Novel Pilihan

Secret Club - Chapter 3

10 Februari 2019   07:26 Diperbarui: 10 Februari 2019   07:37 61 0 0

Chapter 3 -- Bakat tersembunyi 

Narator: Frederick Henderson Sibarabara

Setelah aku bertemu dengan Natalia. Aku berpikir tentang dia, aku mulai menyelidiki tentang dia. Aku masuk ke dalam ruangan perpustakaan merahku dan melihat profile dia. Perasaan ingin tahuku sangat tinggi. Aku juga membuka computerku dan menyelidiki informasi dia dengan teliti. 

Selama informasi yang aku temukan bahwa dia anak yang talenta dan memiliki piala dan piagam karena dia memiliki bakat yang sangat banyak. Dia pernah ikut dalam acara sekolah dengan bernyanyi. Dia juga berbakat memainkan semua alat musik, terutama grand piano. 

Saat kelas 5 dia telah menangkan juara 1 dari olimpiade matematika. Benar-benar prodigy child dalam 500 tahun. Dia melebihi seperti manusia biasa. Saya tidak terlalu pintar dan saya cuma membaca buku. Saya tidak memiliki bakat yang sangat banyak seperti Natalia. 

Saya bisa mengingat suara dan kata-kata yang ada di dalam buku. Saya bisa menyebut diri saya seperti manusia recorder. Bisa merekam kata-kata dengan cepat dan tidak mudah lupa. Saya juga masih mengingat halaman berapa yang saya baca dan tentang apa di halaman itu. Semua kata bisa saya ingat yang saya simpan dalam memori saya.

Kemampuan saya itu, diturunkan dari mama saya yang memiliki kemampuan photographic memory yang sangat hebat. Itu sebabnya dia bisa menjadi ahli bedah yang sangat handal. Kemampuan ini orang sebutkan sebuah berkat pemberian dari Tuhan, tapi saya menyebutkan bahwa itu sebuah kutukan. 

Saya bisa sebutkan "Semua tidak sempurna" di dalam dunia ini. Mama saya telah kehilangan empati dan perasaan manusiawi. Semua keluarga mama memiliki penyakit keturunan yaitu penyakit ketidakwarasan yang sering diturunkan. Saya berkhayal dan suka berbicara sendiri dan berbisik-bisik. 

Mama saya sering juga melakukan itu saat dia memberikan makanan kepadaku. Dia pernah memiliki depresi besar dengan cara mengunci dirinya di ruang kerjanya. Untungnya ketidakwarasannya tidak menganggu orang sekitarnya. Orang yang tidak waras biasa ada yang menyerang orang sekitarnya. 

Keuntungan dari mama saya ini sangat telaten dan disiplin. Dia bisa mengatur jam makan obatnya. Obat yang diberikan adalah anti-psychotic dan anti-depression. Itu sebabnya tingkah lakunya tetap terjaga. 

Meskipun dia tahu ketidak warasan dia, dia tetap menjaga rutinitas pengobatannya demi saya. Karena dia mencintai saya melebihi dari suaminya. Dia mencintai saya, karena saya adalah gambaran dirinya yang masih muda. Itu sebabnya saya dimasukan ke sekolah yang ternama ini. 

Saya memakai baju seragam ini melambangkan kebanggan bagi diri dia dan diri saya sendiri. Saya bangga karena saya berusaha melebihi dari kakak saya yang dibanggakan oleh papa saya.

Papa seorang pengusaha yang sangat hebat, kreatif, dan ceria. Semua orang menyukai dia selayaknya seorang dermawan. Dibalik senyumnya, dia tidak berikan kepada keluarganya, terutama saya. Saya seperti produk gagal di depan dia. Dia lebih mengutamakan nama baiknya tidak tercemar, tapi dibalik kehidupan keluarganya tidaklah sempurna yang seperti orang luar bayangkan. 

Papa saya selalu bercerita dan membanggakan putra sulung dan sering cerita ke teman-temannya, bahwa kakak saya sedang kuliah di London di Universitas terkenal di sana. Sedangkan Papa saya sendiri tidak tahu nama Universitas kakak saya sendiri. Dia tidak peduli nama Universitas, dia pedulikan anak sulungnya sedang kuliah diluar itu saja. 

Kakak saya selalu berkata, semua keputusan saya bukan berasal dari papa kami, melainkan keputusan saya sendiri dan mama. Papa yang selalu memberikan perintah bahwa anaknya harus sekolah dipilih orang tuanya, jangan mengambil Universitas of Art, itulah sebuah lelucon atau sampah. 

Papa saya, kalau kamu ingin sukses kamu harus mengambil sekolah Business atau sekolah kedokteran. Dia berkata begitu, supaya dia bisa menunjukan kepada teman-temannya bahwa anak saya telah menjadi dokter dan manager. Keputusan yang diambil oleh papa saya ini adalah keputusan yang benar bagi masa depan saya. 

Pertanyaan saya adalah," Apa saya senang setelah mengambil sekolah yang bukan jurusan saya?" Saya memang tidak senang akan pilihan papa saya. Saya cuma berpikir dalam pikiran saya," Papa tidak pernah membiayakan saya sekolah. Sekarang papa mau urus campur urusan saya sekolah?" 

Kehidupan papa masa sekecil, hidup dalam keluarga besar. Dia tidak pernah diurus oleh orang tua, melainkan neneknya dan pengurus di rumah. Nenek dan Kakeknya cuma memerintah pembantu dan menyewa guru les datang ke rumah dan belajar. Papaku lahir dari istri kedua, Kakek saya ini dulu mempunyai banyak istri dan dia telah cerai berkali-kali. 

Karena di rumah Neneknya yang sangat megah, dia tidak boleh keluar dari rumah dan pergi sekolah harus bersama saudara-saudara dia lainnya. Pulang ke rumah langsung makan, mandi, tidur siang, dan sore hari belajar dan terakhir makan malam bersama keluarga besar. Saudara-saudara lainnya adalah termasuk sepupu-sepupunya juga. 

Nenek dan Kakek buyut memiliki banyak 4 anak laki-laki dan semua anak laki setelah menikah harus tinggal di rumah mereka dan tidak boleh terpisah. Itu sebabnya rumah dia sangat penuh dan besar. Karena didikan nenek dan kakek buyut sangat keras, dia sering sekali dipukul dengan rotan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4