Gus Noy
Gus Noy Penganggur

Bukan siapa-siapa sejak 29 Maret 2018, dan baru belajar menulis cerpen. Lumayan jadi satu cerpen berjudul "Eh, Ternyata Demun Juga Menulis Puisi" (https://www.kompasiana.com/gusnoy/5ac0e5c3ab12ae525714f2c2/eh-ternyata-demun-juga-menulis-puisi)

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Puisi-puisi Pun Mengalun Sepanjang Perhentian

17 April 2018   19:50 Diperbarui: 17 April 2018   19:55 351 0 0

Wahai Malam,
Banyak yang mencari tiang api
Pengembaraan tengah terhenti di padang gurun
Srigala-srigala menggerayangi lekuk-lekuknya
Mengincar setiap pejalan sendirian

Sekawanan musafir melingkari sekuntum api unggun
Meracik puisi-puisi dari kerak-kerak keringat
Memerciki jejak-jejak tiang awan

Para pemain membunyikan tamborin, gambus,
Kecapi, seruling, kelentung, ceracap mengiringi
Tiap puisi dilantunkan dengan liukan para penari

Anak-anak pun melingkari api unggun
Menikmati dan menghabisi manna-manna
Sebelum sinar fajar melendiri manna-manna

Wahai Malam,
Puisi-puisi bermusikalisasi tari-tarian di sudut
Padang gurun berselubung pekat kelam
Menggeliat gelora memanggil-manggil tiang api
Sebelum api unggun kehabisan kayu
Sebelum seringai srigala meruncing kuku-kuku angin

Pengembaraan masih menyisakan jauh jangkauan
Puisi-puisi pun selalu mengalun sepanjang perhentian
Para pengintai berjaga-jaga dari segala penjegalan
Penjagalan tidak pernah lelah pulas

Wahai Malam,
Banyak yang mencari tiang api
Padang gurun disusupi kubu-kubu bermata gelap
Kemalangan demi kemalangan tidak pernah diam
Meski sekejap berpejam

*******
Panggung Renung -- Balikpapan, 17 April 2018