Mohon tunggu...
Gurgur Manurung
Gurgur Manurung Mohon Tunggu... Konsultan - Lahir di Desa Nalela, sekolah di Toba, kuliah di Bumi Lancang Kuning, Bogor dan Jakarta

Petualangan hidup yang penuh kehangatan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Tips Bebas dari Sikap Benci dan Dendam

8 Mei 2022   08:05 Diperbarui: 10 Mei 2022   23:06 773
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber : hidupkatolik.com

Dalam kehidupan sehari-hari ada beberapa orang  yang diikat oleh rasa benci dan dendam kepada orang lain.  Berbagai latar belakang yang membuat  seseorang muncul rasa benci  dan dendam.  Dalam keseharian kita sering membaca istilah dendam politik  atau lebih parah disebut lagi dendam berkarat.  Siapa yang rugi   jika sikap benci dan dendam   bertahan dalam diri kita? Bagaimana tips agar kita keluar dari rasa benci dan dendam?.

Pertama,  menyadarai bahwa rasa benci dan dendam  merugikan diri sendiri.  Jika kita membenci  atau dendam  kepada orang lain maka  kita akan lelah.  Pikiran kita terganggu terus menerus  diganggu orang yang kita benci sementara orang yang kita benci baik-baik saja.  Kita lelah memikirkannya padahal orang yang kita benci mungkin sedang berlibur dipantai bersama keluarganya.  Lalu,  apa untungnya kita benci atau dendam kepada siapapun?  Mungkin dia tidak tau bahwa kita ada rasa benci dan dendam.

Kedua, menyadari bahwa hidup ini adalah belajar untuk naik kelas.  Realita kehidupan  keseharian kita muncul rasa muak dan muncul rasa benci karena hak kita  dan  prinsip-prinsip kita dilabrak orang lain. Atau ketika kita melihat kesombongan dipertontonkan orang lain.  Rasa kebencian ini muncul dengan beragam.  Kalau saya sendiri muncul rasa muak melihat  polisi yang arogan dijalanan. Juga melihat polisi dan pamong praja ketika saya mendampingi masyarakat Sigapiton memperjuangkan tanah ulayatnya di Kabupaten Toba, Sumatra Utara.  Rasa muak itu muncul karena  sikap polisi dan pamong praja tidak proporsional ketika itu.  Ketika rasa benci dan muak muncul maka saya tersadar bahwa mereka menjalankan tugasanya,  mereka melakukan itu  karena   pengetahuannya terbatas.   Mereka bersikap tidak proporsional karena ada tekanan saja. Demikian  sikapku mengobati rasa benci itu.   

Rasa benci saya muncul  kepada kaum perempuan yang mengaku  pemerhati perempuan  ketika menyalahkan perempuan Sigapiton   ketika menyingsingkan bajunya melawan polisi, tentara, pamong praja dan escapator yang  mendorong rakyat Sigapiton  mempertahankan tanah ulayatnya.  Mereka yang mengaku pemerhati perempuan itu tidak  berempati  kepada yang menderita.  Perempaun Sigapiton menyingsingkan bajunya agar polisi dan tentara meninggalkan  tanah ulayat mereka.  Mereka tidak memiliki  kekauatan untuk melawan kekuasaan itu.  Tetapi, saya sadar bahwa pendapat itu karena keterbatasan pengetahuan  dan tidak melihat secara langsung sehingga tidak paham konteksnya. Hati saya terobati ketika istri saya mengatakan bahwa perempuan Sigapiton kehilangan harapan sehingga mereka menyingsingkan bajunya dalam melakukan perlawanan.

Ketiga,  menyadari bahwa tugas kita dalam hidup ini adalah memerdekakan orang lain bukan  membenci bahkan dendam kepada orang lain.  Jika  ada orang lain menyakiti hati kita  maka tugas kita adalah menjelaskan bahwa hal itu   tidak menyenangkan hati kita.  Hal yang dapat kita lakukan adalah menjelaskan kepada orang lain apa yang sedang kita pikirkan dan orang lain.  Menjelaskan langsung kepada orang yang menyakiti kita  jika  konteksnya dekat. Bagaimana jika kita benci kepada  kejahatan   penimbunan minyak goreng yang harganya melambung tinggi?  Kita dapat menyuarakan perasaan kita di media seperti medsos, media konvensional atau berbagai macam cara untuk menumpahkan kekesesalan kita.  Kita terus berusaha menyuarakan isi hati kita.  Bersuara adalah hak kita, tetapi membenci atau dendam  sudah diluar  tugas kita.   Karena kalau ada rasa benci dan dendam dalam diri kita maka  kita menjadi kerdil dan tidak naik kelas.

Keempat,  menyadari bahwa kita adalah    manusia lemah  yang   harus belajar rendah hati yang butuh hikmat  dan bijaksana.   Sikap merendahkan hati    melihat  segala persoalan membuat kita  bersikap jernih.  Kerendahan hati membuat analisis kita melihat persoalan secara tajam dan  kita terbiasa mudah memahami persoalan secara holistik. Diri kita membutuhkan pengendalian diri agar terbiasa objektif dan paradigm berpikir untuk keadilan.   Menyadarai kelemahan kita akan menjadi kekuatan jika melatih diri untuk belajar rendah hati.  Rendah hati adalah titik awal untuk meningkatkan intelektualitas kita.  Seorang intelektual harus jernih dan seobjektif mungkin melihat persoalan.

Kelima,  melatih diri untuk berpikir rasional, objektif dan realitis.  Sikap rasional, objektif dan realistis itulah kita bersikap empati kepada semua orang orang.  Pikiran yang rasional tidak  datang begitu saja. Berpikir rasional, objektif dan realistis adalah hasil latihan.  Tidak mudah melatih sikap yang obejketif melihat berbagai persoalan. Sikap objektif butuh fakta-fakta dan wawasan.  Wawasan yang luas dan rasionalitas berpikir  mengikikis kita dari rasa dendam.   Ketika  kita terbiasa rasional maka  muncul sikap kelakar yang cerdas. Pikiran kita terbiasa rasional dan sikap cinta kepada keadilan manusia dan bumi makin dalam.

Keenam,   bersikaplah mencintai dan   mengasihi  kepada sesame dan cipataan Tuhan.  Mencintai dan mengasihi  menuntun kita untuk terus belajar.  Jika kita mencintai keadilan maka kita belajar keadilan itu apa? Keadilan seperti apa yang diharapkan? Jika kita mencintai pendidikan maka kita secara otomatis belajar dunia pendidikan.  Jika kita mencintai lingkungan, maka kita belajar  bagaimana cara menyelamatkan lingkungan.  Seseorang yang  cinta dan kasih maka  akan terbebas dari benci dan dendam.  Belajar mencintai dan mengasihi adalah siakp teduh dan nikmat.  Tandap disadari dampaknya luar biasa.

Ketujuh, pro aktif memaafkan.   Bagimana jika terjadi konflik?  Secepatnyalah meminta maaf.  Prinsipnya  adalah siapa yang duluan minta maaf, maka dia naik kelas. Minta maaf lebih dahulu artinya duluan naik kelas dan memenangkan dirinya untuk berdamai dan memenangkan orang lain. Bagiamana jika orang lain tidak memaafkan kita?  Urusan kita adalah memaafkan. Jika tidak dietrima maka kita berdoa dan bersikap empati kepadanya.  Kita laksanakan apa yang menjadi tugas kita.  Teruslah berusaha agar kita naik kelas terus menerus hingga meninggalkan dunia yang fana ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun