GONG2017
GONG2017 kenek dan supir angkot

Kenek dan Supir Angkot. Peace.

Selanjutnya

Tutup

Puisi highlight

Puisi | Neo Pop

20 Maret 2017   16:47 Diperbarui: 20 Maret 2017   16:51 230 19 10
Puisi | Neo Pop
Kompasiana image by GONG2017

Mencium Angin

Secepat gemuruh angin meniup menggulung meliukkan awan-awan, kejutkan api. Tiada siksa nikmat apapun, selain, upacara tradisi-tradisi pernyataan tak disangsikan. Maka, mengaumlah suaraku menyelaraskan kisah aumanmu menggema sejagad. Itu artinya kita telah dikawinkan oleh peradaban tanpa batas waktu, kesetiaan

Jakarta, Indonesia, March 20, 2017

***

Angan

Diperlukan kesabaran langit seluas semesta merengkuh badaimu menggelegak, bergolak. Itulah sebabnya, hanya tulus ada selalu terjaga menangkapmu bergulingan di rerumputan. Di ilalang. Di semak belukar. Terjegat sudah, pelukan persemaian, tumbuhlah pepadian. Suburlah. Untaian daya cipta estetis menguapkan harum tubuhmu ke angkasa, liarlah

Jakarta, Indonesia, March 20, 2017

***

Jendela Nuansa

Hanya dengan cara itu, selalu, segala terang dimulai tanpa melewati gelap. Karena gelap bagimu telah kau tuliskan di jendela sukmaku, di genggamanmu. Tertulis jelas, terbaca jelas, tak ada siasat di antara celah cahaya sekalipun. Memahamimu tak semudah menangkap harimau liar di belantara hutan bambu

Jakarta, Indonesia, March 20, 2017

***

Kangen

Ke sini atau ke situ, ke arah berlawanan, berhadapan, pilihan telah kau tetapkan. Aku tidak mengalah, tidak berharap, tidak menentang, karena kau telah teruji. Sepanjang musim di kala panorama terentang aku tahu kau tetap ada di baliknya. Aku melihat jemarimu menari memanggil rembulan harapan ke peraduan

Jakarta, Indonesia, March 20, 2017

***

Pelukan Mata

Detik ketika aku inginkan kau pindahkan bibirmu ke jambangan bunga. Aku tidak bisa menolak apapun, itu keinginanmu selalu terkabulkan. Aku tahu kau tak suka dininabobokan, suci menggeliat ke samping lain. Harapanku hanya ingin keindahan itu tetap ada di pelupuk matamu

Jakarta, Indonesia, March 20, 2017