Mohon tunggu...
Gurgur Manurung
Gurgur Manurung Mohon Tunggu... Konsultan - Lahir di Desa Nalela, sekolah di Toba, kuliah di Bumi Lancang Kuning, Bogor dan Jakarta

Petualangan hidup yang penuh kehangatan

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Seni Mengatasi Perbedaan Pendapat dengan Pasangan dalam Mendidik Anak

31 Juli 2022   13:09 Diperbarui: 31 Juli 2022   13:12 100 17 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Daniel tengah sepatu merah (dok pribadi)

Minggu lalu pelatih bola  Daniel yang kami panggil coach menanykan saya apakah Sekolah Sepak Bola  (SSB) kita ikut kompetisi di Tangerang? Saya menjawab bahwa  semakin banyak kita mengikuti kompetisi semakin baik.    Baik  pak pak, jawabnya. Minta nomor rekening panitia agar saya transfer biaya pendaftaran, pintaku.  Siap  Bapak Daniel, jawabnya dengan kelihatan senang.  Hari Selasa lalu saya harus ke Labuhan Batu, Sumatra Utara dan ternyata si Ujang, dan istri saya tidak bisa mengantar Daniel mengikuti kompetisi Sabtu kemarin.  Selain tidak bisa, istri saya meminta Daniel mengikuti  pembinaan  anak remaja di gereja.

Jumat sore saya menelpon Ujang  sopir kami agar mengantar Daniel ke lapangan bola  besok dan mengantar teman-temananya.  Si Ujang ternyata Sabtu lalu tidak pulang ke  rumahnya di Serang dan sudah berjanji ke istrinya   akan pulang Sabtu. Saya memahami keadaan Ujang. Kemudian istriku saya telpon dan tidak bisa karena  ikut pesta. Ada anak keluarga kami menikah.  Saya  memikirkan siapa sopir untuk mengantarkan Daniel.

Ternyata persoalan utama bukan sopir yang antar Daniel mengikuti kompetisi. Istri saya secara  mutlak mengatakan, "Daniel ada jadwal pembinaan iman di gereja".  Saya menjelaskan kepada istri bahwa kita sudah sepakat kalau latihan bola bisa digagalkan jika ada jadwal pembinaan anak  remaja  di gereja.  Kalau ada kompetisi bola pembinaan gereja yang ditinggal.  Istri saya mengatakan pembinaan di gereja adalah prioritas.  Itu saja permintaan saya, semua saya dukung. Kalau  yang satu ini tidak boleh dilanggar. Perdebatan pun terjadi.

Argumentasi saya adalah  anak harus kita didik bertanggungjawab menjaga timnya.  Bertanggungjawab menjaga kekompakan tim bola adalah pembinaan karakter.  Pembiaran  tim berjuang sendirian bagaimana, sih?  Orang Kristen itu diajarkan melayani. Bermain bola  dengan tanggungjawab adalah implementasi iman anak.   Betul bahwa anak harus diisi dengan pengetahuan tentang  Tuhan tetapi terpenting adalah kesadaran bahwa kita percaya Tuhan dan  melayani kepada sesama.

Bagi saya seorang anak belajar bersama, bermain bersama bertanding bersama adalah bagian dari implementasi iman kita kepada Tuhan.  Sedih jika  teman-teman Daniel akan kalah tanpa Daniel bersama timnya.  Dalam proses kegiatan itu bisa juga kita memahami  Tuhan.  Apakah kita memahami Tuhan harus pembinaan di gereja?  Sebelum bertanding anak-anak kita berdoa. Berdoa akan pertolongan Tuhan agar pertandingan berjalan dengan lancar.

Argumentasi saya membuat istri saya  jengkel.  Istri saya  ingin anak kami Daniel kokoh pemahamannya tentang Tuhan.  Istri saya yakin bahwa anak yang pemahaman Alkitabnya kuat maka akan memiliki karakter yang baik.  Saya sangat setuju dengan istri saya tetapi konteksnya dalam implementasi akan berbeda.   Situasi seperti ini banyak dialami orang tua.  Bagaimana  bersikap fleksibel dalam  konflik paradigm berpikir   sangat dibutuhkan dalam kondisi ini.  Bagi saya, bahwa anak memahami Alkitab dengan baik adalah keharusan. Tetapi keharusan juga anak mulai bertanggungjawab dengan klubnya.  Anak juga harus bertanggungjawab secara moral kepada teman-temannya.

Dalam kondisi anak saya tidak dapat ikut berkompetisi sang pelatih  dapat juga mengatasi masalah.  Tim Daniel berangkat tanpa Daniel walaupun kata coach   teman-temannya mencari Daniel.  Semua mencari Daniel pak, kata coach lewat WhatsApp (WA). Ketidakhadiran Daniel tentu saja akan timpang karena  Daniel salah satu benteng pertahanan timnya.  Bersyukur  tim Daniel menjadi juara 3 dalam kompetisi itu. Menurut coach anak-anak tertatih-tatih di lapangan karena  bertanding tanpa Daniel.  Aku memikirkan  bagaimana cara agar kedepan tidak terjadi lagi kejadian yang sama.  Mungkin perlu berdialog bertiga  setelah saya pulang dari Sumatra Utara.

Tadi malam saya komunikasi dengan Daniel. Daniel mengatakan timnya juara tiga.  Bagaimana perasaanmu bro ketika tim bertanding tanpa  bro ikut? Biasa saja pak.  Kenapa tidak mencari jalan keluar tadi pagi? Daniel menjawab, " kata mama kalau kegiatan gereja tak didukung lagi iya udah. Kata mama jangan dulu ikut bertanding, lagipula tidak ada yang antar".  Daniel memilih mengikuti pembinaan di gereja dan katanya menyenangkan juga acara di gereja.

Mendidik anak tidak mudah. Ada kalanya  benturan pemahaman antara suami dan istri. Karena itu perlu pertimbangan agar tidak berdampak kepada anak.  Kelak, Daniel akan ketawa melihat perbedaan pandangan ayah dan ibunya.  Secara nilai saya dan istri sama yaitu  Daniel menjadi orang yang belajar  rendah hati, bermartabat dan menyenangkan bagi orang lain. Tetapi dalam proses ada kalanya benturan makna.  Karena itu, dibutuhkan fleksibilitas dan melibatkan anak dalam proses itu. Selamat bergumul antara pasangan  yang berbeda makna dalam mendidik anak.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan