Mohon tunggu...
Taufan S. Chandranegara
Taufan S. Chandranegara Mohon Tunggu... Gong adalah Semangat

Kenek dan Supir Angkot.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Kumpulan Popcorn (Part 1)

25 September 2020   14:53 Diperbarui: 25 September 2020   14:59 73 16 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kumpulan Popcorn (Part 1)
Photography by Tasch 2020 Kompasiana.

Diktum dari bahasa kita, KBBI, sangat edukatif pertumbuhan dari bahasa 'ibu negeri' rumpun tradisi Nusantara, plus peduli pengembangan dari arti-an, bahasa asing pun menajdi kolaborasi apik, indah bagai kebun bunga terangkai bersilir angin.

Mohon maaf, jika hamba, ada sedikit mencoba melihat, menyimak, serapan 'gaul' di antara generasi cerdas kontemporer kini, ada ragam pesona istilah bahasa sehari-hari, mencoba, upaya merangkum diksi sajak-sajak, berirama bagai pantun indah itu, meski mungkin tak setara keindahan pantun di kala edarannya.

Namun jalinan komunikasi publik gaul kontemporer ada hal terpaut, mungkin, semoga menarik dalam rangkuman sajak bebas terikat di bawah ini. Meski hal semacam ini, bukan hal baru, hampir serupa, mungkin, di antara era 70-an, ke era 80-an, terangkum waktu puisi 'mbeling' pada era budayawan, Yapi Tambayong, lebih di kenal dengan nama pena, Remy Sylado.

Semoga bermanfaat. Salam sehat! Masker Jangan Kendor.

***

Popcorn | "Dang! Ding! Dung!"
Oleh: Taufan S. Chandranegara

Terserah, kamu akan selipkan
di telinga atau di hidungmu
bunga berplastik itu, atau pun
kamu biarkan saja kejepit
di antara kelopak matamu, juga
enggak apa-apa tuh
suka-suka deh

Sejak bau kentang itu
sering kali menjengukmu
dengan sejuta alasan, burung nuri
warna-warni mati suri di kakimu
sekalipun, aku tak lagi mau
apapun meski sekadar
melumat bibir ranummu
seperti biasanya,
aku tak lagi mau
dengan alasan
apa pun

Kamu ngerti nggak sih,
terasa ada muslihat di antara
sela waktu di balik kelambu
benar atau tidak aku tidak
peduli, aku lebih percaya
suara tulus cicak
di dinding

Sekali pun kamu bilang
rindu berabad kangen

"Walaah..."

Sekalipun pula minuman segar
di lukisan pop art, lantas
kau tuang di atas rembulan
pink-merah, kuning, tak kan aku
kejar gunung jungkir balik
kesamber kentut Semar

Emoh deh aku,
senyummu tak seperti
buah semangka lagi,
gincumu semrawut
bau kentang

Hih! Bergidik deh,
seperti gelitikan kobra

Cinta enggak perlu diomongin
bolak-balik membuka
horden jendela, biarin aja
angin menyibak kisah di balik
daun jendela, cerita peraduan
seprai kusut jumpalitan berlimpah
aroma bukan milikku

Apa sih hebatnya
bau kentang berbanding
buah apel dari negeri salju,
tak serambut pun mampu
menggantikan aroma apel, ngerti?

Heleh! Kedelai!
Bolak balik kau bilang
kangen, rindu sejagat
bahkan kau akan telan
matahari demi aku, alaaa!
Gombal!

Nyatanya,
cumbu rayu hadir
setiap waktu
berjuta alasan
menggebu, berdebu
muslihat harum bunga,
tetap saja bau kentang!

"Dang! Ding! Dung!"
"Jring! Sebel deh!"


Jakarta Indonesia, September 25, 2020.


VIDEO PILIHAN