Mohon tunggu...
grover rondonuwu
grover rondonuwu Mohon Tunggu... Aku suka menelusuri hal-hal yang tersembunyi

pria

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Suhu Politik Mulai Masuk Tahap Cooling Down

1 Mei 2019   08:36 Diperbarui: 2 Mei 2019   06:39 0 0 0 Mohon Tunggu...

Semakin bertambah hari, perhitungan suara berdasarkan  "Real Count"  semakin  membuktikan  tingkat kepercayaan "Quick Count" yang dibuat lembaga-lembaga survey terpercaya di Indonesia  semakin nyata. 

Semakin bertambah suara masuk (progresi) pada perhitungan "Real Count" KPU, semakin menunjukkan tingkat keyakinan hasil "Quick Count"   semakin meyakinkan. 

Semakin mendekati jadwal Rekapitulasi  Perhitungan Suara, tanggal 22 Mei 2019,   semakin membuktikan bahwa claim Prabowo sebagai pemenang Pilpres adalah keliru.  Real Count telah mematahkan semua argumen yang tidak berdasarkan fakta.

Kekalahan Prabowo adalah fakta yang tidak bisa dibantah. Akibatnya koalisi Prabowo semakin lemah. Mengapa? Karena tidak mungkin membangun sebuah koalisi politik berdasarkan kebohongan. Membangun sebuah koalisi, sama dengan membentuk kontrak kerja sama. Sebuah kerja sama hanya bisa efektive jika dibangun berdasarkan kepercayaan, bukan kebohongan.    

Partai-partai pendukung Prabowo -Sandi mulai mundur satu persatu. Yang kehilangan kewarasan karena keyakinan menang berlebihan, mulai kembali menjadi waras. Bahkan Sandiaga Uno yang suka bersandiwara itu, sudah kembali berpijak pada dunia nyata.

Seperti pelari maraton, setelah mencapai finis, saatnya "Cooling down" atau pendinginan. Fungsinya agar otot dan persendian yang tegang karena aktivitas yang sangat intens, dapat kembali dilemaskan dan dikembalikan ke posisi fisiologisnya. Cooling down  itu penting untuk mencegah terjadinya kekakuan dan nyeri otot pasca olahraga.  

Pilpres dan Pileg itu seperti lari marathon. Perdebatan yang panas, pro dan kontra yang menegangkan,yang terjadi dalam tempo lama dengan intensitas yang tinggi, membuat masyarakat kita menjadi sangat sensitive, gampang explotion.  Suhu politik ditengah masyarakat sangat panas akibat gesekan yang terus menerus dan padat itu.

Sekarang Pilpres Pileg telah selesai. Yang menang senang, yang kalah sedih. Tapi baik yang menang maupun kalah sama-sama melorot staminanya. Karena itu tubuh yang panas, hati yang panas dan kepala yang panas, mesti  didinginkan secara bertahap. Supaya tubuh kembali lemas, kepala menjadi dingin, hati menjadi lembut. 

Semua politikus yang bertarung sekarang mulai tiba pada tahap "Cooling down" itu. Semula saling menyerang, sekarang saling rangkul. Begitu juga dengan masyarakat. Yel yel 01, yel yel 02, sudah selesai.

Sekarang kita angkat cangkul sama-sama dan menanam sama-sama. Sekarang waktunya kembali pada pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Semua rakyat kembali pada rutinitas, pada normalitas.

Partai-partai yang telah menembus "Parlementary threshold" atau ambang batas parlemen, sekarang lagi bersiap-siap, apakah mereka duduk sebagai pendukung pemerintah atau menjadi oposisi. Tapi yang pasti kita berharap mereka benar-benar menjadi wakil rakyat yang akan memperjuangkan nasib rakyat seperti yang telah mereka janjikan pada waktu kampanye.

Tahap "Cooling down" sangat berguna bagi partai politik, pemerintah, oposisi, birokrat dan terutama sebagai rakyat. Pendinginan suhu dan atmosphere politik itu adalah bagian dari penyehatan kembali tubuh demokrasi yang babak belur dan kelelahan akibat pertarung Pilpres-Pileg.

Tapi kita masih menyaksikan ada kelompok yang menuduh KPU curang. Mereka terus menerus medelegitimasi KPU. Kelompok ini datang dari Ormas garis keras, pendukung Prabowo. Tentu saja yang namanya garis keras, akan tetap keras, baik dalam keadaan menang maupun kalah. 

Dimanapun dan kapanpun, kelompok garis keras itu selalu panas. Mereka justru akan semakin eksis, jika masyarakat hidup dalam polarisasi yang tajam dan "taut" , seperti tali yang tegang. Mereka akan semakin eksis bergelantungan ditali yang tegang dan  hampir putus itu.

Paham garis keras baik dari kelompok kanan jauh maupun kiri jauh, akan menggangu sistim demokrasi. Karena itu  sulit sekali membangun demokrasi yang sehat  diatas bangunan politik yang terlalu timpang kekanan atau timpang kekiri.

Saya pikir polarisasi dan taut bukan bagian dari kebudayaan asli  suku-suku bangsa yang hidup diIndonesia. Kebudayaan yang dianut masyarakat kita adalah "Harmoni". Artinya masyarakat kita lebih cenderung  memilih jalan hidup selaras, dari pada menempuh jalan  konfrontasi.


Selaras dengan Pencipta, selaras dengan alam dan selaras dengan sesama manusia, merupakan kebudayaan asli suku-suku bangsa yang hidup di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x