Mohon tunggu...
Reba Lomeh
Reba Lomeh Mohon Tunggu... Petani Jungkir Balik

Peminat Pertanian dan Filsafat | Penikmat Kopi

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

100 Sak Semen dari Paroki St. Yoseph Laja untuk Pembangunan Masjid di Maumbawa, Ngada NTT

14 Februari 2020   16:56 Diperbarui: 15 Februari 2020   11:04 290 12 7 Mohon Tunggu...
100 Sak Semen dari Paroki St. Yoseph Laja untuk Pembangunan Masjid di Maumbawa, Ngada NTT
Bantuan 100 sak semen oleh umat Paroki St. Yoseph kepada umat Islam Maumbawa, Ngada (Vigonews.com)

Beberapa hari yang lalu kita dihebohkan dengan rencana pemerintah membuat terowongan silaturahmi yang menghubungkan Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral.

Sontak timbul pro dan kontra dikalangan masyarakat dalam menimbang rencana pemerintah pusat ini. Ada yang merasa perlu tapi ada pula yang tidak.

Terlepas dari itu, ikhtiar pembuatan terowongan ini dimaksudkan sebagai sarana dan atau simbol toleransi antar umat beragama. Yang di narasikan pula bahwa kedua umat beragama (Islam-Kristen) nantinya bisa saling berhubungan melalui terowongan itu hingga bisa saling bersilaturahmi.

Secara pribadi saya sangat mendukung niat baik dan mulia pemerintah pusat ini. Tentunnya dalam rangka mengencangkan tali ikatan silaturahmi antar ke dua umat beragama dalam satu gazebo toleransi.

Lebih lanjut, sikap toleran yang ingin diejawantahkan melalui pembuatan terowongan ini secara simbolik adalah wujud aksi kemanusiaan yang paling agung dalam ruang sosial yang sangat prulal.

Kita tahu juga didepan mata kita, fenomena intoleransi seperti perusakan rumah ibadah baik Masjid, Gereja, Pura masih merebak dibeberapa reksa wilayah ditanah air. Pun diikuti ihwal tindakan banal lainnya dalam ruang sosial yang minim sikap toleransi.

Simptomnya adalah kecurigaan tinggi, paranoid dan kecemburuan sosial. Selebihnya, kesadaran akan rasa persaudaraan masih sangat jongkok.

Dalam kaca mata saya, pembuatan terowongan ini secara simbolik dimaksudkan pemerintah sebagai salah satu sarana dan atau saluran menumbuh kembangkan sikap toleransi beragama bagi masyarakat kita.

Terlepas dari tetek bengeknya rencana pembuatan terowongan ini, pada kesempatan kali ini saya ingin berkisah sedikit tentang seorang Pastor Paroki St. Yoseph Laja, Kabupaten Ngada-NTT yang baru-baru ini menyatakan solidaritas mereka kepada umat Muslim yang sedang membangun Masjid.

Solidaritas Kami Orang NTT

"Kami (orang NTT) boleh tertinggal dalam segala hal, tetapi soal toleransi beragama kami perlu diperhitungkan"

Aksi solidaritas umat Paroki St. Yosep kepada umat Muslim di Maumbawa, Ngada ini sedini menjadi anti-tesis ditengah mirisnya kabar intoleransi yang terjadi di Negeri kita belakangan ini.

Rasa solidaritas umat Katolik di Laja untuk umat Muslim Maumbawa ini ditandai dengan memberi bantuan 100 sak semen untuk membangun Masjid Nurul Huda yang masih berlangsung hingga saat ini.

Suatu sisi, pemberian bantuan ini memang bisa katakan tidak seberapa besar, tapi ini bukti solidaritas umat Katolik dan merupakan bentuk toleransi dalam membangun suatu dialog karya (silaturahmi) antar kedua umat beragama diwilayah itu.

"Ini merupakan bentuk solidaritas umat Katolik kepada umat Muslim. Karena kami sudah menganggap mereka saudara kami. Sejak dulu sudah ada dialog yang baik seperti melalui kegiatan dari kedua unat beragama ini. Jadi kalau mereka ada beban, kami rasa itu juga beban kami" Kata Romo Anisetus. Pastor Paroki St. Yoseph Laja, seperti dilansir dari Vigonews.com

Saya pikir ini hanyalah salah satu contoh dari sekian banyaknya aksi solidaritas antar umat beragama di reksa wilayah Nusa Tenggara Timur.

Islam dan Katolik bagi masyarakat NTT adalah 'basodara' (Saudara). Masyarakat NTT sudah tumbuh dalam budaya yang mengakar dengan budaya gotong- royong, saling senyum dan saling sapa. Semua sejahtera, sama rasa.

Dan bila menyelisik kasus intoleransi yang merebak di Negara kita akhir-akhir ini, ada baiknya kita memikirkan kembali konsep 'arus balik'. Ya, mengambil kembali nilai-nilai agung budaya Nusantara yang kaya, permisif dan ramah.

Hemat saya, budaya toleransi terletak di dasar budaya Nusantara itu. Jangan-jangan kita sedang terlempar jauh dari budaya kita sendiri?

Jawabannya ada pada secuil senyum aneh saya, Anda, dan tetangga kita.

Bacaan: Satu

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN