Mohon tunggu...
Reba Lomeh
Reba Lomeh Mohon Tunggu... Salam Cengkeh🌱

penikmat kopce dan semua bacaan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Menulis dari dan untuk Petani

10 April 2021   03:20 Diperbarui: 10 April 2021   13:24 140 28 9 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menulis dari dan untuk Petani
Dok. Pribadi

Hampir 80 persen artikel yang saya anggit di kompasiana adalah artikel pertanian dan/atau cerita dari dan seputar kebun keseharian. Dan kesemuanya itu saya dedikasikan untuk petani di negeri ini.

Menulis dari dan untuk petani

Galibnya, ketika menulis seputar artikel pertanian (termasuk tulisan yang saya publikasi di luar kompasiana), saya selalu didorong oleh semangat survival: saya menulis untuk petani di negeri ini.

Dengan mengatakan demikian, saya juga tidak ingin mendaku diri (sambil nepuk-nepuk dada) sebagai orang yang paling peduli dengan nasib petani di negeri ini. Tidak, tentu saja.

Karena saya berpikir, di negeri agraris ini, eksistensi petani kurang diperhatikan secara serius. Ya, sebagaimana bertolak dari terminologi negeri agraris, sudah seyogianya sektor pertanian dan diskursus kehidupan petani di negeri ini perlu dijadikan proporsi penting. Kosekuensi logisnya itu sebenarnya.

Fakta lain juga menyuguhkan bahwa, perhatian bangsa terhadap sektor pertanian kita tidaklah selalu pararel dengan wacana publik yang selalu berharap kehidupan petani harus diperhatikan betul.

Lebih lanjut, kita semua tentu saja tak bisa mengelak lagi, bila pertanian merupakan sektor paling vital karena bersentuhan langsung dengan hajat hidup banyak orang.

Hal esensial inilah yang selalu saya sampaikan lewat tulisan-tulisan saya. Meski, ada kalanya pesan penting itu terkadang tersembunyi rapat di balik dominasi harga cabai yang gagah-gagahan berapa pekan belakangan ini di tingkat petani. Tapi, lagi-lagi, harus disadari pula bahwa harga cabai yang 'pedas' itu bersifat temporal dan tidak selamanya melambung. 

Saya pikir petani cabai dalam hal ini sudah khatam membaca fenomena naik turunnya harga cabai beberapa tahun belakangan ini. Kalau belum mafhum juga, bertanyalah pada petani cengkeh untuk kasus ini, bila perlu.

Untuk keluar dari ketidakpastian harga jual komoditas pertanian ini, dalam setiap tulisan saya selalu mengusulkan bahwa ada baiknya pemerintah kita menetapkan standarisasi harga jual komoditas. Supaya jelas dan tidak kabur air!

Sikap tersebut seharusnya diambil oleh pemerintah sebagai upaya menunjukkan keberpihakannya terhadap nasib petani di negeri ini. Agar supaya, petani tidak melulu dikacangin oleh pengepul dan/atau dikatrol dengan harga seenak udelnya oleh kaum kapitalis yang selama ini menjadi pemain tunggal di pasaran.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x