disatu sisi apa yang tejadi di media sosial bukan yang terjadi dilapangan. “one man one vote” itu yang terjadi bukan dengan berkicau di twitter atau nulis di wall fb maka suara Ahok dibilik suara akan bertambah. Saran saya adalah jangan terlalu terlena oleh apa yang terlihat di media sosial. Karena belum tentu apa yang disajikan real seperti yang ada dilapangan. Kalau nantinya hasilnya tidak sesuai yang memang nyatanya begitu bukan menyalahkan orang lain.

Ketiga. Hanya terfokus kepada Ahok. Sebagai pasangan calon. Seyogyanya Pak Djarot memiliki porsi yang tidak sedikit. Sosok Djarot inilah yang kurang digali maksimal oleh Tim Sukses. 

Padahal Djarot sebenarnya adalah antithesis dari Ahok sendiri. Kala Ahok diserang dengan Arogan, Cina dan Kristen maka Djarot adalah Santun, Jawa dan Islam… . Secara kinerja sebenarnya Djarot tidak jauh beda dengan Ahok saat memimpin Blitar sebanyak 2 periode. Rentetan penghargaan yang dia dapat juga bejibun dan bergengsi. Memang pada saat debat terlihat Ahok mulai berbagi panggung dengan Djarot tetapi penulis rasa masih kurang. Karena sebenarnya Djarot lebih banyak nilai yang bisa dijual. Maka untuk melawan santunya “Anies –Sandi” harus juga dilawan dengan “Santunya” Djarot.

Keempat. Kurang merangkul pemilih Islam Tradisional. Boleh diakui keberhasilan Anies dan Sandi adalah merangkul para pemilih Islam tradisional yang tersebar Masjid, Surau, Musholla dipelosok pelosok kampung , di gang-gang. Mereka mengambil ceruk yang diambil oleh Paslon 1 yang mengambil Islam garis keras. Hal ini tanpa disadari oleh Tim Sukses Ahok adalah pendulang suara terbesar untuk Anies – Sandi.

Mereka mereka yang sebanarnya sudah nyaman dengan kepemimpinan Ahok. Akhirnya mau beralih ke Anies – Sandi. Bukan mereka fanatik atau menganggap Ahok tidak bagus kenerjanya. Tetapi mereka merasa “diperhatikan” oleh Tim Sukses pasangan lain. Saran saya Tim Sukses Ahok Djarot harus membentuk tim khusus untuk memperhatikan komunitas ini. Pilihlah ulama – ulama / pemuka agama yang berpandangan moderat / tradisional. Untuk kembali mendekati hati mereka. Walaupun nantinya hasil yang diperoleh tidak banyak tapi minimal segmen pemilih ini ada yang kembali ke Ahok Djarot.

Kelima. Tumpulnya Koordinasi Para Saksi di Hari H. Seharunyalah hari penjoblosan adalah puncak ari kerja Tim Sukses. Mereka harus memastikan bahwa dimana letak kantong kantong pemilih untuk Ahok. 

Jangan sampai sudah tau disana adalah kantong pemilih Ahok surat suara yang tersedia hanya setengah dari yang ada. TIdak bisa sepenuhnya menyalahkan KPU/ Banwaslu karena mereka bekerja atas SOP yang sudah berlaku. Tidak bisa juga serta  merta menambah surat suara pada detik itu juga. Yang bisa dilakukan adalah antisipasi beberapa hari sebelum hari H. 

Bisa dilihat di daftar pemilih tetap. Sosialiasikan kepada mereka – mereka yang kehidupannya mobile. Pergi pagi pulang malam. (Coba bagaimana mau mendatanya.) Beri peringatan atau kasih tau prosudernya apabila mau ikut memilih pada hari H tetapi tidak terdaftar di DPT. Atau bisa disosialisasikan bagaimana cara agar namanya terdapat di DPT. Kalau hal – hal seperti ini dapat diselesaikan sebelum hari H, tentunya panitia dalam hal ini KPU/Banwasku mau tidak mau harus merespon. Sehingga tidak ada lagi “kegagalan” mencoblos pada hari H seperti yang sedang ramai di media sosial.

Keenam. Mesin Partai Pendukung yang tidak berjalan. Pasangan Ahok – Djarot sebenarnya didukung oleh 4 partai besar yakni PDIP, Nasdem, Golkar dan Hanura. Dengan Jaringan yang dimilikinya seharusnya perolehan suara Ahok tidak seperti ini. Ada sesuatu yang salah dengan kinerja mesin partai pendukung. Keliatannya dalam intern mereka sendiri tidak kompakdan tulus  mendukung Ahok. Atau bisa jadi mereka yang ada di partai tidak bekerj All Out seperti yang ditunjukkan oleh Gerindra dan PKS. 

Masalah financial mungkin yang menjadi hambatan, karena jelas Ahok Djarot tidak mempunyai apa apa untuk dibagi – bagi.  Untuk putaran kedua diharapkan mesin partai dapat benar benar hidup untuk memenangkan Ahok Djarot. PDIP dengan Kharisma Megawati diharapkan terjun langsung ke lapangan. Nasdem dengan jaringan medianya. Golkar dengan Setya Novanto selaku pimpinan DPR. Serta Hanura yang tidak bisa lepas dari sosok Wiranto. Kalau mereka bergerak bersama maka jalan Ahok akan lebih mudah.

Masa pencoblosan putaran kedua sekitar 2 bulan dari sekarang. Setiap paslon tentunya mulai memikirkan strategi yang akan digunakan untuk memenangkan pertarungan. Semua strategi oleh digunakan asal hal tersebut bukan merupakan kecurangan. Seperti intimidasi, penggelembungan kotak suara, politik uang dan lainnya. Kita butuh sosok pemimpin yang bukan hanya pandai berbicara, bukan juga pandai bekerja. Tetapi diatas semua itu pemimpin yang jujur kepada diri dan rakyatnya.

Salam.