Leonardi Gunawan
Leonardi Gunawan Karyawan

Warga Negara Biasa Yang Ingin Indonesia Ke Piala Dunia

Selanjutnya

Tutup

Analisis

"Failure of Imagination, Ghost Fleet", Negara Punah, dan Pilpres 2019

22 Maret 2019   10:23 Diperbarui: 22 Maret 2019   11:27 113 1 1

"Failure of Imagination" salah satu kata yang diucapkan oleh Seorang Agen Amarika bernama James Silva (Mark Walhberg) saat diintrograsi mengapa peristiwa balas dendam pihak Russia dapat terjadi dan menghancurkan tim rahasia Amerika. Adegan tersebut dapat dilihat di ujung scene film MILE 22 yang dibintangi juga oleh actor laga Indonesia Iko Uwais.

Secara singkat diceritakan bahwa Tim Super Amerika awalnya menangani operasi yang mereka anggap biasa, menghancuran lawan, membunuh mata-mata, setelah itu habis perkara, selesai. Yang menjadi masalah selanjutnya dan baru mereka ketahui setelah ajang balas dendam tersebut berhasil adalah bahwa yang mereka bunuh tersebut salah satunya adalah anak seorang wanita militer yang berkuasa di Russia. 

Dengan pengaruh dan kekuasaannya sang ibu merencanakan balas dendam yang teramat pintar dan cerdik sampai pada akhirnya bisa memancing keluar dan pada akhirnya menghabisi tim elite yang telah membunuh anaknya yang masih remaja itu.

"Salah membunuh" adalah hal kunci isi film MILE 22. Kalau saja yang dibunuh adalah agen biasa dan parajurit mungkin pihak Russia tidak sampai akan menghancurkan tim elite Overwatch, kegagalan dalam menditeksi atau boleh dibilang kelalaian dalam mengumpulkan data membuat satu masalah besar di kemudian hari dan itu sama sekali tidak diprediksi sebelumnya.

Novel "Ghost Fleet" hangat dibicarakan ketika calon Presiden, Prabowo Subianto seperti menjadikannya rujukan, walaupun fokus novel tersebut adalah persaingan negara-negara raksasa (Amerika, Russia, dan bekas China). Negara Indonesia tetap ada di cerita walaupun disebutkan bahwa Indonesia telah punah (hancur).

Yang menjadi salah satu hal mengapa Novel ini menarik minat untuk dibaca adalah karena latar belakang sang penulisnya, Peter Warren Singer dan August Cole, mereka berdua bukan dari kalangan penulis/pengarang sastra biasa. Mereka berdua memang menulis novel yang sesuai dengan latar belakang keahlian mereka kalau boleh dibilang mereka ini ahlinya ahli masalah militer. yakni terkait masalah kemiliteran, politik dunia serta teknologi pertahanan. 

Membaca novel ini ibarat kita belajar seluk beluk istilah militer dari pertempuran darat, laut dan udara. Lengkap dengan segala detail-detail yang mungkin hanya diketahui oleh orang-orang yang berkecimpung di dunia militer.

Bagi kita rakyat Indonesia tentunya kehadiran (bekas) Negara Indonesia di cerita Novel ini adalah menarik untuk dibahas. Bagaimana seorang pakar militer dan pertahanan memprediksi (walaupun hanya fiksi) bahwa negara Indonesia akan musnah. Seperti yng disebutkan di atas. 

Novel ini dikarenakan penulisnya tentu mempunyai analisa yang bisa dipertanggung jawabkan sehingga diprediksi bahwa negara Indonesia tidak akan bertahan lama. Hal inilah yang menjadi salah satu senjata bagi salah satu calon Presiden dalam kampanyenya.

Singkatnya begini, sang calon Presiden percaya dengan novel ini, bahwa kalau kondisi Indonesia terus seperti sekarang ini,  biasa-biasa saja tanpa ada perubahan yang signifikan maka besar kemungkinan Negara Indonesia akan segera musnah seperti yang tergambar di Novel Ghost Fleet yang dia baca.

Ada 2 Benang merah yang penulis ambil dari kedua hal tersebut diatas; yang Pertama tentunya adalah prediksi adalah tetap prediksi. Banyak parameter yang harus dipenuhi untuk mewujudan sebuah prediksi akan terjadi atau tidak. Prediksi negara gagal oleh penulis Novel Ghost Fleet mungkin didasarkan pada pengamatan selama ini yang menganggap bahwa negara kita lemah, sering gontok-gontokan sendiri, mudah diadu domba dan tidak punya kekuatan ekonomi serta militer yang mumpuni ditambah kita juga tidak berada di bawah blok manapun (nonblok) tidak pro Amerika dan tidak Pro Russia dan Tiongkok. 

Namun hal itu jelas masih prediksi kenyataannya kita sendiri semakin memperkuat diri serta berusaha menaikkan "posisi tawar" kita dengan negara negara besar lainnya.

Kedua bahwa suatu kejadian/kesalahan kecil bisa dan akan berdampak sangat luas untuk ke depannya. Sebut saja salah memilih pemimpin. Sebenarnya sangat simpel tinggal coblos 1 atau 2 atau tidak memilih. Namun pilihan kecil kita itu akan menuntukan Indonesia ke depannya seperti apa. 

Jangan sampai seperti yang digambarkan dalam film MILE 22. Beberapa tahun ke depan kita baru sadar bahwa kita telah salah berimajinasi. Yang kita pandang sepele, yang tidak terlalu berarti, namun ternyata hal itulah yang sangat berperan besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita nantinya.

Pilpres 2019 adalah titik kita mulai berimajinasi. Setiap orang yang sudah menentukan pilihannya tentunya sudah punya imajinasi apa yang akan dia lakukan saat pemilu. Dari mulai mau apa tidak mempergunakan hak pilihnya sampai siapa nanti yang dia pilih. Imajinasi selanjutnya tentunya tentang masa depan yang akan dia harapakan setelah pemimpin yang dia pilih menjadi Presiden. 

Gambaran-gambaran tentang Indonesia yang semakin makmur ada di dalam otaknya. Begitupun sebaliknya mereka akan berimajinasi jelek kalau tokoh andalannya kalah. Indonesia semakin suram, susah dan pada akhirnya benar-benar punah.

Sebagai masyarakat dari bangsa yang besar tentunya kita ingin bangsa kita semakin maju, semakin kuat, semakin disegani oleh kawan maupun lawan. Kita tidak mau prediksi di Novel Ghost Fleet itu benar-benar nyata terjadi beberapa tahun ke depan. Jangan sampai pada saatnya nanti ketika sudah terlambat kita cuma bisa berguman. .... Saya menyesal mengapa dulu tidak mempergunakan hal pilih saya. 

Atau saya menyesal mengapa memilih dia. Sehingga terpilih pemimpin yang tidak baik. Kalau itu terjadi, berarti kita sudah termasuk dalam golongan yang sudah salah memprediksi masa depan...