Mohon tunggu...
Gregorius Nafanu
Gregorius Nafanu Mohon Tunggu... Petani - senang mempelajari hal-hal baru

Hidup mengalir seperti air. Bergerak dari hulu ke muara lalu masuk samudera nan luas!

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Ipar Echa, Turunan Aputai nan Pantang Menyerah

1 Februari 2016   07:09 Diperbarui: 27 Oktober 2022   15:04 119 2 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ipar Echa dan aktivitasnya (dok pribadi)

Mesak Magoher yang akrab disapa Ipar Echa adalah salah seorang tokoh masyarakat asli suku Aputai yang menetap di Desa Lurang, Kecamatan Wetar Utara, Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku. 

Sebagai Bapak dari 4 orang anak, Ipar Echa selalu menghabiskan waktu pagi sampai sore dengan usaha ternak ayam potong yang baru dirintis, di samping bertanam sayur dan merawat tanaman pala dan kakaonya. 

Padahal awalnya, Magoher hanya seorang kepala rumah tangga yang menghidupi keluarganya dari hasil berburu. Juga bameti sepanjang pantai, mengambil madu di hutan dan mencari pala hutan di gunung.

Berbekal keinginannya untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan sebagai tulang punggung keluarga maka mulailah Ia terlibat dalam kegiatan. Ipar Echa pun bergabung dalam kelompok tani sayuran yang didampingi secara intensif oleh Perusahaan BTR pada tahun 2009. 

Dengan pengetahuan yang minim akan teknik budidaya sayuran, Ipar Echa sering kali gagal panen akibat kurang memahami teknik perawatan tanaman atau tidak menanam karena tidak memiliki akses terhadap benih sayuran. 

Namun berkat usahanya dan juga kesabaran staff Comdev BTR dalam melakukan pendampingan, akhirnya pendapatan Bapak Messakh semakin meningkat setiap bulan karena Ia rutin memasok hasil sayuran ke perusahaan.

Di tengah usaha bertanam sayuran, Ipar Echa bersama isteri-Oktovina Magoher melihat bahwa ada usaha lain untuk mendapatkan uang yang cukup banyak jika ditekuni dengan serius. Sejak tahun 2012, Ia mendekati pengurus Yayasan untuk diterima sebagai salah satu anggota peternak ayam potong di Lurang. 

Namun pihak Yayasan Ina Rifa masih belum merespon keinginannya karena pertimbangan keseriusan Ipar Echa dalam menekuni usaha baru ini. Modal keuangan, merupakan kendala utama dan membuatnya pesimis untuk memulai usaha ini. Meskipun demikian, Ia tidak pantang mundur. 

Setelah bertemu, melobi dan meyakinkan staf dan manajemen Comdev, jalan mulus mulai terbuka. BTR bersedia memberikan pinjaman tanpa bunga melalui program microfinance loan bagi masyarakat setempat. Ipar Echa mendapatkan modal pinjaman sebesar Rp 13.000.000,- yang digunakan untuk membuat kandang, membeli DOC dan pakan ternak. 

Dengan modal tersebut, Ia dapat menyelesaikan pembuatan kandang ayam, membeli pakan ayam dan 500 ekor anak ayam. Sayangnya, Ipar Echa hanya dapat memanen 400 ekor ayam dengan berat bersih daging ayam 1 kg/ekor, sehingga pendapatan kotor yang diperoleh dalam panen perdana bulan November 2015 adalah sebesar 400 kg x Rp 40.000 = Rp 16.000.000,-. 

Tanpa memperhitungkan biaya lainnya seperti tenaga kerja, maka selisih keuntungan yang diperoleh sebesar Rp 3.000.000, yaitu selisih pendapatan kotor Rp 16.000.000 dengan modal awal Rp 13.000.000.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan