Mohon tunggu...
Guido
Guido Mohon Tunggu... www.touringtokomodo.com

ngopce sambil nyuluh

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Perempuan Manggarai Itu Disayang, Bukan Ditendang!

17 April 2021   02:52 Diperbarui: 19 April 2021   07:13 217 32 7 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Perempuan Manggarai Itu Disayang, Bukan Ditendang!
Perempuan Manggarai (Dok. Aten Dhey)

Di dalam tataran kehidupan sosial masyarakat Manggarai, peran kaum adam itu banyak, salah satunya adalah menjadi pelindung kaum hawa (bisa itu istri, anak perempuan dan keluarga biologisnya. Bisa juga keluarga perempuan sosiologisnya/tetangga di lingkungan sekitar).

Maka celakalah seorang lelaki apabila sampai bertindak banal dan gampang bermain fisik dengan perempuan (gampang, karena didasari oleh alasan yang tidak jelas atau karena persoalan sepele).

Sebagai imbalan dari perilaku barbarnya itu, otomatis dia akan menerima sangsi sosial (termasuk cibiran dan gosip dari tetangga sekitar) maupun hukum adat berupa jaji (denda, menyerupai uang atau hewan).

Lebih lanjut, ada sebuah ajaran holistik yang hingga saat ini melekat dan tertanam dalam diri laki-laki Manggarai, yakni "lami de di'a weta, wina agu anak inewai" dan "neka keta de gelang teti lime agu inewai". Kedua ajaran ini ingin menegasikan kekerasan terhadap perempuan.

Tidak ada memang aturan tertulis dan/atau yang secara jelas mengatur tentang hal itu, tapi lebih dimaknai sebagai sesuatu yang inheren pada diri laki-laki Manggarai. Semua tunduk di bawah kesadaran itu.

Ajaran sosial "menjaga dan menghormati perempuan" a la masyarakat Manggarai ini bermuara pada pandangan luhur para leluhur tempo dulu mengenai eksistensi perempuan. Di mana perempuan dilihat sebagai simbol kesuburan dan kehidupan.

Konon, zaman dahulu, ada sebuah wabah mematikan terjadi di Manggarai. Dan wabah itu banyak merenggut nyawa kaum ibu dan umumnya perempuan. Sebagai alternatifnya, banyak lelaki Manggarai yang mencari istri di luar pulau. Hal ini dilakukan dalam rangka menjaga keberlangsungan hidup generasi penerus dari sebuah klan/suku-suku di Manggarai. Barulah ketika wabah itu berlalu, rasio kelahiran di Manggarai bisa berdenyut kembali.

Singkat cerita, saya mengisahkan cerita ini sebagai gambaran umum kenapa perempuan Manggarai dimaknai sebagai simbol kesuburan dan kehidupan.

Meski demikian, semakin ke sini, tak bisa terelakkan lagi bila masih ada kasus kekerasan yang terjadi di dalam rumah tangga Manggarai. Tapi, jumlahnya tidak banyak memang.

Kasus-kasus kekerasan seperti ini biasanya menyasar kaum ibu/istri. Picunya varian dan didasari oleh masalah-masalah besar. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN