Mohon tunggu...
Gus Noy
Gus Noy Mohon Tunggu... Penganggur

Warga Balikpapan, Kaltim sejak 2009, asalnya Kampung Sri Pemandang Atas, Sungailiat, Bangka, Babel, dan belasan tahun tinggal di Yogyakarta (Pengok/Langensari, dan Babarsari).

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Hujan Bunga Mangga

28 November 2018   05:41 Diperbarui: 29 November 2018   09:08 0 4 3 Mohon Tunggu...
Cerpen | Hujan Bunga Mangga
ilustrasi (pixabay/Patounet54)

Dengan masih berkalung handuk basah, saya menemui Sarwan di ruangannya. Saya mengajaknya ngobrol mengenai kegiatannya, khususnya menulis, pasca-kepulangan saya pada akhir tahun lalu. Kami ngobrol sambil menghadap pintu dan ke ruang terbuka agar bisa mengamati situasi di luar.

Dia bercerita dengan wajah berbinar-binar. Selama tujuh bulan tahun ini belasan opininya dimuat koran lokal. Honornya lumayan. Bahkan, awal tahun ini satu opininya memenangkan sebuah lomba menulis opini. Uang hadiahnya sudah menjadi komputer jinjing yang sedang dipakainya di ruangan itu.

Pada saat kami asyik ngobrol, hujan turun. Suara hujan terdengar jelas menimpa atas seng. Perkerasan lantai ruang terbuka pun terlihat basah. Udara basah langsung menyapa kami.

Beberapa menit kemudian saya dan Sarwan dikejutkan oleh percikan api dan suara korsleting dari kabel listrik di ujung atap seng yang mengarah ke meteran. Di sekitarnya terdapat sebuah pohon nangka dengan daun-daun yang basah.

Seketika dada saya berdebar-debar . Sarwan bangkit dari kursi, dan beranjak ke pintu.

"Korsleting di kabel induk, Bang," katanya sambil menunjuk ujung seng yang terdapat kabel hitam PLN.

"Eh, jangan keluar dulu, Wan!"

Secara mendadak saya mencegah Sarwan keluar ruangan karena kondisi lantai luar mulai basah karena talang seng di sudut atas pintu bocor. Di samping itu tiang kanopi pun basah.

Oh, jangan-jangan orang yang tadi siang tersengat listrik gara-gara atap seng rumah sebelah bersinggungan dengan atap seng rumah singgah ini, atau ada logam lainnya yang bersentuhan dengan atap rumah mereka, pikir saya.

Hujan semakin deras. Angin berhembus kencang. Pohon nangka semakin basah. Lantai ruang terbuka semakin tergenang.

Saya menyuruh Sarwan menyampaikan kabar gawat-darurat di rumah singgah melalui grup media sosial. Maksud saya, agar siapa pun yang datang malam ini harus berhati-hati karena jelas terlihat adanya korsleting di ujung atap rumah singgah. Kemungkinan besar seluruh atas rumah singgah sudah beraliran listrik.

"Kaka! Kaka! Kebakaran!"

"Kebakaran!"

Teriakan orang-orang dari depan rumah singgah. Sarwan segera meletakkan ponsel di meja, bergegas ke pintu, mengenakan sandal, melangkah hati-hati ke ruang terbuka lalu masuk ke ruang utama untuk menuju teras depan rumah singgah.

Saya pun menyusulnya karena tercium plastik terbakar. Tetapi sekilas saya memergoki percikan api di tiang kanopi pinggir dapur. Di situ terlihat ada persinggungan antara tiang besi kanopi dan besi sisa pembuatan tandon dapur.

Hujan semakin deras. Dari jalan samping rumah singgah orang-orang berdatangan. Beberapa kendaraan berhenti.

"Kebakaran! Kebakaran!"

Teriakan orang-orang semakin nyaring dari arah depan rumah singgah. Saya bergegas masuk ke ruang utama, ruang tamu, dan tiba di teras depan. Sarwan mondar-mandir  di teras sambil berkali-kali menengadah. Aroma plastik atau karet sintetis terbakar kian menyengat penciuman.

Di depan, tepatnya halaman sebelah kanan rumah singgah, sebuah kabel memercikkan api. Sebagian pembalut kabel sudah menjuntai-juntai dengan api dan lelehan bara. Asap mengepul-ngepul di antara cabang-ranting pohon marungga, nangka, mangga, sirsak, dan srikaya.

Di benak saya justru terbayang lagi tentang kejadian tukang perbaikan atap tadi siang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4