Mohon tunggu...
Grisyelda Tabitha Kristy
Grisyelda Tabitha Kristy Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Universitas Sebelas Maret yang sedang belajar menuangkan pemikirannya dalam sebuah karya

Lahir di Surakarta, Juli 2004

Selanjutnya

Tutup

Film

Pengaruh Peran Gender dalam Produksi Film Disney dari Masa ke Masa

16 Oktober 2021   21:53 Diperbarui: 16 Oktober 2021   21:57 158 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Film. Sumber ilustrasi: PEXELS/Martin Lopez

Walt Disney Animation adalah perusahaan industri film terbesar di dunia. Perusahaan yang  bekerja di bidang hiburan sejak tahun 1923 ini telah sukses meraih berbagai penghargaan Internasional yang bergengsi. Selain itu, film yang ringan tapi penuh dengan pesan moral ini, sangat menarik dan diminati oleh semua kalangan dari berbagai usia.  Nah, Salah satu hasil karya Disney Animation tersukses adalah cerita tentang para putri kerajaannya, yang eksistensinya masih bertahan sampai saat ini. Tapi tahukah kamu bahwa cerita yang sering ditonton oleh anak-anak ini, dipengaruhi oleh pandangan gender sesuai masa tersebut? Apa saja perbedaan cerita Putri Disney mulai zaman klasik sampai zaman kontemporer ini? Yuk kita bahas!

Akhir-akhir ini, kesetaraan gender dan feminisme adalah topik yang sedang hangat dibicarakan. Cukup banyak hal yang telah berubah dari masa klasik sampai saat ini. Misalnya sebelum Perang Dunia II, wanita tidak memiliki hak atas tubuh mereka sendiri. Wanita hanya bergantung kepada pria dan bekerja sendiri untuk mengurus rumah dan anak-anaknya. Tetapi saat ini pemikiran tentang wanita telah berubah. para wanita telah mendapatkan kebebasan mereka dalam persamaan hak, upah, pekerjaan, pendidikan, dan lain-lain.  Hal ini tentunya berdampak pada semua sektor, tidak terkecuali industri dunia hiburan.

Produksi film Disney Princess memiliki kekuatan untuk mendapatkan perhatian penonton dan memberi pengaruh melalui cerita menarik yang sesuai dengan keadaan masyarakat sosial saat itu. Dengan tokoh utamanya yang adalah wanita, proses pembuatan ceritanya dipengaruhi oleh pandangan masyarakat tentang peran wanita di setiap zaman. Melalui film tersebut, Disney menargetkan agar film ini ditonton oleh kalangan wanita mulai anak-anak, remaja, bahkan dewasa sehingga pesan tentang gambaran karakter wanita "yang seharusnya" dapat tersampaikan secara tidak langsung. Film Disney Princess dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu the classic princesses, rebels, dan contemporaries. Terdapat perbedaan sikap, bentuk tubuh, dan gaya hidup putri dalam setiap zamannya yang menggambarkan peranan wanita saat itu pula.

Pertama, The Classic Princesses (1937-1959)

Masa ini adalah masa awal munculnya tokoh fiksi Disney. Kisah putri klasik ini disebut juga "Damsel in Distress Era" yang artinya putri harus menunggu seorang pangeran berkuda putih untuk datang menyelamatkannya. Pada masa ini, Disney mengeluarkan tiga kisah putri kerajaan pertamanya yang sukses besar yaitu "Snow White and the Seven Dwarfs" (1937),"Cinderella" (1950),dan "Sleeping Beauty" (1959). Kisah dalam masa ini sangat menggambarkan sikap, cara berpikir, kehidupan, dan makna kecantikan bagi  para wanita masa itu.

"Snow White and the Seven Dwarfs", karakter putri kerajaan pertama yang diciptakan Disney, digambarkan dengan bentuk tubuh langsing, kulit putih seperti salju, pipi merah merona, dan sifat baik hati serta rajin bekerja. akan tetapi, ia terlalu naif  karena sangat mudah tertipu oleh perempuan tua asing yang memberinya apel yang katanya dapat mengabulkan harapan. Ia tidak mengindahkan pengingat para binatang hutan untuk tidak memakannya, dan di akhir cerita pangeran datang menyelamatkan nyawanya. Cerita ini didasarkan pada keadaan masa itu, di mana para wanita saat itu harus bekerja di rumah tanpa mendapat pendidikan sehingga mudah untuk ditipu.

Selanjutnya adalah "Cinderella"(1950). Ia adalah karakter putri yang paling terkenal sepanjang sejarah, bahkan sudah menjadi ikon pada Disney. Sama seperti Snow White, karakter ini digambarkan sempurna dengan tubuh langsing, rajin bekerja, warna rambut blond, wajah halus tanpa noda, dan pembawaan diri yang anggun serta baik hati. Tetapi disisi lain, sikap Cinderella cenderung lemah karena hanya diam saat di perlakukan tidak adil oleh ibu dan kakak-kakak tirinya, serta hanya berharap akan bertemu cinta sejatinya. Begitu pun dengan "Sleeping Beauty". satu lagi kisah Disney klasik tentang seorang putri berparas cantik, tetapi mendapat kutukan, yang dapat dilepaskan hanya jika mendapat ciuman dari cinta sejati.

Ketiga cerita putri klasik ini merepresentasikan karakter wanita pada masa itu yang hanya boleh diam dan bersembunyi dibalik kata "kebaikan hati" tetapi sebenarnya merugikan mereka. Pada masa itu, sebagian besar wanita ditekan untuk segera memiliki pasangan. Tetapi, para wanita ini tetap mempertahankan sifat baik yaitu kebaikan hati, kesabaran, dan harapan yang saat ini sulit ditemukan.

Kedua, Rebells Era (1989-1998)

Pada masa ini, zaman mulai berubah. Wanita mulai mendapatkan kebebasan dan pendidikan yang setara dengan pria. Maka, mulai tahun 1989 Disney memulai era barunya dengan nama "Rebells Era". Rebel artinya pemberontak atau melawan. Jadi, pada masa ini, karakter Disney digambarkan memiliki rasa bebas dan ingin tahu yang tinggi. Mereka bertekad mengejar mimpi mereka sendiri tanpa menjadikan pria sebagai alasan utamanya. Tema pada masa ini adalah tekad, petualangan, keberanian, dan cinta.

Masa ini diawali oleh film "Little Mermaid" (1989) yang mengisahkan petualangan seorang putri duyung yang penasaran dengan dunia manusia, sehingga ia bertekad untuk mencari tahu lebih banyak tentang dunia manusia walaupun harus melanggar peraturan. Menarik, pada film ini Ariel lah yang menyelamatkan pangeran dari kematian bukan sebaliknya. Selanjutnya adalah film "Beauty and the Beast" (1991). Belle (tokoh utama) memiliki karakter yang pantang menyerah, suka membaca, memiliki wawasan yang luas terhadap dunia, dan tujuan hidupnya bukan untuk menunggu pangeran. Meski cantik, Belle menolak menikah dengan Gaston yang kaya dan terhormat, karena Gaston memiliki sifat yang buruk. 

Lalu "Pocahontas"(1995),"Aladdin"(1992), dan "Mulan"(1998) memulai inovasi baru dalam industri Disney Princess. Disney mengubah standar "cantik" yang selama ini melekat pada para wanita bahwa cantik tidak harus berasal dari etnis tertentu, berambut panjang, berkulit putih, berambut pirang, dan bersikap anggun. Ketiga film ini menggambarkan kecantikan dari belahan dunia lain yaitu suku Indian, Arab, dan China. Bukan hanya cantik, mereka juga mempersuasikan bahwa wanita bisa menjadi apa saja. Misalnya Pocahontas yang berani menyelamatkan pria yang dicintainya dari serangan sukunya, Putri Jasmine yang tidak mau menikah jika pada akhirnya dia hanya duduk manis dan yang memimpin negara adalah suaminya, dan Mulan yang berani mematahkan pandangan bahwa tentara harus berjenis kelamin laki-laki, dengan menyelamatkan negaranya.

Dari penggambaran karakter putri masa Rebels ini, menunjukkan bahwa para wanita saat itu, telah mendapatkan kesetaraan dengan pria sehingga bisa mengejar impian dan cita-cita mereka bersama, sangat berbeda dengan zaman klasik. Disney merepresentasikan kepada para penonton terutama anak-anak perempuan, agar tidak takut meraih mimpi mereka walau kadang dianggap aneh oleh orang lain.

Ketiga, Contemporaries Era (2009-sekarang)

Pada masa kontemporer, karakter tokoh utama putri digambarkan lebih independen dan kuat. Pada masa ini, pengaruh wanita lebih dominan daripada masa klasik maupun rebels. Masa ini diawali oleh kerja keras serta petualangan Tiana, seorang gadis Afrika-Amerika yang ingin mewujudkan impiannya dengan membuka restoran miliknya sendiri dalam film "The Princess and the Frog"(2009). Terlihat jelas bahwa mulai tahun 2000-an, kampanye mengenai rasisme dan feminisme yang gencar memengaruhi produksi film Disney Princess masa ini.

Selain itu, Disney juga semakin gencar memproduksi film yang merombak standar kecantikan wanita serta menghilangkan persepsi bahwa wanita harus segera menemukan cinta sejatinya agar hidup bahagia. Melalui film "Brave"(2012), untuk pertama kalinya Disney memproduksi film dengan penggambaran karakter tubuh lebih berisi, rambut keriting, gaya bicara tegas, dan putri pertama yang tidak tertarik dalam dunia percintaan. Disini, Disney kembali mempersuasikan bahwa standar kecantikan masing-masing orang berbeda. Apa pun bentuk fisik wanita, ia akan tetap dilihat cantik apabila memiliki tekad, keberanian, serta kebaikan dalam dirinya.

Masa ini juga disusul dengan film yang jangkauan cerita serta masalahnya beragam. Misalnya "Frozen" (2013) yang menekankan definisi cinta antar keluarga. keluarga merupakan cinta sejati kita yang pertama. Lalu "Moana" (2016) menceritakan kisah seorang anak kepala suku yang berusaha menyelamatkan tempat tinggalnya dengan bantuan sahabatnya Maui. Yang terbaru adalah "Raya and the Last Dragon" (2021) gadis tangguh yang berbakat menjadi pemimpin dan harus menghadapi tantangan untuk mengembalikan keluarganya. Selain itu, film Raya merupakan film Disney Princess pertama yang terinspirasi dari kebudayaan tradisional Asia Tenggara.

Dapat dilihat, bahwa pada masa ini, Disney menggambarkan karakternya berdasarkan keadaan masyarakat sosial saat ini, di mana kaum wanita yang dulunya dianggap lemah dan butuh bantuan pria, ternyata bisa berubah dan menjadi kuat walaupun tanpa bantuan pria.


Setelah membahas perbedaan penggambaran wanita dari masa ke masa, dapat disimpulkan bahwa zaman dan media saling memengaruhi. Dengan mengangkat isu terkini, media hiburan akan mendapatkan banyak keuntungan. Disney Princess telah sukses untuk menggiring persepsi penontonnya terutama anak-anak tentang "bagaimana aku harus menjadi?" sesuai dengan karakter fiksi tersebut. Meski begitu, Terdapat sisi positif serta negatif dari setiap masa perindustrian film ini. Maka, penting bagi kita untuk menikmati hiburan ini sambil memilah mana yang cocok dijadikan panutan dan mana yang harus dibuang.

 

Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan