Mohon tunggu...
Gus Noy
Gus Noy Mohon Tunggu... Administrasi - Penganggur

Warga Balikpapan, Kaltim sejak 2009, asalnya Kampung Sri Pemandang Atas, Sungailiat, Bangka, Babel, dan belasan tahun tinggal di Yogyakarta (Pengok/Langensari, dan Babarsari).

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen Pendek | Tersulut Siang

17 Februari 2019   19:57 Diperbarui: 17 Februari 2019   20:10 105
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Pada suatu siang aku terpaksa pulang lebih cepat. Bahan-bahan dari luar pulau belum tiba di lokasi proyek sehingga aku dan rekan-rekan tidak bisa mengerjakaan apa-apa. Kesempatan menganggur itu dimanfaatkan oleh rekan-rekanku untuk berdebat soal pilpres di direksi kit.

Aku tidak tertarik karena sangat membosankan. Kupilih duduk dekat pos jaga di samping pintu masuk-keluar kendaraan proyek.

"Belum datang juga?" tanya bosku ketika ia masuk dengan mobil sedannya yang bersuara halus sekali, dan menemukanku di situ.

"Ya," jawabku sambil mengangkat bahu.

Lalu bos pun menyuruhku pulang saja. Tentu saja begitu karena tugas utamaku sama sekali tidak ada. Sementara, kata bosku, rekan-rekanku harus membereskan peralatan kerja yang berserakan.

Kebetulan sekali. Tadi pagi, sewaktu hendak berangkat ke lokasi proyek, sempat kutengok beberapa tanamanku layu, bahkan sebagian mati kekeringan.

Aku memang belum sempat menyirami tanaman, khususnya yang berada dalam pot. Dari pagi hingga petang aku berada di lokasi proyek. Satu minggu ini hujan tidak singgah di kampung kami yang sedang dirundung musim pilpres.

Segera kudatangi motor butut di area parkir para pekerja, dan kuajak pulang. Pantatku sempat kepanasan ketika sampai di pangkuannya. Bisa jadi telur setengah matang nih, pikirku karena jengkel.

Siang menjelang tengah hari itu memang sedang dalam suhu luar biasa. Sepanjang aspal yang kulewati, pandanganku seolah menangkap gelombang air. Keringat pun seketika mengucur deras dari sela rambutku yang mulai botak. Keringat pun membasahi baju kerja berbahan tebal yang masih harus kubungkus dengan jaket kulit.

Sebelum sampai di rumah, aku singgah sejenak ke sebuah warung makan dekat persimpangan kampung kami. Di situ juga terdapat es serut alias es campur, dan aku memesan satu porsi. Kutengok situasi warung cukup ramai, meski belum waktunya jam makan siang.

Sambil menunggu pesananku jadi, aku duduk di sebuah kursi plastik di antara orang-orang yang sedang nongkrong. Piring, senduk, garpu, dan gelas terhampar dalam kondisi bekas pakai. Belum ada pembantu warung yang sempat mengangkutinya. Beberapa lalat memanfaatkan situasi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun