Mohon tunggu...
Guntur Saragih
Guntur Saragih Mohon Tunggu...

Saya adalah orang yang bermimpi menjadi Guru, bukan sekedar Dosen atau Trainer.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Kebhinnekaan Indonesia Bukan Hanya Soal SARA (Tinjauan Metakognisi)

21 Maret 2017   15:09 Diperbarui: 21 Maret 2017   15:36 167 1 0 Mohon Tunggu...

Saat ini, saya sedang dalam perjalanan ke Solo dari Jakarta dengan menaiki kereta api. Saat saya menunggu di stasiun Gambir, toko-toko makanan hanya merk a, b, c. Ruang terbesar dipergunakan oleh mini market kuning dan kuning. Saat kereta berhenti di Cirebon dan Purwokerto, toko makanan sama dengan Jakarta, berikut dengan minimarket. Akibatnya, saat saya masuk ke minimarket, isi barang dagangannya juga sama.

Padahal, saya ingin jajan yang bercirikan daerah Cirebon atau Purwokerto. Namun sayang, Saya tidak bisa keluar stasiun. Pastinya, dalam stasiun warnanya seragam. Hal yang sama dengan bandara, dan tempat-tempat bisnis utama lainnya. Indonesia yang Bhinneka tidak lagi terlihat dalam hal jenis usaha. 

Komentar soal isu kebhinnekaaan selama ini lebih banyak dialamatkan untuk urusan SARA. Seolah-olah fenomena pemaksaan terhadap pudarnya ke Bhinneka-an dalam dimensi sosial, dimensi bisnis dinafikan. Padahal, suka tidak suka korban telah berjatuhan. Dan hal itu terjadi secara masif.

Dalam hal pendidikan juga sama, buku teks menjadi sama, ujian juga sama, kurikulum, guru dan libur juga sama. Indonesia yang memiliki sumber pengetahuan dan kebajikan dari berbagai sumber menjadi hilang. Sekolah tidak lagi dapat mengajar sesuai dengan garis pemikiran. Sekolah pesantren dan Alliyah dipaksa mengakui kurikulum nasional. 

Kalaupun ada yang boleh berbeda, adalah pendidikan yang bernuansa internasional atau asing. Jika sekolah berbahasa jawa, batak atau sunda tidak diperkenankan, tetapi sekolah berbahasa Inggris, China dan Arab diperkenankan. Bhinneka tidak berlaku bagi anak negeri, tetapi berlaku untuk orang asing.

Indonesia tidak lagi Bhinneka, saat rumah-rumah dalam satu kompleks relatif sama. Sama-sama orang berkecukupan, tidak lagi ada rumah si orang kaya bersebelah dengan si miskin. Arisan-arisan diisi oleh mereka yang mirip secara ekonomi, yang kaya berkumpul dengan si kaya, si miskin juga sama.

Mal-mal menjadi seragam pengunjungnya. Ada mal si kaya dan ada mal si miskin. Warung kopi menjadi serba merk a, atau b atau c. Makanan instan jadi itu-itu saja. Minuman cola hanya merk itu-itu. Hilang sudah merk yang dulu pernah ada. Mati sudah lidah ini, karena hanya dapat memilih yang itu-itu saja.

Hilangnya kebhinnekaan di atas jauh lebih bahaya dibandingkan perbedaan SARA. Konflik horizontal karena perbedaan si kaya dan si miskin jauh lebih hebat dari konflik antar suku bahkan antar agama. Jika pun ada konflik agama, semuanya disundut oleh ketimpangan. 

Hari ini kita disuguhkan oleh isu kebhinnekaan tentang SARA, padahal republik tercinta ini sudah sangat maju untuk urusan teraebut. Ke Bhinnekaa-an soal eksistensi manusia dengan kehidupannya jauh lebih utama. Bukankah republik ini berdiri, karena Belanda tidak mengakui eksistensi kehidupan bangsa Indonesia. Belanda yang begitu pongah, yang menganggap kita bukan IKA, sama-sama manusia.

Dalam tinjauan metakognisi, kebhinnekaan menyangkut nilai-nilai kemanusiaan. Artinya, kita mengakui eksistensi manusia sebagai satu kehidupan bersama. Mengakui kesatuan (ika) dalam menerima dan mengakui pihak lain juga punya tempat di muka bumi.

Metakognisi menjelaskan bahwa hidup dalam ke bhinneka-an sebagai sebuah keniscayaan dalam kehidupan manusia. Keyakinan bahwa jika hidup berdampingan dan memperhatikan eksistensi pihak lain, maka hidup akan berjalan lebih baik. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN