Mohon tunggu...
Gusti Gultom
Gusti Gultom Mohon Tunggu... Mahasiswa

be you

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Gula dan Swasembada

25 Februari 2021   15:18 Diperbarui: 25 Februari 2021   15:29 111 6 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Gula dan Swasembada
sumber gambar: https://www.pexels.com/photo/man-holding-a-sugar-cane-3612023/

Gula merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarak Indonesia dan menjadi salah satu komoditas strategis bagi perekonomian nasiona (Hernanda, 2011). Sedangkan berdasarkan hasil perundingan World Trade Organization (WTO) gula dikelompokkan menjadi komoditas khusus (special product). Perkembangan permintaan dan konsumsi di Indonesia dari waktu ke waktu mengalami trend meningkat sementara suplainya berbanding terbalik. Kesenjangan antara demand dengan supply terus meningkat sehingga terjadi defisit ketersediaan gula. Peningkatan permintaan terhadap gula dipengaruhi oleh peningkatan jumlah penduduk Indonesia dan kenaikan pendapatan masyarakat (Susila dan Sinaga, 2016), selain itu pertumbuhan industri pengolahan makanan dan minuman juga turut meningkatkan permintaan terhadap gula (Sulaiman et al., 2019).

Pemerintah terus berupaya untuk memenuhi kebutuhan gula nasional. Program pemerintah untuk mencapai tujuan ini dituangkan di dalam program swasembada gula. Jika melihat kembali sejarah pergulaan nasional, Indonesia pernah pada masanya menjadi eksportir gula pada tahun 1930-an mengekspor gula sebanyak 2,4 juta ton. Namun hal ini tidak dapat dipertahankan bahkan hingga saat ini. Pemenuhan gula nasional selain suplai dari dalam negeri, pemerintah pun melakukan impor.

Pada tahun 2002, pemerintah menargetkan untuk swasembada gula akan dicapai pada tahun 2007 dan kemudian diundur ke tahun 2008 lalu diundur lagi ke tahun 2009. Pada tahun 2019, pemerintah berharap dapat mencapai swasembada namun harapan ini tidak terwujud. Harapan ini pun kembali dipupuk di mana swasembada diharapkan terwujud pada tahun 2024 nanti.

Konsumsi gula per kapita per tahun sebesar 12 kg (Arifin, 2008) atau rata -- rata konsumsi gula per kapita per minggu tahun 2018 adalah 1,309 kg (BPS, 2018). Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2019 mencapai 267 juta jiwa, sementara produksi gula rata-rata nasional hanya mencapai 2.691.132 ton. Angka ini tentu tidak akan mampu memenuhi kebutuhan gula nasional. Di sisi lain, konversi lahan kebun yang terus berlangsung turut menyumbang penurunan suplai gula nasional.

Fluktuasi produksi gula disebabkan berbagai hal. Selain konversi lahan kebun, kapasitas dan efisiensi pabrik gula yang rendah (Hernanda, 2011), rendahnya manajemen dari setiap pabrik gula nasional (Aliza, 2019), juga dipengaruhi oleh luas lahan panen kebun tebu, rendemen tebu, curah hujan, hari hujan dan tenaga kerja (Apriawana et al., 2015).

Swasembada bukan tidak mungkin dicapai. Peningkatan luas lahan dapat dilakukan untuk meningkatkan suplai gula, namun untuk mencapai swasembada pemerintah membutuhkan lahan yang sangat luas. Pemerintah telah menargetkan perluasan lahan kebun seluas 80.000 ha pada 2024 dengan harapan dapat mendongkrak suplai gula. Produksi gula juga tidak lepas dari bibit tebu yang berkualitas baik. Pemerintah perlu mengupayakan untuk penyediaan bibit yang dapat ditanam oleh petani dan tidak sembarangan menggunakan bibit. Revitalisasi pabrik gula pun perlu dilakukan. Pabrik tua yang sudah tidak efisien harus direvitalisasi segera.

Sumber Pustaka

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2018. Konsumsi dan Pengeluaran. https://www.bps.go.id/statictable/2014/09/08/950/rata-rata-konsumsi-per-kapita-seminggu-beberapa-macam-bahan-makanan-penting-2007-2018.html

Aliza, C.N. 2019. Faktor -- faktor yang Mempengaruhi Produksi Gula di Indonesia. Universitas Muhammdiyah Surakarta.

Apriawan, D.C., Irham, I., Mulyo, J.H. 2015. Analisis produksi tebu dan gula di PT. Perkebunan Nusantara VII (persero). Agro Ekonomi 26 (2) :159-167.

Arifin, B., 2008. Ekonomi swasembada gula Indonesia. Economic Review, 211 :1-12.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN