Mohon tunggu...
Goris Lewoleba
Goris Lewoleba Mohon Tunggu... Alumni KSA X LEMHANNAS RI, Direktur KISPOL Presidium Pengurus Pusat ISKA, Wakil Ketua Umum DPN VOX POINT INDONESIA

-

Selanjutnya

Tutup

Keamanan Pilihan

Radikalisme Mengepung Negara dari Segala Arah

23 Februari 2020   12:04 Diperbarui: 23 Februari 2020   12:07 195 0 0 Mohon Tunggu...

Oleh Goris Lewoleba

Belakangan ini, publik di Tanah Air mulai menyadari bahwa, bangsa dan negara kita yang tercinta ini sedang dikepung oleh wabah penyakit sosial politik yang semakin ganas, dan amat menggurita  yaitu, Radikalisme dan Intoleransi.

Radikalisme ini mempunyai varian yang berkelindan satu sama lain dengan  nuansa Ekstrimisme yaitu, Intoleransi dan Terorisme.

Pasalnya, sudah menjadi semacam common sense bahwa, negara kita Indonesia merupakan tempat yang paling nyaman dan kondusif untuk bertumbuh suburnya paham dan gerakan  Radikalisme dengan semua turunannya itu, jika dibandingkan dengan negara tetangga lain di kawasan Asia Tenggara.

Jika diamati  secara cermat, maka dapat pula  dipahami bahwa, embrio dan cikal bakal radikalisme  di Negera Indonesia ini sudah mulai ditebar secara perlahan tetapi pasti, dengan penetrasi yang masif ke segala arah di seantero Tanah Air,  sejak di era  tahun 1980 an.

Paham dan gerakan Radikalisme berserta berbagai varian yang melekat pada dirinya, telah dilakukan  amat militan  dan terencana secara  sistematis dengan dibungkus rapi melalui bentuk kesalehan sosial, meski di sana sini sudah mulai tercium adanya unsur dan aroma  Radikalisme.

Gerakan Radikalisme dan Intoleransi dimaksud,  pada akhirnya meledak melalui Gerakan Terorisme yang dilakukan secara eksplosif melalui bom bunuh diri yang mengorbankan banyak nyawa yang tak berdosa.

Gerakan yang  disebut terakhir ini, tak ayal telah menimbulkan banyak korban jiwa dan  trauma jangka panjang dengan risiko tercemarnya reputasi Negara Indonesia  di mata dunia internasional, dengan stigma sebagai negara yang memproduksi Terorisme sekaligus sebagai sarang dari terorisme itu sendiri.

Bahkan, dalam moment dan  situasi tertentu, nama baik Warga  Negara Indonesia dipertaruhkan  dalam lingkup pergaulan dunia  internasional di mata kalangan manca negara sebagai warga negara yang perlu diwaspadai.

Situasi seperti tersebut di atas, terutama ketika pasca terjadinya Bom Bunuh Diri yang telah memakan banyak korban, baik korban dari kalangan warga negara asing maupun warga negara Indonesia  sendiri.

Memahami Radikalisme

Radikalisme sebagaimana dipahami oleh banyak kalangan, merupakan gerakan yang mengendepankan kekerasan untuk mencapai suatu tujuan politik maupun sosial dengan menghalalkan segala cara.

Oleh karena itu, Radikalisme dalam bentuknya yang paling ekstrim merupakan tindakan nyata  yang dalam kasat mata disebut sebagai Terorisme.

 Dan cikal bakal tumbuhnya benih terorisme dimulai dari sikap intoleransi yang kemudian bermuara kepada Radikalisme yang pada akhirnya menemukan manifestasnya yang amat mematikan hidup dan kehidupan di dalam Gerakan  Terorisme.

Dalam pandangan dunia intelijen, Terorisme selalu inherent dengan tindakan yang disebut sebagai Violensianisme.

Terkait dengan diksi tersebut di atas, Aloys Budi Purmono (2005), mengatakan bahwa, Violensianisme merupakan aksi yang mengedepankan kekerasan, kedasyatan-destruktif dan agresivitas eksklusif dan menjadi ancaman bagi bangsa dan negara. Dan oleh karena itu, terorisme yang terjadi di seluruh dunia telah menegaskan  kenyataan itu.

Violensianisme merupakan aksi yang menekankan perbuatan kekerasan, serangan, keganasan, kebengisan dan penganiayaan masal  terhadap  warga sipil..

Manifestasi dari Gerakan Radikalisme dalam bentuk Terorisme seperti peledakan bom di berbagai tempat di belahan dunia ini, tidak terkecuali di Indonesia, mengindikasikan sebuah  gerakan yang dirasuki oleh  "roh" Violensianisme itu sendiri.

Mepertegas  hal tersebut di atas, dimana Violensianisme sebagai "roh" dari Gerakan Radikalisme, maka John Galtung dalam Violence, Pease,  and Peace Research (1969),  mengetengahkan ciri Violensianisme dalam empat kualitas.

Pertama, Violensianisme merupakan paksaan atau kekerasan, upaya paksa yang terdeterminasi pada sasaran akhir yang melawan kehendak orang lain.  

Kedua, Violensianisme berciri indiveren, beraksi tanpa pengendalian atau sikap berlebihan dan tidak perduli terhadap hak orang lain.

Ketiga, Violensianisme tampak dalam aksi dan aktivitas ekstrem yang sekonyong-konyong, tak diharapkan, dari suatu kodrat yang kejam, membahayakan atau merugikan.

Keempat, Violensianisme mengedepankan ketakutan sebagai manifestasi kekerasan dengan sugesti yang hendak ditanamkan oleh pelaku kejahatan.

Sebagaimana dinyatakan  di atas bahwa,  Radikalisme dalam bentuknya yang paling ekstrem disebut  sebagai Terorisme.

Meskipun demikian, sebutan dimaksud belakangan ini telah menjadi rawan secara agamis, karena bagi sebagian atau banyak pihak, terorisme kerap dikaitkan dengan agama tertentu, khususnya gerakan radikal, fundamentalis, dan eksklusif dengan mengedepankan semangat intoleransi.

Oleh karena itu, agar gerakan melawan Radikalisme dan Terorisme tidak mengarah kepada kalangan dan kelompok agama tertentu, maka pemahaman akan terminologi Violensianisme menjadi amat penting dan relevan.

Sebenernya, secara substansial Radikalisme, Terorisme dan Violensianisme, memiliki muatan makna yang sama, yaitu kekerasan, eksklusif, dan intoleran.

Sehubungan dengan situasi yang demikian, maka dengan meminjam R Andrey dalam karyanya, The Social Contract, New York, (1970: 22), dikatakan bahwa, Radikalisme yang juga merupakan aksi dari Violensianisme, merupakan pelanggaran atas social contract menuju hidup yang lebih damai, rukun dan adil.  

Kalau demikian, maka tanpa pandang bulu, siapapun pelakunya harus ditindak dengan tegas. Jika tidak, maka entah kapan, cepat atau lambat, peristiwa kekerasan serupa akan terulang kembali.
Akan tetapi  yang menjadi sumber soal adalah, para Teroris dan pelaku kekerasan ini justeru mencari momentum untuk mati dengan modus operandi bom bunuh diri. Karena di sana sudah ada janji manis,  berikut 70 bidadari nan cantik menawan yang sedang menanti di pintu surga, jika nyawa mereka ikut terenggut  akibat bom bunuh diri.

Lalu, dengan itu, maka ada kecendrungan sebagian pihak untuk menghubungkan aksi Terorisme dan Ideologi Radikalisme dengan agama tertentu. Padahal, selalu ditegaskan dan semua pihak pun tahu bahwa, tidak ada satu agama manapun yang mengajarkan dan melegitimasi Ideologi Radikalisme dalam bentuk Terorisme.

Radikalisme Mengepung Indonesia

Sejak era reformasi, dimana sesaat setelah lengsernya Rezim  Orde Baru,  rasanya masyarakat bangsa Indonesia mulai   hidup dalam kepungan Gerakan Radikalisme, Terorisme dan Intoleransi.

Betapa tidak, bangsa Indonesia yang sejak dahulu kala hidup dalam keadaan rukun dan damai serta "kerta raharja", secara kasat mata mulai menyaksikan kehidupan kemasyarakatan seolah sedang berada di dunia lain, yang bukan ciri khas orang Indonesia.

Gerakan Radikalisme  dan gelombang Terorisme secara dasyat dimunculkan dengan ledakkan bom bunuh diri dengan dampak yang amat mengerikan.

Terkait  dengan dinamika dan perkembangan Gerakan Radikalisme di Indonesia,  Direktur Institute for Javanese Islam Research,  Akhol Firdaus (2020), mengatakan bahwa,  sesungguhnya radikalisme sebagai ideologi,  bisa melintasi bukan hanya batas ruang publik dengan batas geografis negara, tetapi  lebih dari pada  itu, ideologi tersebut sesungguhnya teramat mudah melintasi batas kesadaran/ketaksadaran setiap orang.

Lebih lanjut, ditegaskannya bahwa, sebagai kekuatan ideologi, radikalisme bisa melintasi ruang apa saja, dan memungkinkan semua orang berpotensi untuk terpapar.

Oleh karena itu amat diperlukan filter yang dapat menyaring penetrasi ideologi Radikalisme itu melalui tata nilai dan prinsip moral yang dilandasi oleh ajaran agama dari masing-masing pemeluk agama di Indonesia.

Berdasarkan  pengalaman dan kenyataan hidup, terungkap bahwa,  salah satu sumber utama dari penyebaran dan penguatan gerakan radikalisme dan ekstremisme, bersumber dari penyebaran ideologi dengan basis pemahaman ajaran agama secara eksklusif.

Bahwa dengan itu, lalu penyebaran Ideologi Radikalisme dan Intoleransi  dimaksud menggunakan media sosial, maka hal  itu adalah merupakan suatu keniscayaan yang realistis.

Akan tetapi,  harus pula  tetap diakui  bahwa,  dunia maya bukanlah satu-satunya pintu masuk proses  ideologisasi untuk radikalisme dan intoleransi.

Dikatakan demikian karena, paling tidak,   masih ada faktor dan variabel lain yang sangat signifikan untuk menyebarkan Ideologi Radikalisme dan Intoleransi yaitu, Dunia Pendidikan yang dibiarkan terbuka lebar untuk dirasuki  oleh Ideologi Radikalisme dan Intoleransi dimaksud.

Dan sudah menjadi rahasia umum bahwa, dunia pendidikan di Indonesia, mulai dari tingkat Pendidikan Dasar sampai ke Perguruan Tinggi telah  dimasuki dan dirasuki oleh Ideologi Radikalisme dan Intoleransi.

 Untuk tingkat pendidikan dasar, bahkan Ideologi Radikalisme dan Intoleransi justeru sudah ditanam  dan dijejali sejak usia PAUD (Pendidikan Anak  Usia Dini); suatu paradoks dalam dunia pendidikan yang amat memprihatinkan.

Terkait dengan hal itu, publik di Tanah Air tentu masih ingat  peristiwa karnaval dalam rangka peringatan 17 Agustus 2018, dimana anak-anak sekolah   PAUD dan TK  menggunakan simbol-simbol ISIS dan Radikalisme di Jawa Timur, tepatnya di kota  Probolinggo.

Gambaran situasi Radikalisme  di Probolinggo ini hanyalah merupakan fenomena gunung es, yang jika dibiarkan berlalu begitu saja, maka sacara perlahan tetapi pasti, generasi  negeri  ini pada saatnya akan sama nasibnya seperti beberapa negara di Timur Tengah yang ujung-ujungnya  seperti ISIS sebagai  memori kelam yang amat mengerikan  bagi publik dunia pada umumnya.

Tidak hanya dalam dunia pendidikan, penetrasi Ideologi Radikalisme dan Intoleransi di negeri ini juga sudah merambah ke wilayah ASN (Aparat Sipil Negara). Padahal ASN ini adalah Abdi Negara yang keseharian hidup dan masa depannya ditanggung dan dilindungi oleh Negara, tetapi bersikap tega dan tanpa malu menolak Pancasila sebagai Dasar Negara dan Ideologi Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Disinyalir oleh Setara Institut (2020) bahwa, sudah ada beberapa orang ASN yang terpapar Ideologi Radikalisme dan Intoleransi, seperti misalnya, beberapa orang ASN dari Propinsi Jawa Timur. Demikianlah juga ada Guru Besar Fakultas Hukum dari Perguruan Tinggi Negeri ternama di Semarang Jawa Tengah, juga terindikasi telah terpapar dan mendukung aliran dan Ideologi Radikalisme dan Intoleransi.  Kecuali itu, ada juga ASN Pejabat Tinggi di Kementerian Keuangan juga terpapar Ideologi Radikalisme dan Intoleransi.

Sehubungan dengan itu, maka seperti dilaporkan oleh Setara Institut, pemerintah akan  melaksanakan screening terhadap 128 ribu ASN baru untuk membersihkan virus Ideologi Radikalisme dan Intoleransi pada diri para  ASN baru dimaksud.

Persoalan terpaparnya Ideologi Radikalisme dan Intoleransi ini, tidak hanya menimpa Lembaga Pendidikan dan ASN, tetapi juga telah melanda Institusi Pertahanan dan Keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sebagaimana disinyalir oleh Menteri Pertahanan dan Keamanan (2019),  bahwa terdapat sebanyak 3 persen aparat TNI juga  telah terpapar Ideologi Radikalisme dan Intoleransi.

Memperhatikan narasi tersebut di atas, maka tampak jelas bahwa, memang benar adanya, Ideologi Radikalisme dan Intoleransi sedang mengepung Negara Kesatuan Republik Indonesia dari segala Arah.

Merangkai Solidaritas

Agar  dapat memutus mata  rantai proses transfer Ideologi Radikalisme dan Intoleransi, maka diperlukan upaya dari semua pihak untuk Membangun Dialog dan Merangakai Solidaritas antara sesama elemen bangsa.

Hal ini menjadi penting karena, apabila masyarakat sipil, dan rakyat, apapun agamanya, saling bergandengan tangan untuk menerangi Ideologi Radikalisme dan Intoleransi, maka segala fanatisme, separatisme, fundamentalisme akan hilang lenyap dari kehidupan kita sebagai warga masyarakat Indonesia.  

Berkenaan dengan hal itu, Aloys Budi Purnomo (ibid), menegaskan bahwa, dalam wacana perang melawan Ideologi Radikalisme dan Intoleransi, maka hal itu  memiliki beberapa pertimbangan yang mendasar,  antara lain :

Pertama, dengan solidaritas, kita hendak menepis anggapan bahwa,  Ideologi Terorisme dan Intoleransi itu   terkait dan identik dengan agama tertentu.

Kedua, solidaritas adalah jawaban yang bisa diberikan untuk menjelaskan segala ketidakpastian, kecemasan, ancaman, dan ketakutan yang merasuki masyarakat kita.

Ketiga, di tengah aneka bentuk dan manifestasi Ideologi Radikalisme dan Intoleransi berupa    Terorisme sekalipun, solidaritas menjadi jalan yang bertanggung jawab menuju masa depan bangsa dan kemanusiaan pada umumnya.

Akhirnya, solidaritas yang tepat akan menjadi langkah yang mengubah kebencian menjadi cinta, ketidakadilan menjadi keadilan dan  kecemasan menjadi damai sejahtera bagi kemanusiaan.

Goris Lewoleba

Alumni KSA X LEMHANNAS RI, Direktur KISPOL Presidium Pengurus Pusat ISKA, Dewan Pakar dan Juru Bicara VOX POINT INDONESIA

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x