Leonardi Gunawan
Leonardi Gunawan Karyawan

Warga Negara Biasa Yang Ingin Indonesia Ke Piala Dunia

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

"Invisible Hand" dan Prestasi Sepak Bola Indonesia

5 Desember 2018   14:15 Diperbarui: 5 Desember 2018   18:42 736 6 2
"Invisible Hand" dan Prestasi Sepak Bola Indonesia
Sumber: Alliance/DPA

Lihatlah fakta ini; Penduduk terbanyak di kawasan Asia Tenggara, sepak bola menjadi olahraga nomor satu, jumlah klub sepak bola terbanyak, sepak bola dimainkan oleh semua kelompok umur, ditambah suporter yang melimpah dari ujung negeri. 

Namun bicara prestasi timnas, sepak bola Indonesia masih nol besar.

Tentunya ada yang salah dengan hal ini, jangankan berbicara di tingkat Asia atau dunia, di tingkat Asia Tenggara saja Indonesia masih harus tertatih-tatih. Sudah lama sekali Timnas Senior tidak merasakan gelar bergengsi sekedar di kawasan regional saja. Emas Sepak Bola SEA Games mungkin sudah lupa kapan terakhir kita mendapatkan. 

Begitu juga gelaran 2 tahunan Piala AFF, mentok di babak Final saja. Apalagi mau bicara Piala Asia? Olimpiade? Bahkan Piala Dunia? Seperti mimpi. Paling banter kita hanya sampai pada istilah "nyaris", "kurang beruntung" kita evaluasi" dan sederet kata pemakluman lainnya.

Entah ini hanya pengamatan penulis saja, namun sepertinya ada sesuatu kekuatan besar yang selalu menghalangi prestasi Indonesia untuk mencapai tangga juara. Sudah beberapa turnamen diamati khususnya di kawasan Asia Tenggara. 

Timnas Indonesia bisa begitu mempesona di babak grup bahkan lolos ke final. Namun apa daya pertandingan final sepertinya menjadi antiklimaks permainan Timnas. Masih ingat kejadian final AFF di Malaysia beberapa tahun lalu saat sang pelatih kepala Alfred Riedl pun seperti bingung dengan apa yang terjadi. Indonesia akhirnya kalah 3-0 dari Malaysia.

Atau kalau mau lebih sahih lihatlah permainan Timnas Indonesia saat bermain dengan Singapura pada pertandingan pertama Piala AFF 2018 kemarin. Dengan mayoritas pemain yang sama saat Asian Games, pola dan taktik yang sama, pelatih yang sudah menjadi asisten pelatih sebelumnya selama 1,5 tahun. 

Harusnya permainan Indonesia bisa lebih baik lagi. Toh Gelaran Asian Games dan AFF tidak lama berselang. Saat bermain dengan Singapura nampak sekali segala hal yang ditunjukan saat Asian Games nyaris tidak terlihat. Para pemain di lapangan bermain seperti menanggung beban yang sangat berat.

Seiring dengan gagalnya Timnas Senior di AFF, publik sepak bola kembali dikejutkan dengan adanya berita tentang skandal pengarutan skor di kompetisi domestik. Bukan hanya di Liga 1 saja tapi juga Liga 2. Hal ini tentunya menjadi para pencinta sepak bola berpikir. Kalau di dalam negeri dengan kekuatan uang yang tidak sebegitu besar saja semua bisa diatur. Hal itu juga bisa saja berlaku untuk Timnas kita saat bertanding. Dengan perputaran uang yang pastinya lebih besar dan berkali-kali lipat.

Masalah ini jugalah yang disinggung oleh mantan pemain nasional yang terkenal gaya nyentriknya Rochy Putiray. Kata- kata Rochy tentunya bukan sembarangan karena dia sendiri adalah bagian dari sejarah sepak bola Indonesia sendiri. Perkataannya bahwa; "Luis Milla tak bisa diatur, Timnas menang tapi federasi tak dapat duit," sebenarnya merupakan perkataan yang tajam dan keras. 

Mungkin itulah curahan isi hati seorang Rochy yang pada zamannya sempat merumput sampai ke Liga Hongkong. Rochy ingin menyampaikan kebenaran yang dia tahu dari sudut pandang seorang pemain sepak bola yang sudah malang melintang di dunia sepak bola Indonesia.

Perkataan Rochy memang masih harus dibuktikan, tetapi jelas bahwa pembuktian tersebut bukan perkara mudah. Tangan-tangan hantu yang tak kasat mata (invisible hand) pastinya memiliki jaringan yang sangat-sangat kuat dan dengan dukungan dana yang nyaris tanpa batas mereka bisa di mana saja dan menjadi apa saja.

Pembuktian secara hukum formal memang butuh waktu dan keberanian semua pihak, pemain, pelatih, pengurus yang masih bersih, serta pihak aparat hukum (kepolisian), serta lembaga pemerintah lainnya seperti PPATK untuk menelusuri transaksi mencurigakan. Apalagi kalau pengaturan skornya sudah lintas negara, tentunya bakalan lebih repot lagi. Karena setiap negara memiliki aturan yang berbeda-beda.

Setuju dengan pendapat Rochy bahwa dari dalam diri orang yang ditawari suap lah yang bisa menolak, baik pemain dan pelatih atau pengurus yang berintegritas harus berani menolak tawaran menggiurkan tersebut. 

Menolak uang instan dalam jumlah besar di depan mata bukan perkara mudah. Godaan atau pemikiran kebutuhan hidup keluarga, gaya hidup hedon, masa depan yang tidak menentu bahkan sampai ancaman fisik kadang membuat orang akhirnya mengalah pada keadaan.

Jangan biarkan tangan-tangan jahat itu terus memangkas perkembangan sepak bola di Indonesia, Mungkin kalau memang Federasi sudah tidak sanggup lagi. Pemerintah harus campur tangan kembali. Kena sanksi FIFA lagi karena intervensi? 

Nampaknya tidak masalah, toh kita tetap bisa menjalankan roda kompetisi sendiri. Mengenai Timnas tidak boleh bertanding di luar? Lantas apa bedanya bertanding tapi spiritnya sudah digembosi dari sebelum bertanding. Hanya menambah derita para pencinta sepak bola di Indonesia.

Salam