Mohon tunggu...
grace siahaan
grace siahaan Mohon Tunggu... Musisi - Pendidik.

Penggiat pendidikan anak usia dini dan remaja.

Selanjutnya

Tutup

Diary

Cantengan Kuku Jempol Kaki

29 September 2021   06:59 Diperbarui: 29 September 2021   07:10 7216
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Diary. Sumber ilustrasi: PEXELS/Markus Winkler

Pengalaman ini adalah yang pertama kali dalam hidup saya. Suatu hari jempol kaki sebelah kanan anak saya , mengalami bengkak kemerahan dan sakit . Dan hal ini terjadi dalam beberapa minggu. Saya berusaha memberikan betadine berhari-hari namun tidak ada perubahan.  Jari jempolnya tetap bengkak dan semakin memerah. 

Akhirnya setelah 3 minggu lebih , dengan keadaan jempol yang infeksi saya membawa anak saya ke fasilitas kesehatan 1 di wilayah saya tinggal. Di benak saya, saya berpikir bahwa kuku jempolnya harus dicabut . Jujur saya agak merasa takut dan kuatir karena jika harus operasi cabut kuku tentunya memakan biaya yang besar. Saya berpikir bahwa BPJS tidak menanggung pembiayaan atas tindakan pencabutan kuku kaki. 

Disamping rasa sakit yang luar biasa ,meskipun menjalani pembiusan lokal saya pikir pasti tetap akan terasa sakit . Dan berbagai pertanyaan berkecamuk di kepala saya disebabkan saya belum pernah mengalami infeksi kuku yang sehebat ini dan terjadi pada anak saya. 

Sebelumnya, saya bertanya pada seorang dokter yang kebetulan saudara sepupu saya. Dan beliau mengatakan bahwa jika faskes 1 tidak bisa menangani sebaiknya pasien dibawa ke DKK atau puskesmas pusat kota yang melayani IGD selama 24 jam. Disitu akan dilakukan tindakan pencabutan kuku , dan hanya membayar sebesar 100 ribu rupiah. Karena di rumah sakit- rumah sakit swasta biayanya bisa sekitar 2 jutaan lebih.  Wah, mendengar hal itu saya  langsung bersemangat dan mengambil informasi itu sebagai opsi ke 2. 

Mungkin ini sebagai informasi penting bagi pembaca budiman, jika ingin melakukan tindakan pencabutan kuku dapat mendatangi Dinas Kesehatan Kota masing-masing.. 

Kemudian, akhirnya saya memutuskan membawa anak saya ke faskes 1 yaitu salah satu klinik yang memiliki pelayanan terbaik di kota Balikpapan. Sebelumnya petugas mengatakan bahwa tindakan tergantung dari dokter yang menangani, karena di masa pandemi ini ada dokter yang tidak mau melakukan tindakan. 

Namun dengan keberanian dan antusias yang tinggi saya mendaftarkan anak saya dan masuk ke ruang pemeriksaan dokter. Puji Tuhan, dokter yang bertugas sangat membantu kami. Tindakan pencabutan kuku memang opsi terakhir yang harus dilakukan karena infeksi yang cukup lama, dan kabar baiknya tindakan itu bisa dilakukan di hari itu juga oleh dokter tersebut.  

Kami diminta menunggu sampai sekitar 1 jam kemudian agar dokter bisa mempunyai waktu banyak untuk melakukan tindakan. Setelah 1 jam berlalu, anak saya dipanggil dan persiapan atas tindakan pun dilakukan. Yang pertama, dokter membersihkan seluruh permukaan jempol kaki yang terinfeksi dengan alkohol . 

Setelah itu, dokter menyuntikkan obat bius ke sekitar jempol yang terinfeksi, sekitar 5 sampai 6 titik. Tentu saja, rasa sakit yang luar biasa dirasakan oleh anak saya disebabkan suntikan bius tersebut . Karena titik penyuntikkannya dilakukan di area jempol yang sangat bengkak merah dan terinfeksi. Bebebrapa menit kemudian, dengan rileks dokter sembari mengajak ngobrol anak saya pun segera melakukan pencabutan kuku tersebut. (Dalam keadaan jempol mati rasa)..

Setelah itu Dokter  membersihkan jempol kakinya dan membalut dengan perban. Adapun perban tidak boleh basah selama 3 hari dan pembukaan perban/kontrol ulang dilakukan setelah 3 hari kemudian ke klinik dokter faskes 1 tersebut.. Tentu saja ada obat pereda nyeri dan antibiotik yang harus diminum ya...

Saya benar-benar bersyukur proses pencabutan kuku akibat cantengan berjalan dengan baik, dan hanya memakan waktu 20 -  30 menit. Gratis ditanggung BPJS !! 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun