Mohon tunggu...
Taufan S. Chandranegara
Taufan S. Chandranegara Mohon Tunggu... Gong adalah Semangat

Kenek dan Supir Angkot.

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Alegori Cerita Silat (Part 4)

14 Oktober 2020   12:55 Diperbarui: 15 Oktober 2020   10:07 193 54 13 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Alegori Cerita Silat (Part 4)
Image by Tasch 2020 Kompasiana


Episode (4)
Nyanyian Sepasang Angsa


Angan di Awang-awang

"Macapat merenda serendeng tak senanda, terombang-ambing benak kepala, melaut tak jua sampai, di darat angan berlarian menjumput perdu setaman, tak sehati risau mengocok sukma, menjuntai tak merana, selisih menggurat kening orkestrasi kenangan siang."


Kenangan Siang Kedai Kaki Gunung

Tiosang, tak habis-habisnya kepikiran meski pun masih sebel banget. Saputangan perempuan itu jatuh di dekat, tempat ia duduk, hamba pungut saputangan itu, meletakan di meja dengan santun, tepat, di tempat perempuan itu duduk, seelok rupanya.

"Terima kasih", keren, menoleh pun tidak.

Baiklah, hamba panggil angin sepoi-sepoi selewat mantra, "hihihi", saputangan biru bersulam itu melayang-layang lagi meninggalkan meja pemiliknya, ngeloyor nyungsep nyaris dekat ujung meja hamba, "Ahem hem, kali ini ambil sendiri."

"Kalau berniat baik jangan cuma sekali. Kepala bukan di bawah, di.a.tas", suara ranah batin dari tenaga sukmanya, lumayan keren, sindiran memikat, ogah banget, hamba sedang asyik, menikmati wedang seduh sedikit gula kelapa, hangat-hangat, di kaki gunung sesejuk ini, selagi siang bolong.

Kedai penduduk sederhana, keseruan oleh kelakar-adu mulut, ngakak riang sesuka hati, cakapan seru menderu cuaca tetamu kedai, hamba terus menikmati wedang seduh senikmat gula kelapa, syur kali, serasa sedang bercengkerama dengan, guru, Raja Tua Pemangku Adat alias Resi Bentala Adat, kemuliaannya, mengasuh membesarkan hamba.

"Sayang sekali, tongkrongan satria tapi telinga jadi hidung, seperti jangkrik hihihi", suara lembut kembali merongrong gendang pendengar, menyusup seenaknya ketelinga hamba.

"Jangkrik, lebih cakep, ketimbang orang malas, sila, pungut sendiri, dekat kemari. Si jangkrik tak bermaksud kurang sopan", kalimat dari ranah batin, Tiosang.

Otak usilnya, bekerja cepat, busana biru tak menjawab, nah loh! Secara ajaib busana biru melenyap, menyisakan sekoin uang emas, untuk kedai itu, serentak barengan rambut, Tiosang, diacak-acak serupa angin, ia kelimpungan sejenak. Suara di kejauhan, "Cericau jangkrik mengerik-ngerik tak mampu mendengking, nyali segede kelingking!" sayup mengombak badai.  

"Lumayan keren ilmu sakti si hantu biru", berdecak kagum di hatinya "Baiklah, awas-awas saja suatu ketika saputangan ini akan menutup mata sepasang elangmu biar jungkir balik", akhir kalimat Tiosang serupa geram di hati, gondok seperti kena tonjok, pengunjung kedai menyimak, beragam kicauan burung cabai, berisik berkicau bagai melengking.

"Baiklah..." Benak kepala, Tiosang, setelah membayar beberapa benggol plus tiga koin perak di mejanya, memelesat, keluar kedai, namun ia, kehilangan arah, menghentikan kehendak untuk mencari tahu, menerbangkan diri secepat suara, menuju kera-kera sahabatnya, sedang asyik dolanan di puncak hutan mendaki bukit-bukit pegunungan itu.

***

Sudut Lain di Angkasa

Mungkin, pertarunagn dua kekuatan itu terjadi cukup lama, entah telah berapa lama keduanya adu sakti, antara sosok burung gigantik tengah bertempur teramat dahsyat dengan sosok sakti serupa raksasa, "Gile bener."

"Ngeri kali!" Namun sisi sosok besar terlihat berkelebatan mendesing-desing, dalam pusaran cahaya merah membara berganti-ganti rupa sewarna selingan, seperti terus menghindar dari serangan burung gigantik itu. "Waduh!"

Sosok burung gigantik terus menyerang sejadi-jadinya, sepertinya sih, akan merebut sesuatu dari sosok sakti tengah merapat erat dengan lengan kuatnya, serupa menggendong meski tak persis benar.

"Woo", terlihat dari arah sini, sosok jelita gebyar-gebyar bercahaya dari tubuh berkilauan cantik banget, suara-gerakan gempuran berdentuman di angkasa. Api beradu kobaran api, kilatan guntur saling menghantam, sana-sini, apa jadinya ya kalau itu benar terjadi, berantakan hancur lebur kalau cuma sekelas kota metropolitan deh.

Serangan burung gigantik semakin gencar, cakarnya menerkam, mendesak, menggencet, merangsek, bertubi-tubi, tanpa jeda loh "Raksasa dogol! Kembalikan kanjeng putri junjungan hamba! Kak! Kak!"

"Bala dupak. Kepala kopyor! Ini calon isteriku! Ngapain ente ikut campur urusan ane!  Walah! Huya! Abdi kahyangan ilmu cetek, tak mencapai mata kaki, burung bebal! Hah!" Serangan balik, sosok raksasa itu sungguh ngeri euy! "Glar! Glar! Dar! Der! Dor!"

Burung gigantik terlihat terdesak hebat, gawat! Sayapnya disambar serangan bola api, sosok raksasa kembali menghantam telak, sepertinya sih, pas, di dagu sisi paruh burung gigantik itu, sosok raksasa mengeluarkan suara mengaum membedah angkasa. "Burung jelek! Ini! Patigeni! Mangan endas-mu! Cuy! Waaccchh! Haacchhrrr! Glar! Dor!"

Burung raksasa terhuyung-huyung, luruh, bulunya rontok beterbangan, tubuh besarnya menukik deras terjun bebas, menuju bumi "Bam! Debam!" Berdebam, tanah ambrol, tubuh jumpalitan, berguling-guling, berloncatan, ngeri! Masih hidup nggak ya, sosok makhluk raksasa segera minggat begitu saja, ogah banget peduli.

Itu beneran sosok raksasa atau bukan ya, karena dari sisi kejauhan ini, belum jelas benar, raksasa betulan atau boongan, tapi kalau melihat besaran tubuhnya, mungkin sosok itu serupa makhluk sejenis manusia, tapi, bertubuh raksasa, hehehe, bahaya, sungguh bahaya, kalau makhluk sejenis itu akan menguasai jagat.

Repertoar Raksasa Adigang Adigung

"Maju! Maju! Raksasa! Dong! Udel bodong! Dong! Hobi boong! Nyolong!"

"Joy! Joy! Hura! Ohoi! Ahoi! Sana sini! Hoi! Ha! Ha! Ha! Aku lipat! Melipat! Aku potong! Memotong! Kamu! Kamu! Hoi! Jag! Jig! Jara-jig-jag! Jor! Jorjoran! Jor! Hua lala! Jor!

"Tikus-tikus! Mati! Di telan raksasa! Ha hahaha! Hua ha-ha!

"Maju! Maju! Raksasa! Dong! Udel bodong! Dong! Hobi boong! Nyolong!"

 "Ahoi! Kamu oke! Ya sudah, menang! Hoi! Hoi! Raksasa, udel bodong, otak melompong, hobi nyolong! Melolong-lolong! Jara-jig-jag! Jor! Jorjoran! Jor! Ya sudah, menang. Hore! Raksasa menang!"

"Tikus-tikus! Mati! Di telan raksasa! Ha hahaha! Hua ha-ha!

"Maju! Maju! Raksasa! Dong! Udel bodong! Dong! Hobi boong! Nyolong!"



***

Pertemuan Dua Adibibit, Adi-sakti

Gelar adegan berikut, busana biru, berindera lengkap, peka, sekeren teknologi zaman modern, sepasang elang memberi tanda bersegera mengejar sesuatu, agaknya, ada peristiwa membutuhkan pertolongan, mendesak, terdeteksi, detak jantung perempuan, sepasang elang terbang bersisian menganggukkan kepala.

"Percepat ke arah target, takdirmu mengawalku seumur hidup kan, Eyang Begawan Elang? Itu janjimu."

"Ya cucuku." Wess! Menggenjot kecepatan, melesat! Mendahului busana biru, menuju target, pada waktu kemudian, mega setebal badai pekat, ketika itulah, kedua elang di serang cahaya silau-menyilau, mata sepasang elang "Blass!"

Serentak pandangan tertutup hitam, mata elang gelap, sepekat malam tak berbintang "Cuss! Wuss!" Mendadak sontak, di ikat cahaya menyergap sakti, terikat, ketat oleh tekno ajaib, menyedot elang, sekuat gaib semesta "Fless!" Mengikat mereka, di pohon menyundul langit, hutan belantara, gigantik "Gong!"

Bukan busana biru kalau tak sakti tepat berguna, tekno firasat di benak kepala memberi sinyal getaran frekuensi amat dikenalnya "Eyang Begawan? Elang!" Terperanjat sukma "Bahaya mengancam mereka? Siapa coba-coba, dasar kurang adat", firasatnya mengatakan, benar, dia, si jangkrik ganteng itu, sontak melepas secepat suara memelesat garis cahaya di angkasa, menukik setajam anak panah. Wah! Bisa nyundul bumi tuh!

Para kera, terpental beterbangan, serangan balik ratusan kera tak mampu mendekati busana biru, para kera porak poranda babak belur terpontang-panting. Area hutan itu rusuh, menyala peperangan para kera versus busana biru "Sakti! Lumayan! Sahabat-sahabatku itu membuat anda kewalahan ya", suara ramah semakin bikin kesal setinggi langit, dari ranah batin itu, mengorek gendang pendengaran busana biru.

Amuk! Tak tercegah, luapan gelombang menggempur gunung, bagi busana biru, penghinaan tata krama luar biasa, melanggar ketentuan aturan moral semesta, selintas ingat pesan ibundanya, "Habisi! Pelanggar tata krama semesta! Tak boleh diberi ampun, siapapun makhluk itu."

Kekuatan semesta tersedot menggedor sukma tubuh, ilmu maha sakti Halimun Membasuh Semesta, bahaya! Wah! Bisa kiamat! Mengumandang dari langit, beku semua makhluk, terpanah statis, perseteruan di arena itu "Stop!"

"Raja Dewa, hampura gusti, hamba tak becus menjaga cucu." Setulus Begawan Elang, merubah rupa, menjadi peri cahaya, tak berapa lama, Begawan Ismaya, hadir pula, dua sosok cahaya dewa super sakti, kakak-adik itu sejajar berdampingan.

Peri cahaya, mencuci ingatan, kedua pendekar sakti itu, kembali seperti sedia kala, sebagaimana perintah kedua cahaya dewa. Karena sebagaimana pula babad kisah tertulis dalam serat kakawin Negara Tenteram Semesta, keduanya, busana biru, ataupun, Tiosang, belum waktu takdir untuk dipertemukan dalam suatu kesadaran bahwa keduanya saudara kembar sejak dalam kandungan ibunda mereka.

Keadaan kembali seperti sedia kala, sepasang elang, meneruskan pengejaran pada target dari suara batin perempuan membutuhkan pertolongan. Sepasang elang telah melihat target itu, menyerang dengan kecepatan terajaib. "Musuh lama! Hajar!"

Serangan cepat, sepasang elang melepaskan perempuan jelita dari kuasa makhluk raksasa, elang satu, membawa turun si jelita, di sembunyikan ke dalam salah satu pohon raksasa di hutan belantara, benua itu, elang dua, terdesak gawat, nyawanya dalam bahaya, serangan makhluk raksasa sakti, sungguh dahsyat luar biasa. Busana biru, dalam kecepatan terbang, menuju wilayah udara itu "Wiss!"

Gempuran mendadak membahana, sepasang pedang menyodok leher raksasa sekilas cepat, tak terlihat kasat mata, penyerangnya, terjadi perkelahian daya sakti takjub terlihat mata, dari sisi sebelah sini, sumpah deh indah banget, bagai kisah wayang purwa filmis, meskipun tetap ngeri, menyaksikan adu kesaktian di angkasa semacam itu, bak ledakan nuklir berkesinambungan.

Kalau saja, seumpama ya, manusia modern, takkan sanggup menyaksikan, mungkin karena berbeda vitamin tubuh, bahkan mungkin saja mati terpanggang oleh radiasi kesaktian dari perang tanding canggih itu. Ho! Ho! Dalang pengarang bisa sesuka hati merubah cerita fiksi loh!

Hahaha, jangan dilupakan ya, dalang bisa berubah menjadi wayang. Ooo! Gong! Kalau gending membahana, pertanda dalang akan menjadi wayang, demikian pula sebaliknya, dengan pengarang. He! He! Dur! Plak! Gending-dang! Gong!

Busana biru, melihat perang tanding dua sosok sakti, langsung, menyerang cepat ke arah kepala makhluk raksasa, putus terpenggal, sekedipan mata, muncul kembali, kepala baru persis seperti semula "Jring!"

"Jlep!" Tiosang, membabat tubuh raksasa terbelah dua, sekedipan mata pula tubuh itu kembali menyatu dalam serangan balik luar biasa lebih mengerikan, secepat iblis mencipta kobaran-api, serupa kaisar Nero, membakar kota imperiumnya.

Tubuh raksasa, membelah sel diri menjadi sepuluh serupa, kedua pendekar serentak menapak langit membalik diri, Tiosang, menjadi bait suara melengking. Busana biru, pun demikian pula, tubuh raksasa pecah berkeping-keping, akan tetapi, menyatu kembali "Blass!" melenyap, mungkin kabur atau adaptif di raung angkasa itu.

***

Sidang Parlemen Imperium

Suara Parlemen:

"Keputusan ketua majelis, bahwa benih padi, termasuk bibit unggul tetumbuhan buah-buahan, sayur mayur. Segera dikirim pada koperasi unit-desa, keseluruh pelosok negeri, bahwa benih itu anugerah dari kebijaksanaan kaisar."

"Bahwa kaisar tak ingin melhat rakyatnya kekurangan pangan, sandang juga papan, bahwa kesehatan seluruh unit desa wajib diutamakan, melalui koperasi unit kesehatan desa, dari hasil lahan tanam produktif obat-obatan, imperium wajib memberikan secara cuma-cuma kepada seluruh desa, termasuk desa-desa terpencil, dalam pertimbangan desa tertinggal." Ketua majelis terlihat terengah-engah, menahan rasa haus, terlihat serupa menghadapi hantu di depannya, mungkin pula sedang ketakutan, entah pada apa, ada siapa.

"Bahwa..." Terputus suaranya batuk-batuk, lalu lanjut lagi. "Saya ulangi, maaf, bahwa imperium berkewajiban meningkatkan kesejahteraan desa-desa tersebut menjadi desa setara antar-kota."

"Bahwa barter ditetapkan sebagai bagian dari pembayaran pembelian, setara nilai koin per-perak, per-emas, per-tembaga, bahwa setiap rumah berkewajiban menerima lima koin uang emas", ketua majelis, akting batuk-batuk sejenak, suaranya agak meninggi lebih lantang, karena ada busana merah di kolong meja ketua majelis, dengan pedang terhunus mengancam selangkangan-ketua majelis, lanjut lagi.

"Koreksi, maksud saya menurut putusan ketua majelis, parlemen memberi putusan ketetapan, tepat-guna tanpa banding, bahwa setiap awal bulan, paling lambat minggu pertama, bulan berjalan, dari setiap keluarga wajib menerima, ehhh, lima koin emas, sekali lagi setiap bulan", suara batin busana merah membisikkan tambahan pesan.

Agak terbata-bata gemetaran "Bahwa keputusan ini diambil berdasarkan kehendak ikhlas kaisar imperium." Palu di ketok, putusan resmi, sah, secara hukum, menjadi tata krama, aturan hidup sehat seluruh desa terkait, wilayah imperium itu.

Para anggota parlemen basah keringat ketakutan, gemetar jantung luar dalam, ancaman busana merah, akan, membuat hujan ribuan anak panah berapi, jika permitaannya tak dipenuhi, oleh sebab, busana merah telah membisikkan hal tersebut pada semua telinga peserta sidang. Padahal ya, dasar suka usil sedari balita, si busana merah hanya sendirian loh. Asyik ya jadi pendekar sakti, sidang ditutup, dengan suara bulat, tanpa adu jotos adigang, adigung.

"Dengan ini majelis menutup sidang. Semua anggota diminta mendahului ketua majelis serta anggota majelis tinggi parlemen imperium, untuk keluar ruangan dengan tertib."

"Tumben, lagi kena sawan bingung kali ye." Kicau ceriwis para anggota peserta, wow oh wow, memenuhi ruang sidang parlemen imperium itu.

"Biasanya kami disuruh menundukkan kepala, dilarang sedikitpun melihat anggota majelis terhormat jika melewati kami", ruangan itu bagaikan sekawanan isu, liur-liur lebah mendengung.

Setelah sepi, busana merah molos, mulus, sakti sekali, membawa serta putusan majelis untuk dibagikan kesemua desa seantero kekuasaan imperium, setelah terlebih dahulu, busana merah, melakukan pertemuan rahasia dengan kaisar. Wus! Berurusan dengan kaisar pasti serba rahasia menurut dalang cerita ini "Gung!" Gong, penutup berbunyi nyaring.

Sebab apa, busana merah berani melakukan tindakan itu, karena dia calon pemegang takhta tertinggi, atas ijin kaisar, busana merah, melaksanakan tugas rahasia secara seksama di luar sangkaan, Sekar Mayang Merah Mawar, si belut, terbaca sepak terjangnya, secara lengkap oleh kaisar, tanpa setahu siapapun, termasuk busana merah.

Berkat kerja piawai grup intelijen terdekat, melekat, teruji mental kesetiannya pada pemerintahan bersih sang kaisar-di dalam tubuh intelijen resmi imperium, sebab kaisar mulai mencium aroma serupa biskuit berdarah, tak nyaman, bahkan kaisar telah mendapat pencerahan, semacam wangsit, bahwa akan ada sesuatu bakal terjadi dari dalam pemerintahannya.

Itu sebabnya, busana merah, merasa aneh ketika menerima wasiat lewat kurir orang kepercayaan kaisar, tak seperti lazimnya, umum-terbuka, namun, karena itu perintah rahasia dari sang kaisar, sekaligus pamannya, ia wajib melaksanakan sebaik-baiknya, dalam gerakan sunyi-senyap, tanpa batuan pasukan atau siapapun.

Tembang Rindu Busana Merah

"Aku mengabdi, pesan ibu tertulis di serat daun bambu kuning, adalah kewajiban tak tertolak, oleh mantra apapun. Karena tugas mengabdi pada negara adalah suci, dalam pengawasan para dewa."

"Sucilah sebuah negeri sucilah cintaku kepada Ibunda. Namun, belum juga aku temukan, ketiga saudara kembarku ibu."

"Kan hamba cari sampai mati, membawa semua suka cita untuk cinta bertemu ketiga saudara kembarku Ibu."


***

Keramaian di Luar Gerbang Kota

Entah mengapa, antah berantah, simpang siur berita ke udara, frekuensi memanas, bikin telinga terbakar, akan mampu memicu publik-adu jotos, tak jelas penyebabnya gemar sekali, Tioning, dalam perjalanan menuju perguruan, membawa rahasia hati, hidupnya.

Tak ada cara lain, keramaian tak jelas ini harus di bubarkan meredam konflik horizontal "Harus di cegah, oh, dua manusia argumentatif alang kepalang membuang ingus sembarangan, wajib aku hentikan", memperhatikan dua sosok berlawanan, membawa gerombolan publik, masing-masing saling menggugat, Tioning, menyerap adu mulut.

"Wah! Bakal rusuh!" Tioning, membuka ilmu sakti Menyebar Mega Serangan Badai "Biar bubar kalian, culik penyelinap, ini rupanya tertulis dalam pustaka terbaca olehku, rembesan noktah isu siluman. Suara di benak kepala, Tioning "Ni, bubar kalian!"

Badai menghujam sederas-derasnya hujan, petir, angin ribut, publik keramian itu kocar-kacir, simpang siur, saling bertabrakan, menyelamatkan diri masing-masing, serangan petir dari langit "Tambah lagi, sedingin salju, setajam sembilu menggigit tulang. Ayo! Cepat bubar hihihi", terpingkal-pingkal "Kalian semua rupanya ya, nanti sepulang urusanku dari perguruaan, aku basmi kalian, kutu-kutu. Bubar!"

***

Sudut Lain Dalam Kota Imperium

"Kau kan anak paman tersayang, cuma nyuri dokumen di perpustakaan saja tak becus. Mau aku pecat jadi pacar, sekarang, mau?" Pemuda itu sesungguhnya lebih sakti dari Sekar Mayang Merah Mawar, akan tetapi entah kenapa, nyali menyusut kalau Sekar Mayang, meminta hal muskil semacam itu.

"Sabar dong. Ada banyak mata mengawasi aku, kau ingatkan aku cuma anak selir samping kiri dari kekuasaan kaisar, tetap berbeda dengan anak selir samping kanan kekuasaan, itu aturan moral tak mungkin aku langgar, kecuali, si pengawal itu, mau menerima sejumlah koin perak."

"Mau aku pecat, pacar? Atau kau cari akal menyusup ke perpustakaan mencuri dokumen penting itu, terserah", Sekar Mayang, sembari mengelus-ngelus ubun-ubun pemuda sakti, lemah lembut itu "Kenapa diam, takut? Kau lebih sakti dari aku, akalmu saja buntu, ganteng, kaya, anak kaisar, tapi otakmu buntu, cium sini, cium ini, cium sini, kalau masih begog, aku ganti pacar. Hm, cium lagi, dah keluar lewat pintu samping, aku mau mandi", si pemuda ngeloyor, sebelum keluar ia senyum sedikit pada Sekar Mayang "Mau di cium lagi?" Sekar, menghampiri "Muah!"

Si pemuda lemah lembut namun sakti itu, pusing tujuh dunia, menghadapi pacar semanja, Sekar Mayang Merah Mawar, super ambisius, gila kekuasaan "Sial, kenapa aku tak bisa lepas dari genggamannya, hubungan sial ini tak boleh berlanjut. Bagaimana caranya, dia selalu mengawasi, sampai-sampai aku mules pun, dia tahu, dengan cara apapun, ya, agar aku lepas dari genggamannya, hihh!"

***

Dini Hari Sudut Lain Perpustakaan

Sosok bergegas, di lorong koridor ke arah Utara, perpustakaan, agak membelok di celah tersembunyi antara sekat gerbang taman-bunga dengan keputren, ia menemui seseorang bertopeng-berzirah, serupa tentara bayaran, berkostum memang sengaja tak jelas. Kaum penyusup ini, terpenting bagi mereka, perut kenyang kaya raya, mungkin pula mereka juga kaki tangan para bangsawan, musuh dalam selimut kekuasaan kaisar, atau apapun lah, karena akhir-akhir ini, kekuasaan kaisar sedang di guncang berbagai isu sembelit, mencoba melilit, mengorek-ngorek kelemahan pemerintahan.

Terjadi obrolan singkat, sosok bertopeng-berzirah bertemu dengan sosok dari dalam istana-menyerahkan sekantong hitam sesuatu, terlihat ada dialog singkat, lantas keduanya menuju arah masing-masing.

***

Dini Hari Sudut Lain Perpustakaan Sisi Utara

Penyusup itu berkostum gelap, membungkus identitasnya, beberapa pengawal pingsan untuk waktu cukup lama, di totok jalan darah, sosok itu mengendap-ngendap, tampaknya menuju arah perpustakaan, kedua penyusup saling berhadapan, mengagetkan keduanya, terjadi perkelahian sunyi, tanpa suara.

Kesunyian itu justru membuat kaisar bercuriga, menghentikan meditasi laku ranah dalam, kaisar keluar ruangan, inderanya mendengar suara sedekat telinganya "Ada hal tak beres, arah perpustakaan, siapa begundal berani menembus istana", kaisar melihat beberapa pengawal tak jauh dari gapura tempatnya berdiri, pingsan.

Melihat situasi rawan itu, kaisar bergerak cepat menyadarkan beberapa pengawal dari pingsannya, busana merah muncul, di belakang kaisar "Ssst! Paman terus, bergerak kearah Timur perpustakaan, aku dari arah-Barat", keduanya berpencar kearah masing-masing.

***

Jakarta Indonesia, Oktober 14, 2020

Salam Sehat Masker Jangan Kendor

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x