Mohon tunggu...
Taufan S. Chandranegara
Taufan S. Chandranegara Mohon Tunggu... Gong adalah Semangat

Kenek dan Supir Angkot.

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Antologi Bercerita (Part 4)

8 Oktober 2020   08:53 Diperbarui: 8 Oktober 2020   08:59 132 36 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Antologi Bercerita (Part 4)
Photography by Tasch 2020 Kompasiana.

Episode (4)
Metalurgi Sarkofagus


Solilokui, carut marut durjana itu masih di angkasa, peta konflik macam apa ada di kepala kau, masih bermain di balik bayang-bayang, rotasi publik berputar di khazanah. Mata terpejam, hati tertutup, muka batu mampu berkata dialektika adalah? Perdebatan kaum banci masih di angkasa, kaum pencuci mulut para badak.

"Habisi."

"Tak semudah sangkamu."

"Habisi."

"Tuan?"

***

Perbandingan, istilah pasaran gunung es terbalik, mudah terbaca.

"Tapi. Tuan."

"Aksioma, jungkir balik."

Makna tak mungkin terjawab. "Habisi." Memutar kepalanya tiga ratus enam puluh derajat. "Sekarang." Kembali memutar kepalanya seperti awalnya.

***


Paradigma, sekadar buang hajat. Epilog, kembali pada prolog. "Habisi." Perangkap tikus belum dimainkan. Orasi tak menuai langit.

"Agatha!"

"Di mana kau letakkan pisau bedahku."

Terperanjat merajut tangan sendiri. "Di kepalamu." Memotong beberapa jemarinya. "Ini." Sambungkan kalau kau mampu. Minggat begitu saja.

Deras hujan di luar. "Agatha?" Membahana gelegar petir. "Agatha."

***

"Aku bilang, habisi."

"Peranan belum jungkir balik, tuan."

"Kalau begitu lepaskan."

"Bagian utama, tuan?"

"Seluruhnya! Kau dengar?"

 
Cuaca sangat bersahabat, tak mungkin melakukan seperti maumu. Baiklah. Membuka sejumlah arsip. "Namamu?" Tanpa menoleh, liur sudah menetes.

"Agatha." Menggeser meja.

Bola matanya terbelalak, bergerak cepat kian kemari. "Atau ada nama lain?"

"Agatha, saja, tuan."

Terdengar pintu dibanting, di ruangan terdepan, berbunyi sangat keras. Menggema waktu, "Pandir! Si pandir itu. Keterlaluan."

"Maaf! Tuan! Publik sulit di kendalikan."

Marah besar, di dekatkan wajahnya. "Aku bukan tuanmu. Catat! Dia tuanmu. Paham?" Bola matanya keluar masuk, belek meleleh kepipinya.

"Tapi dia semirip tuan."

"Aku, bukan tuanmu."

***


"Agatha?" Tak ada siapapun di tempat itu. "Kalau bilangan seperdua, terpecah lagi, menjadi beberapa angka, pembagian perbandingan, apakah masih memperolah satu pangkat dua? Berapa nilai epilog berbanding jumlah akhir pengadeganan."

"Kembali pada tafsir, tuan."

"Aku, bertanya pada, Agatha. Tidak padamu."

"Jemarinya sedang dirajut untuk disambungkan kembali, tuan."

Agatha, tak hendak memahami, meski rasa sakit tak lagi punya. "Diruang ini tak ada siapapun. Hanya kita berdua." Perangkap tikus telah terpasang di semua penjuru tempat itu.

"Siapa memasang, itu, semua."

"Aku."

"Siapa, manusia jelek, baru saja mengumbar dialog?"

***


Mendelegasikan, kepada massa ambang, kepandiran pangkat satu tak merujuk pada jumlah simbolisme kurva berlawanan, secara matematis. "Oh! Anda masih bermain domino!" Ruangan berbalik vertikal.

"Itu disebut makna empiris."

"Aksioma?"

"Mati suri."

"Target?"

"Habisi."

"Tidak mau!" Berbalik, melangkah keluar.

"Stop!" Terus melangkah menuju keluar, membanting pintu keras sekali. "Daar!" Pintu terbelah, dia ngeloyor tak peduli. "Stop!"

Dia berbalik, memutar kepalanya tiga ratus enam puluh derajat. Ruangan tertutup, pintu terbelah merapat lagi.

***


Jakarta Indonesia, Oktober 8, 2020.

Salam Sehat. Masker Jangan Kendor.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x