Hiburan

Joke Lama : "Gua Naik Buroq, Bro!"

15 April 2018   23:41 Diperbarui: 16 April 2018   00:05 594 0 0

Joke lama : "Eh, lu kesininya cepet amat, naek apa?"

"Naek Buroq bro."

Entah joke lokal semacam itu ada di daerah saya atau saya rasa semua hampir pernah bicara seperti itu. Tapi dari sebagian orang tidak mengetahui apa itu "Buroq".

Bagi yang baru tahu, perkenalkan, namanya Buroq, kilat yang melaju dengan kecepatan cahaya, yang malam itu diiringi Malaikat Jibril. Dibawanya makhluk yang mulia dari Masjidil Haram (Mekkah) ke Masjidil Aqsha (Madinah). Dari bumi ke sidratulmuntaha. Ya, semua hanya ditempuh satu malam saja. Jarak dari Mekkah ke Yerussalem adalah 1238 KM dan jarak dari bumi ke sidratul muntaha sangatlah jauh, walau ada yang mengatakan bahwa jaraknya adalah sekitar 10 milyar tahun cahaya, tapi pasti jauh dari itu.

Buroq, lebih cepat dari pesawat Concorde, pesawat penumpang tercepat sepanjang sejarah dengan kecepatan 2179 km/jam. Lebih cepat dari mobil Bugatti Veyron Grand Sport 16.4, mobil produksi tercepat sepanjang sejarah dengan kecepatan 431 km/jam. Lebih cepat dari kapal penumpang tercepat di dunia, Francisco, 107 km/jam.

Hebat ya buraq.

Yang lebih penting dari itu, adalah manusia terbaik yang "menunggangi" Buroq tersebut yang setelahnya naik ke langit di sertai Malaikat Jibril, memasuki lapis demi lapis. Bertemu Adam, Yahya serta 'Isa, Yusuf, Idris, Harun, Musa, dan Ibrahim. Lalu terus ke Sidratul Muntaha, Baitul Ma'mur, dan naik lagi menghadap Allah hingga jaraknya kurang dari dua ujung busur. Allah membuka tabirNya.

Ya, salah satu kenikmatan seorang hamba adalah bisa bertemu Rabb-nya (84 : 6) dan Rasul-nya yang menjadi teladan (33 : 21).

Jika melihat do'i kadang buat kita lupa diri, padahal kita selalu diawasi sang pemilik alam ini. Jika seorang perempuan melihat Nabi Yusuf, apa daya ter-iris tangan pun tak terasa, lantas, bagaimana jika kita seorang hamba bertemu dengan Rabb-nya?

Jangankan bertemu Rabb-nya, sahabat-sahabat saja yang pernah melihat Ka'bah secara langsung pun bercerita terasa haru dan syahdu.

Lantas, apa yang dirasakan Nabi Muhammad, Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam ketika ia mi'raj bertemu Rabbnya? Kesyahduan, keterpesonaan, kesejukan, kenikmatan ruhani, kelegaan jiwa dan kemantaban jiwa yang tiada tara.

Banyak dari kita sudah tau, pada akhirnya disana Rasulullah mendapatkan perintah sholat 5 waktu.

Tapi yang menjadi pengingat bagi kita adalah bagaimana kualitas sholat kita sekarang? Ya, sholat, amalan yang paling utama dihisab pada yaumil akhir nanti. Amalan yang bisa mewarnai kehidupan kita bila dikerjakan dengan baik? Apakah sholat kita sudah tepat waktu, membaca bacaannya dengan benar, dan apakah sudah menemukan dan mendapatkan kekhusuan dalam sholat kita?

Sedihnya, banyak yang datang ke shaf sholat, tapi banyak juga mereka selesai lalu pergi. Dingin tanpa penghayatan, Allhuma lantas jalan, katanya.

Padahal, perlu kita sadari bahwa solat dapat "mencharge" ruhaniyah dan jasmaniyah kita.

Ya, sholat shalat adalah rehat. Saat lelah mulai terasa, saat diri dirasa jauh dari sang kuasa, Sang Nabi bersabda pada muadzinnya, "Yaa Bilal, Arihna bish shalaah.. Hai Bilal, istirahatkan kami dengan shalat!"

Shalat, kata Sayyid Quthb, adalah hubungan langsung antara manusia yang fana dan kekuatan yang abadi. Ia adalah waktu yang telah dipilih untuk pertemuan setetes air yang terputus dengan sumber yang tak pernah kering.

Ya, sekali lagi ini tentang sholat. Yang akan mewarnai hari-hari kita, yang akan pertama dihisab, rukun Islam yang pertama. Dia yang akan berdampak pada amalan lain yang kita lakukan. Sudah? Sudahkah kita mendapatkan ketenangan dalam sholat-sholat kita? Ah, rasanya terlalu naf. Sepertinya memang belum.

Jauh-jauh Rasulullah menghadap pada sang maha cinta, tetapi hasil yang didapatnya kita lalaikan begitu saja.

 Jadi, bagaimana kondisi sholat kita?