Guntur Saragih
Guntur Saragih

Saya adalah orang yang bermimpi menjadi Guru, bukan sekedar Dosen atau Trainer.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Adat harus dibuat Sekuel bukan remake, tinjauan metakognisi film remake

21 Maret 2017   09:04 Diperbarui: 21 Maret 2017   13:11 46 0 0

Kemunculan film remake belakangan telah menjadi tren. Produsen film.Disney, Marvel, DC aktif membuat ulang film-film lawas. Hal yang sama juga terjadi di Indonesia. Ada yang sukses ada juga yang gagal. 

Fillm remake dapat dianggap sebagaipemberian kesempatan kepada generasi belakangan menikmati, atau romantisme kalangan senior melihat cerita lama tampilan berbeda, atau ada yang protes, karena tidak mendapat variasi.

Khusus di indonesia, film remake belum sesukses film yang edisi awalnya, kecual film Warkop Reborn. Hal yang sama dengan karya disney seperti cinderella, sleeping beauty, dan masih kita tunggu beauty and the beast. Film holywood sukses umumnya yang bersifat superheroes, seperti Superman, Spiderman, Hulk, Star Wars. 

Berbeda dengan film sekuel atau prekuel, film remake memiliki pakem yang lebih ketat. Akibatnya, film remake dipaksa harus menceritakan kembali hal-hal yang dahulu pantas, atau scene-scene pavourite di film terdahulu. Padahal, film remake menempatkan konteks waktu kekinian.

Tantangan dihadapi film drama. Film drama disney mengalami kesulitan dikarenakan cerita drama yang dahulu dapat diterima sekarang tidak lagi. Kisah anak tiri yang dahulu disiksa ibu tiri, kini berganti dengan cerita perlawanan anak tiri terhadap orang tuanya. 

Bagaimana Galih dan Ratna sekarang sibuk bergaul di media sosial ketimbang nongkrong di taman sambil bersepeda. Bagaimaman tren penampilan gaya rambut dan aksen suara yang dahulu.menjadi icon film harus berhadapan dengan aksen sekarang. 

Kemunculan film remake seyogianya bukan hanya langkah pragmatis industri film untuk mendapatkan modal awareness. Film remake menjadi hambar saat alur berpikir periode.dahulu dipaksakan dalam kondisi kekinian. Biar bagaimanapun rasa sudah berbeda, orang yang sama tidak lagi sepenuhnya dipuaskan oleh film.remake dibandingkan film yang dahulu ia tonton.

Belum lagi tantangan begitu kuatnya ketokohan sang aktor. Film catatan Si Boy tidak bisa lepas dari Ongki Alexander. Rambo adalah Sylvester Stallone. Karenanya, penonton tidak akan terima jika tokoh idola digantikan.

Adat Istiadat dan Remake

Belajar dengan analisis film remake. Adat dapat menjadi.hal yang membatasi partisipasi generasi baru. Generasi baru perlu warna dan tampilan yang lebih segar. Kaum adat tidak dapat memaksakan agar ritual adat diremake. Properti pendukung sudah berbeda, waktu menunggu penikmat ritual adat sudah semakin sempit. Anak-anak kini sudah menikah dengan bukan hanya yang sesuku. Teman sepermainan berasal.dari berbagai suku bangsa. 

Adat dapat menjadi penghambat dalam transfer kebudayaan. Bahkan, adat dalam bentuk ritual dapat mengambilbahkan adat dapat menjadi kamuflase atas substansi sosial budaya. Arogansi pemangku adat kadangkala hanya soal ritual adat, bukan lagi ajaran substansi sosial budaya. Mereka puas saat anak-anaknya berpakaian adat, menarikan tarian adat, atau mengikuti prosedur. Padahal, ritual hanyalah bungkus dari budaya. 

Adat tidak perlu diremake, tetapi harus dibuat sekuel. Berbeda dengan film remake, membuat remake adat jauh lebih mahal. Bayangkan betapa mahalnua kalau di Jakarta harus membuat rumah adat, karena matetil kayu sudah berbeda, pelaku yamg membangun juga berbeda.

Adat harus dibuat sekuel dengan tetap memperhatikan substansi, bukankah adat lebih menitikberatkan ajaran moral. Adat jangan sampai menjadi pihak yang otoriter. Bayangkan teman Saya menunda pernikahan, karena emggak punya duit untuk membiayai pesta adat.

Mudah-mudahan dengan melakukan sekuel adat,kesuksesan untuk mentransfer budaya dapat sukses seperi berbagai film sekuel seperti fast and furioues. Rambo, Catatan Si Boy, Warkop DKI. Karena budaya dibuat untuk manusia yang hidup di zamannya, bukan untuk pemangku adat yang tidak lagi hidup di zaman sekarang.