Gus Noy
Gus Noy Penganggur

Warga Balikpapan, Kaltim, tapi bukan siapa-siapa sejak menjadi "Taruna" (29 Maret 2018). Menulis sekadarnya saja untuk bersuka ria. Tidak mencari uang di Kompasiana (K-rewards), meski kondisi ekonominya masih tergolong melarat amat-sangat.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Hujan Bunga Mangga

28 November 2018   05:41 Diperbarui: 29 November 2018   09:08 1221 4 3
Cerpen | Hujan Bunga Mangga
ilustrasi (pixabay/Patounet54)

Baru satu minggu berada di Kupang, dan tinggal sementara di rumah singgah, tadi siang saya mendengar kabar bahwa seorang tukang perbaikan atap tersengat listrik di atap rumah sebelah lalu dilarikan ke rumah sakit. Mujurnya, sengatan tidak berakhir maut.

Atap rumah di sebelah rumah singgah, dan beberapa rumah sekitarnya, memang menggunakan seng. Baik rumah permanen maupun semi permanen berdinding bebak (pelepah pohon gewang yang digepengkan), seng menjadi andalan sebagai penutup atap. Tidak membutuhkan banyak kayu untuk rangka atap, dan pemasangannya lebih praktis.

Persoalan sengatan listrik yang dialami tukang di atap itu, tentu saja, karena seng berpotensi mengantarkan arus listrik. Pasti ada kabel berarus listrik yang bocor atau lecet di bagian atas rumah. Petugas dari PLN sudah dipanggil tetapi saya tidak tahu kelanjutannya.

Saya hanyalah pendatang sementara di Kota Kasih. Itu pun karena panggilan Demun untuk membantunya mengurusi perencanaan dan perancangan untuk sebuah rumah singgah yang baru karena profesi saya memang arsitek.

"Kamu tinggal di rumah singgah, di kamar yang pernah ditempati Julia. Tempat tidur sudah disiapkan Piter, Ji," ujar Demun sambil mengantarkan saya ke sebuah ruang di sebelah kanan ruang utama ketika baru datang pada awal Agustus.

"Ya," sahut saya sambil mengikutinya.

Ya, saya hanya manut. Biasa saja karena kedatangan saya kali ini sudah yang keempat. Tahun lalu saya datang, dan menempati ruang di sebelah kiri untuk tidur. Kini ruangan itu sudah menjadi ruang kerja Demun sekaligus perpustakaan yang berisi buku-buku sosial-politik. Tahun sebelum-sebelumnya saya menempati ruang belakang, yang berdekatan dengan dapur, tetapi kini sudah beralih fungsi, yaitu perpustakaan kecil yang berisi buku-buku lama.

Saya tinggal sendirian di rumah singgah milik Demun. Ketika saya belum datang, ada dua orang yang secara bergiliran tidur di rumah singgah. Yang paling kukenal adalah Sarwan, yang juga mantan mahasiswanya Demun di Universitas Nusa Cendana. Terkadang beberapa rekan mereka ikut tidur di rumah singgah setelah beraktivitas.

Kami menyebutnya "rumah singgah" karena sering menjadi tempat persinggahan, baik untuk kalangan lokal, interlokal, dan internasional. Aktivitas di rumah singgah pun beraneka. Rapat, diskusi, penyuluhan, baca buku, dan lain-lain. Sebagian tamu, semisal saya yang dari Balikpapan atau Julia yang dari Amerika, mendapat ruang khusus, meski bisa berpindah posisi.

Saya berkawan dengan Demun sejak masih kuliah di Yogyakarta. Meski berbeda Jurusan atau Program Studi, dan tahun masuk, kami pernah aktif di pers mahasiswa. Saya kuliah di Jurusan Arsitektur, dan menangani ilustrasi dan kartun opini. Demun kuliah di Jurusan Komunikasi Politik, dan menangangi berita dan opini.

Perkawanan antara saya dan Demun berlanjut sampai kami bekerja pada bidang kami masing-masing. Saya menjadi arsitek lepas, dan Demun menjadi dosen, apalagi sudah meraih gelar Ph.D. di Amerika. Saya dipanggilnya untuk urusan bangunan miliknya atau milik keluarga orangtua serta mertuanya.

Pada waktu terjadinya sengatan listrik di atap tetangga sebelah rumah singgah tadi siang, Demun sedang berada di Yogyakarta selama satu minggu untuk acara seminar, lokakarya, dan lain-lain. Selama sekian tahun rumah singgah sudah terkelola dengan baik, termasuk para petugas di bagian masing-masing.

Tentu saja saya sudah mengenal orang-orang yang bekerja di rumah singgah. Piter mengurusi keuangan dan logistik. Odang mengurusi administrasi dan jaringan antarkomunitas. Dan rekan-rekan mengurusi tata kelola ruang sekaligus urusan dapur. Dengan begitu saya mudah berkomunikasi dengan siapa-siapa untuk hal-hal yang relevan.

Satu hari setelah kejadian itu mendung mengepung langit Kota Karang. Tadi sore ketika hendak memasak mi dadak dan melintasi ruang terbuka di dekat dapur, saya bisa leluasa melihat awan kelabu yang bergerak perlahan.

Di ruang terbuka itu sudah tidak beratap lagi karena atap fibernya termangsa waktu, dan diterjang angin selatan sejak beberapa tahun lalu. Pada waktu saya datang pertama kali, atapnya masih utuh. Ada beberapa meja yang disatukan untuk ruang pertemuan.

Sejak kedatangan saya kedua hingga sekarang, yang tertinggal hanya rangka pipa besi bulat dengan topangan dua kaki, dan dua kaki lainnya ditekuk dan menempel dinding luar ruang tengah atau utama. Satu kakinya berjarak satu meter dari pintu dapur dan pintu ruang belakang. Sebagian rangkanya bersinggungan dengan atap dan talang yang berbahan logam, bahkan pada pertemuan sudutnya selalu mengucur air hujan sehingga rabat berpenutup keramik di depan dapur selalu tergenang air pada musim hujan. Satu lagi di ujung dinding dapur. Di kakinya itu terlihat sebatang besi berdiameter 12 mm yang merupakan sisa pembuatan beton penyangga tandon dapur.

Tahun lalu dan tahun ini saya sering berada di dekat ruang terbuka itu, tepatnya beranda belakang yang berbatasan dengan ruang pertemuan-tengah. Batasnya berupa dinding dan jendela kaca gelap. Di situ terdapat satu meja, kursi, dan stop kontak. Dan di situlah saya suntuk merancang bangunan, meskipun tak jarang ruang pertemuan dipakai oleh beberapa komunitas untuk berdiskusi, mengadakan pelatihan jurnalistik, penelitian, dan lain-lain.

Karena beranda berhubungan langsung dengan ruang terbuka, saya pun bisa melihat situasi langit. Makanya saya heran ketika melihat situasi alam yang baru saya temui. Setahu saya, Agustus masih terbilang masa musim panas. Pada September tahun lalu, musim panas sedang pada puncaknya. Hujan turun pada musimnya pada awal Oktober, dan berakhir Februari kemarin. Tahun-tahun sebelumnya, ketika saya datang pada April atau Juni, juga merupakan musim panas.

"Sudah masuk musim hujankah?"

Begitu pertanyaan saya pada Piter ketika kami sedang ngobrol di ruang terbuka itu sambil menyeruput kopi flores atau menyantap kompiyang alias roti manggarai. Saya dan dia sedang menikmati awal malam selepas menunaikan pekerjaan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4