Mohon tunggu...
Gustaaf Kusno
Gustaaf Kusno Mohon Tunggu...

A language lover, but not a linguist; a music lover, but not a musician; a beauty lover, but not a beautician; a joke lover, but not a joker ! Married with two children, currently reside in Palembang.

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Salah Kaprah Soal Istilah "Branded"

11 Mei 2014   21:02 Diperbarui: 23 Juni 2015   22:37 10502 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Salah Kaprah Soal Istilah "Branded"
13997916661010556308

[caption id="attachment_323337" align="aligncenter" width="413" caption="dok prbadi"][/caption]

Hari ini, saya membaca iklan spanduk sebuah toko barang elektronik yang menyajikan daftar harga kulkas, mesin cuci, AC, HP disertai dengan tag-lineMERK BRANDED(lihat foto di atas). Istilah “branded” di khalayak ramai sudah terbentuk pengertian sebagai “berprestisius, mewah karena harganya yang selangit”. Kalau ibu-ibu sedang bergunjing tentang tas yang branded sudah pasti mereka merujuk pada merek Gucci, Hermes, Chanel, Celine, Burberry, LV (Louis Vuitton) yang harganya puluhan hingga ratusan juta. Sesungguhnya istilah branded termasuk salah satu kata Inggris yang sudah dikorupsi (corrupted) setelah dipakai dalam wacana orang Indonesia.

Kata “brand” itu sendiri memiliki dua makna utama yaitu (1) merek dan (2) cap dari besi panas pada kulit hewan ternak. Kata “merek” menyerap dari bahasa Belanda “merk”. Jadi menjadi sangat rancu kalau kita membaca tulisan “Merk Branded” di atas, mengingat kata “brand” sama dan sebangun dengan kata “merk”. Sama halnya dengan kebiasaan orang mengatakan “uji kir kendaraan” (padahal ‘kir’ berasal dari kata Belanda ‘keur” yang maknanya ‘uji’). Ini poin yang pertama. Poin selanjutnya, istilah branded sesungguhnya bukan mengacu pada barang yang bermerek terkenal dan mahal harganya. Istilah ini dalam wacana aslinya sekedar bermakna bahwa barang yang dijual itu mempunyai merek yang merupakan identitas dari pabrik yang memproduksinya. Jadi semua barang, baik yang murah maupun yang mahal, asalkan ada etiket/label mereknya, adalah barang branded. Lawan katanya adalah non branded yaitu barang yang dijual tanpa merek, biasanya dijual dalam partai besar (grosir) dengan harga yang lebih murah. Untuk obat ada yang branded drugs (obat bermerek) dan generic drugs (obat tanpa merek).

Pengertian kedua dari branded adalah ‘pemberian cap atau stigma’. Dalam wacana bahasa kita, sering dijumpai kalimat “Dia dicap sebagai pengkhianat”. Kata “dicap” di sini bukan sekadar “dicap pakai stempel tinta”, melainkan “dicap dengan besi panas seperti pada kulit hewan ternak”. Jadi ada frasa “branded cattle” (ternak yang ada cap besi panas), juga ada istilah “branded traitor” (orang yang dicap sebagai pengkhianat), “branded criminal” (orang yang dicap sebagai penjahat).

Di luar negeri kalau Anda ingin membeli mobil, berhati-hatilah bila mobil ini ada keterangan “branded title”. Ini bukan bermakna mobil bersangkutan dikategorikan sebagai mobil mewah atau mobil bergengsi. Justru sebaliknya, branded title bermakna mobil dimaksud sudah diafkir (written off), karena mengalami tabrakan atau kerusakan parah sehingga dianggap sebagai total loss. Mobil seperti ini kadang diperbaiki sehingga nampak mulus kembali, namun peraturan di Amerika mengharuskan mobil sejenis diberi label branded title apabila mau dijual kembali, supaya calon pembeli tidak dikelabui.

Omong-omong soal brand, saya teringat teringat dengan ungkapan (idiom) “brand new” yang dalam bahasa kita disebut dengan “baru gres”. Dalam bahasa Belanda disebut dengan “gloednieuw” (gloed = kinclong, nieuw = anyar). Kembali ke persoalan istilah “branded” tadi, dalam bahasa Inggris biasanya disebut dengan “luxury brand” (merek luks yang meningkatkan status dan gaya penyandangnya), sehingga kalau toh mau memakai istilah Inggris sebaiknya kita menyebut dengan “luxury brand” ketimbang “branded”. Dengan catatan kalau Anda berkenan.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x