Mohon tunggu...
Goris Lewoleba
Goris Lewoleba Mohon Tunggu... Alumni KSA X LEMHANNAS RI, Direktur KISPOL Presidium Pengurus Pusat ISKA, Wakil Ketua Umum DPN VOX POINT INDONESIA

-

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara Pilihan

Jokowi yang Tulus dan Prabowo yang Legowo

14 Juli 2019   07:36 Diperbarui: 14 Juli 2019   07:53 0 0 0 Mohon Tunggu...

Pertemuan antara kedua tokoh besar  yaitu  Joko Widodo dan Prabowo Subianto di akhir minggu ini,  merupakan momentum  fenomenal yang dinantikan oleh banyak pihak di negeri ini.

Hal itu  disebabkan karena pertemuan dimaksud  dilakukan setelah pertarungan Pilpres yang telah  menyita banyak energi dan parhatian masyarakat Indonesia.

Dengan pertemuan ini, dan melalui pernyataan dari kedua beliau, sudah dapat dengan sendirinya menurunkan tensi politik di tanah air yang sekian lama kondisinya bagaikan api di dalam sekam.

Meskipun demikian, tampaknya masih ada  sebagian pihak yang tidak berkenaan atas pertemuan kedua tokoh bangsa ini, dan selalu  saja berupaya untuk memperjuangkan obsesi politik partisan atas hidden agenda yang mereka miliki.

Indahnya Kedamaian

Pada dasarnya, kenyataan hidup secara empiris  telah membuktikan bahwa dalam Kedamaian ada Keindahan, dan dalam Keindahan ada pula Kedamaian.

Oleh karena itu selogan bahwa Damai itu  Indah, sebenarnya  merupakan pernyataan yang mubazir, karena pernyataan itu sama analoginya dengan ungkapan bahwa garam itu asin, ya, garam itu memang asin, dan Damai itu memang Indah.

Namun demikian, frasa tentang Indahnya Kedamaian merupakan ekpresi proses mental yang mendambakan adanya ketenangan dalam hidup, baik kehidupan pribadi antar anggota masyarakat,  maupun kehidupan sebagai tokoh bangsa yang menjadi panutan banyak pihak.

Dengan demikian, maka adanya pertemuan antara kedua tokoh bangsa yang baru saja bersaing dalam perhelatan dalam  Pilpres kemarin,  merupakan momentum yang menjadi kerinduan semua pihak.

Sebagaimana dipahami bersama bahwa, persaingan mereka tidak hanya kerena faktor mereka berdua secara personal sebagai aktor politik, tetapi lebih dari pada itu adalah soal pendukung dari keduanya dengan ideologi politik yang melatarinya.

Belum lagi, hasrat politik pendukung kedua tokoh tersebut  telah diberi muatan emosi yang berlebihan  untuk memenangkan pertarungan Pilpres dengan jalan dan cara apapun.

Oleh karena itu, tidaklah mengherankan kalau ketika perhelatan Pilpres kemarin,  persaingan antar pendukung  kedua kubu tampak sangat sengit bahkan telah melampau batas kewajaran dalam sebuah  persaingan politik.

Bahkan, karena terlalu sengitnya pertarungan politik antar para pendukung dengan menghalalkan segala cara, maka sebagian publik sampai bertanya secara takjub  dalam nada bahasa  hiperbolis bahwa,  apakah kita ini masih orang Indonesia ?

Ataukah jangan-jangan kita sedang mempratekkan modus operandi politik yang diandaikan sebagai bagian dari serpihan Arab Spring yang digambarkan seolah seperti fenomena gejolak politik seperti beberapa negara di Timur Tengah.

Jokowi dan  Prabowo, Negarawan yang teruji

Sebagai kilas balik untuk mengenang jejak kedua tokoh ini,  dan jika kita perhatikan secara cermat, baik sebelum masa sebelum pencalonan Presiden  maupun selama masa  kampanye, kedua tokoh ini Jokowi dan Prabowo tampak sangat bersahabat.

Demikian juga, ketika dalam masa kampanye dan debat di panggung politik, dari berbagai gestur politik yang diperlihatkan ke muka publik, keduanya tampak sangat santun, bersahaja dan saling menghagai.

Bahwa di sana sini, kadang terlihat seolah mereka berdua  saling menyerang atas suatu isue politik yang diangkat ke atas permukaan  ketika kampanye, itu hanyalah riak kecil di tengah gelombang politik,  yang juga kerap disebut sebagai bunga-bunga demokrasi.

Kemudian,  terlepas dari semuanya itu, ada hal yang perlu diapresiasi secara layak dan memadai kepada Jokowi Widodo dan Prabowo Subianto sebagai  aktor politik Indonesia dalam  minimal Lima Tahun terakhir.  

Sebagai seorang tokoh bangsa, Jokowi  selalu dengan tulus dan rendah hati serta  mau  berupaya untuk merangkul semua pihak, termasuk semua lawan politiknya ketika pelaksanaan Pemilu sudah selesai.

Sikap tulus dan kebaikan hati yang demikian, kerap kali justru  ditanggapi oleh pendukung  lawan potiknya dengan respons yang prejudice; tetapi Jokowi  menanggapinya dengan tenang tanpa terpengaruh sedikitpun.

 Bahkan secara  mantap dan tegas dalam kelembutan hatinya, Jokowi mengajak kubu Prabowo  dengan tangan terbuka supaya  bersama bergandengan tangan untuk membangun bangsa dan negara Indonesia tercinta ini.

Tidak kalah hebat  nya, bahkan sejajar secara resiprokal dengan Jokowi,  Prabowo juga merupakan sosok dan pribadi yang kuat  dan konsisten akan prinsip dan perjuangan untuk  menjadi Pemimpin Negara Indonsia.

Untuk dapat menggapai obsesi politik untuk memimpin Negara sebesar Indonesia ini, Prabowo telah melakukan banyak hal yang yang perlu diapresiasi.

Meskipun disinyalir oleh banyak kalangan bahwa di sekitar  perahu politiknya terdapat banyak penumpang gelap, tetapi Prabowo telah menunjukkan dirinya sebagai seorang Nahkoda dan Pemimpin yang tegas dan kuat,  tanpa dipengaruhi oleh siapapun.

Masih melekat di memori publik, bagaimana Prabowo dengan sangat tegas  menolak pandangan pihak lain yang menyodorkan  Calon Wakil Presiden sebagai pendampingnya ketika Pilpres kemarin.

Demikianpun, ketika Prbowo mengambil keputusan untuk membawa sengketa hasil Pilpres ke MK, ketimbang mengikuti wacana dan rencana para tokoh politik serta masa  pendukungnya untuk melakukan gerakan people power menentang hasil Pilpres.

Kecuali itu,  mejelang Sidang sengketa Pilpres di Mahkamah Konstitusi, Prabowo dengan bijaksana dan tegas meminta para pendukungnya supaya tidak perlu datang ke Sidang MK.  

Legacy mereka akan selalu dikenang

Batapapun sengitnya pertarungan di Pilpres yang telah berlalu, tetapi  masyarakat akan selalu mengenang Jokowi dan Prabowo sabagai negarawan yang legendaris pada masanya.

Dikatakan demikian, karena kedua tokoh ini adalah sosok yang telah menjadi representasi penerapan Demokrasi Pancasila di Negara kita Indonsia tercinta ini.

Kedua tokoh ini telah memperlihatkan kelasnya sebagai negarawan dengan mengedepankan dan menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan.

Meski telah melalui persaingan politik yang sangat tajam dan panas, tetapi jauh di lubuk hati Jokowi dan Prbowo, sesungguhnya mereka berdua sangat mencitai masyarakat bangsa Indonsia, Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI.

Oleh karena itu, atas dasar Ketulusan Hati dari Jokowi dan Kebesaran Jiwa dari Prabowo, melalui  pertemuan mereka di atas Kereta  MRT di akhir minggu ini, telah  memperlihatkan kepada publik dimana Jokowi merangkul dengan tulus  dan Prabowo menerima dengan legowo, maka mereka telah meninggalkan legacy demokrasi bagi  bangsa dan rakyat Indonesia yang selalu dikenang dan sulit untuk  dilupakan.

Goris Lewoleba, Alumni KSA X LEMHANNAS RI, Direktur KISPOL Presidium Pengurus Pusat ISKA,  Wakil Ketua Umum DPN VOX POINT INDONESIA

KONTEN MENARIK LAINNYA
x