Mohon tunggu...
Reba Lomeh
Reba Lomeh Mohon Tunggu... L☆buan Bajo

Setiap pohon yang baik memiliki akar yang kuat | Peminat Pertanian dan Filsafat

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Tidak Ikut "Terpanggil"

16 Januari 2020   05:14 Diperbarui: 16 Januari 2020   06:00 93 11 4 Mohon Tunggu...
Tidak Ikut "Terpanggil"
Ilustrasi Oto Kol (gambar gramha.net)

Pagi-pagi buta dengan perawakan cuaca yang agak kurang bersahabat dan disertai pula dengan tiupan angin kencang, saya dan sang bapak berdiri didepan rumah sembari menunggu Oto Kol lewat.

(Otto Kol adalah sebutan untuk mobil kayu. Tepatnya mobil colt yang dibelakangnya dipasang kayu dan dimodifikasi untuk ditumpangi penumpang. Ditempat saya Otto Kol dipakai sebagai angkutan antar desa ke kota)

Rencanananya pagi itu, kami berangkat menuju ke Seminari tempat saya mengeyam pendidikan sekolah menengah pertama (SMP). Tempat tujuan kami itu sangat jauh. Terhitung melewati dua kabupaten.

Sewaktu itu berat rasanya ketika harus melangkah dan meninggalkan keluarga tercinta. Apalagi untuk pertama kalinya harus tinggal berjauhan dengan orang tua. Sedikit ada beban, hingga akhirnya sayapun menangis.

"Hae kenapa menangis lagi?" Sahut sang bapak
"Aee ta saya sekolah (SMP) disini saja. Saya tidak mau jauh dengan bapa mama" rintihan saya yang dibalas tawa oleh bapak
"Haha.. ta de. Bagus di seminari tu ee. Nanti disana anak punya teman banyak. Asik disana" berusaha menenangkan saya.

Kucuran air mata saya sedikit demi sedikit mulai mereda. Sedini saya dikuatkan plus ditambah sentuhan lentik jari sang mama yang seakan meneguhkan batin.

****
Tak lama kemudian, ketika kopi dalam gelas kami tersisa setengah, Otto Kol tumpangan kami pun berhenti persis didepan rumah. Saya dan bapak pun bergegas naik keburu dikejar waktu. Kendati hari itu pula batas terakhir saya harus masuk asrama.

Dari balik pagar rumah, senyum hangat mama pun mengiringi kepergian kami.

Singkatnya, kami sampai di asrama seminari sore harinya. Cukup melelahkan karena hampir menghabiskan 9 jam waktu perjalanan. Tidak lama kemudian, bapak yang ikut menghantarkan saya pun pamit pulang, dan menyerahkan saya sepenuhnya kepada bapak pembina yang kebetulan seorang Pastor tersebut.

Kesedihan sayapun kian menjadi-jadi. Tapi sang pastor berusaha memberi pengertian, bahwasannya seminari merupakan rumah ke-2 dan dia adalah orang tua yang akan bertanggungjawab sepenuhnya atas saya.

"Okay fine" jawab saya dengan wajah lugu lagi polos-polosnnya

Singkat cerita, saya pun didaulat menjadi anak asrama sejak saat itu. Sedini saya mulai berkenalan dengan banyak teman, dengan senior hingga mulai beradaptasi dengan pola hidup dan aturan asrama.

Tempat saya bersekolah dulunya itu bernama Seminari Pius XII Kisol. Sekolah ini merupakan tempat pendidikan imam (biarawan Katolik). Seminari ini sendiri didirikan oleh almahrum Pater Leo Perik,SVD, seorang misionaris asal Belanda.

Selain mencetak banyak imam, seminari ini pula merupakan tempat dimana pak Johnny G. Plate, Bony Hargens dan Benny Harman dulu pernah menamatkan diri. Bedanya mereka dengan saya ialah, kalau mereka menuntaskan pendidikannya genap enam tahun, sementara saya hanya sekadar numpang dua tahun saja. Hehe

Ya, saya hanya bertahan dua tahun saja disana. Sebenarnya yang menjadi ihwal terdepaknya saya dari sana dulunya ialah bukan karena masalah akademis--kongnitif, melainkan karena terlalu kepala batu dengan aturan. Sering bolos dan malas-malasan.

Kedua sikap tak ajek yang sering saya tunjukan ditahun ke-2 ini merupakan tindakan yang tidak bisa ditolerir. Sehingga akhirnya saya dipersilahkan angkat koper dari sana.

Hampir tidak ada penyesalan dan merasa bersalah sekali pun. Toh berangkat dari motivasi diri karena sudah tidak kuat lagi mengikuti dan menaati aturan asrama yang super njelimet ruwet itu.

Setelah dipanggil menghadap pembina asrama, disana saya didakwa atas kasus-kasus saya dan sedini menerima surat pengeluaran tersebut. Saya waktu itu santuy saja dan penuh energik. Hanya saja tersimpan perasaan kurang enak bila kedua orang tua saya mengetahui akan hal ini.

"Maaf, anak anda kami kembalikan. Karena kami menyadari, kami tak bisa membinanya lagi disini" begitu kira-kira bunyi surat itu ketika saya membukanya.

Setelah malam hari saya resmi berpisah dengan teman-teman diasrama, paginya pun saya mudik ke kampung. Orang-orang rumah dan segenap keluarga besar terkaget-kaget ketika saya menceritakan kejadian itu selebar-lebarnya.

Beruntung saja kedua orang tua saya sangat permisif, kuat dan tidak terlalu reaksioner (Askenden) ketika menghadapi situasi saya waktu itu. Mereka pun memaklumi dan berkeyakinan bahwa saya adalah bagian dari mereka yang tidak "Ikut Terpanggil' untuk menjadi Penggembala.

Dan setelah itu, secepat cahaya saya didaftarkan menjadi murid baru disalah satu SMP yang letaknya 20 meter disebelah rumah. Disekolah baru tersebut, saya kemudian melanjutkan sisa-sisa masa SMP saya hingga tamat.

----------

Keterangan gambar Oto Kol:

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x