Mohon tunggu...
Gregorius Nafanu
Gregorius Nafanu Mohon Tunggu... Petani - Pegiat ComDev, Petani, Peternak Level Kampung

Dari petani, kembali menjadi petani. Hampir separuh hidupnya, dihabiskan dalam kegiatan Community Development: bertani dan beternak, plus kegiatan peningkatan kapasitas hidup komunitas lainnya. Hidup bersama komunitas akar rumput itu sangat menyenangkan bagiku.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Merantau untuk Memperbaiki Nasib Ataukah Membuat Onar?

5 Juli 2022   13:08 Diperbarui: 5 Juli 2022   16:36 1100
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Police line pada  rumah yang rusak akibat bentrok kelompok NTT vs Maluku-Papua di Babarsari, Yogyakarta. Dok kompas.com/Yustinus Wijaya Kusuma

Kita semua anak rantau jadi kawan; Mari nyanyikan rindu kampung halaman.

Kita semua anak seb'rang susah senang; S'lalu berbagi rasa di tanah orang.

Mari kita mainkan saja; Peran yang diberikan.

Mari kita satukan tangan; Rasa Persaudaraan.

Hampir semua anak perantau, khususnya dari Indonesia Timur, termasuk NTT menghafal lagu berjudul "Bunyikan Suara Hati" yang diciptakan dan dipopulerkan oleh penyanyi Obbie Messakh di era 1980-an. Sekalipun sudah menjadi lagu jadul, masih saja sering dinyanyikan bersama, ketika anak-anak perantau ini bertemu. 

Biasanya, persahabatan anak perantau benar-benar luar biasa mendalam. Seperti saudara kandung. Sagu salempeng pata dua, orang Maluku bilang. Sapotong ubi rebus ju gigit bakumpul, prinsip orang NTT. 

Anak rantau, terkenal dengan rasa persaudaraannya. Namun seringkali rusak juga, akibat ulah segelintir orang. Seperti yang terjadi sejak Sabtu (2 Juli 2022) lalu. Ya, pertikaian kelompok perantau di tanah rantau, Babarsari, Yogyakarta menjadi trending topik. 

Banyak pesan singkat melalui WhatsApp, Facebook, Telegram  dan Twitter mengenai pertikaian bernuansa suku, NTT versus Papua dan Maluku. 

Intinya, memperingatkan mahasiswa dan mahasiswi asal NTT di Yogyakarta untuk berhati-hati. Bahkan menghimbau mereka agar tetap di rumah (kos atau kontrakan) hingga suasana kembali kondusif.  

Pesan-pesan berantai ini,  sebenarnya memperingatkan keluarga agar berhati-hati. Namun, malahan menimbulkan kerisauan, baik bagi perantau yang tidak tahu-menahu, maupun orang tua di NTT yang anaknya sedang bersekolah di Yogyakarta.

Salah pesan berantai yang saya terima dari WA.
Salah pesan berantai yang saya terima dari WA.

Solidaritas Kebablas 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun