Mohon tunggu...
Taufan S. Chandranegara
Taufan S. Chandranegara Mohon Tunggu... Gong adalah Semangat

Kenek dan Supir Angkot.

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Antologi Bercerita (Part 1)

25 September 2020   03:26 Diperbarui: 25 September 2020   04:06 102 13 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Antologi Bercerita (Part 1)
Photography by Tasch 2020 Kompasiana.

Fiksi: Kova 'sys-transisi'
Oleh: Taufan S. Chandranegara.

Entah apa tujuan dari perilaku asing itu. Sadar atau tidak ia tak pernah paham, namun ketika keinginan itu datang, sesegera itu pula ia harus menyelesaikannya.

Kova, tak pernah tahu, mengapa dia melakukan hal itu, juga, tak dapat dipahami oleh moral logikanya. Meski dia merasa pikirannya, baik-baik saja. Dia mencoba memahami dengan berbagai cara. Tetap saja, Kova, tak pernah paham. Dia hanya merasa ada dorongan untuk melakukan hal itu. Untuk kesekian kalinya, bahkan lebih mengerikan dari biasanya.

Kova, tak pernah menghitung, sudah kali keberapa hal itu dia lakukan. Meski dia tak pernah merasa aneh pada hal selalu hadir, dia, melakukannya, lagi, terulang lagi, dengan cara berbeda-beda. Tak terduga jika akhirnya peristiwa itu terjadi. Entah apa penyebabnya. Disabilitas intelektualitas atau disabilitas orientasi kesadaran pada tujuan. Entahlah.

***

Kova, kelihatan baik-baik saja. Seperti pulang dari tempatnya bekerja. Kini, dia menuju apartemen lantai tujuh belas itu, tempat tinggalnya, sekaligus studionya. Memeriksa, mengamati detail setiap sudut ruangan tempat tinggalnya, seluruh penjuru apartemen dengan teliti secara seksama di perhatikan satu persatu, langkah demi langkah. Selanjutnya membersihkan diri dari segala hal menjadi alat-alat melekat pada sistem tubuhnya, alat bantu melakukan tindakan dari keinginannya.

Tak satupun lepas dari perhatian, ketelitiannya, dari soal pengaman, instalasi gas, listrik, kabel-kabel, camera pengintai, dari sudut-sudut penting, rawan, di ruang apartemennya, seperti biasanya. Akurasi tekno terkini mengaktifkan alarm pengaman, memeriksa voice mail, mendengarkan dengan teliti, suara demi suara satu persatu, sambari membagi perhatiannya pada informasi di media layar kaca, dari news by news, untuknya terlihat semua penting, terserap dengan cepat semua arus informasi.

"Kova, this is me", suara itu dikenalnya.

Kova, geram mendengar suara itu. Dia segera membuka sistem sys-transisi, menekan beberapa tombol singkat. "Bejana barometer itu tak juga jera! Bajingan!", gerahamnya merapat di sukma amat geram. Dia melakukan komunikasi singkat, menekan beberapa tombol sandi-sandi bahasa cubism dengan cepat, dalam bentuk-bentuk visual. Lalu dengan cepat dia mengirim gambar, rekaan-rekaan virtual. Kelihatan dia marah sekali, seperti ingin menelan perangkat-servers-sys-transisi itu.

Kegelisahan seperti itu datang pada waktu tertentu, tak terduga, Kova memutuskan keluar sejenak, membuka pintu apartemen menuju teras. Menarik nafas panjang. Melihat gemerlap metropolis. "Tekno biadab itu masih eksis", keluhnya agak ringan tak lagi menggeram. "Peniru bersistem itu masih berkeliaran", suara hatinya lebih ringan terencana, bersamaan dengan oksigen cukup banyak ke paru-parunya, memenuhi sekujur jalan darah menuju otak. "Baiklah. Kita bermain skala kurva matematis kawan",  senyum itu membayang.

***

Kova, menuju kampus dengan kereta antar kota, jarak tempuh tercepat, pagi, jam sibuk, padat. Berdesakan di kereta rakyat itu, seperti biasa, dia, tidak boleh terlambat.

Perhatiannya tertuju pada seseorang, lalu, dia lupakan, setelah langsung tercatat ke dalam sel-sel otaknya. Kova, semakin dekat ke kampus, tak jauh, cukup berjalan cepat dari stasiun. "Good morning Profesor", sapa para mahasiswanya, riuh seperti di stasiun kereta.

"Selamat pagi. Detail anatomi segmen 17, telah siap. Apakah sistem sayatan jadi metode sys-transisi terbarukan hari ini?" Suara bertubuh blonda albino itu berpikir cepat berbicara cepat, dengan mata berkedip setiap beberapa detik, dengan warna bola mata berbeda pada kedua matanya.

Mahasiswanya serentak membuka perintah, seperti robotik hologram terprogram. Kova menjelaskan potongan antar sendi, hubungan syaraf perifer satu silangan menuju syaraf  lainnya, serta, kemungkinan bypass pada system sys-transisi, dalam keadaan tertentu dengan metoda klasik.

"Serum penebal rasa tak perlu digunakan. Jika situasi amat darurat, pada bagian sendi ini. Kupas setebal nol koma dua, dari permukaan ke bawah kulit", hadirin senyap, paham atau tidak, Kova tak perduli. "Harus paham", tegasnya.

Menjelaskan, mendetail, pada situasi darurat. "Pembedahan, penyayatan, menjadi tak terasa jika titik sel vena ditekan oleh metoda klasik pada titik-titik pusat akupunktur secara simultan. Penekanan membaurkan penyebaran rasa sakit nyaris tak terasa seperti sayatan awalnya. Dikerjakan dengan amat cepat, diperlukan kecerdasan prima pada konsentrasi pengendalian. Agar tak terjadi tremor penyelinap, pengganggu konsentrasi pada akurasi pembedahan, ataupun penyayatan. Segera pahami. Sebelum masuk ke ruang tekno bedah berbagai pola."

"Prof. Maaf. Metoda klasik akan membuat klasifikasi pada tekanan syaraf  ke otak mengejang, berakibat pada ketegangan tubuh secara permanen", suara cantik, datang dari sudut ruang kuliah khusus itu. Kova mengernyitkan dahi. 

"Argumentasi ditolak. Tidak sepadan dengan objek pada tafsir intelegensi di pusat-pusat titik akupunktur elektronik sys-transisi." Kova memandang tajam dengan sangat ringan disenyumnya membayang, namun agak sedikit menekan suaranya. "I'll get you piece by piece", di benak suara Kova. Seraya menandai di pikirannya.

"Prof. Menurut saya pertanyaan itu sangat berharga untuk dipertimbangkan", suara seorang lelaki, menyergah terasa cepat memotong logika dialektika itu. Kova, cukup tenang memperhatikan mahasiswa itu, detail dalam sel otaknya menghitung akurasi prima.

"Oh, anda orang baru dengan otak lama, sedang melakukan pembelaan. Hipotesis argumentatif. Baca skema sayatan genetik klasik di bawah kulit, di kuliah saya minggu lalu. Jika anda belum mendapatkannya, mohon tidak melakukan pembelaan, empiris tak berlaku di sini, di sistem akademi sys-transisi, seluruh hal hidup berkaitan tak terpisahkan." Kova, mencoba mengendalikan gelegak darahnya, dengan cepat menuju otak, menghela nafas dengan tenang. "Kau sudah aku catat", gumam di hatinya. Kova meneruskan penjelasan pada segmentasi lanjutan, berikut lompatan niskala paradigma organismik skala luas.

***

Kova, ke tempat makan siangnya. "Kentang bakar, sepotong daging domba. Selamat makan Prof", suara pemilik kedai 'serba ada serba bisa', di sekitar kampus, tempat para pengajar rehat, makan siang.

"Terima kasih kawan. Daging domba ini semakin gemuk", canda Kova. "Plus coklat panas."

"Baik Prof, segera dikirim." Nikmat makan siang kali ini, dikejutkan olrh kehadiran seseorang di kereta tadi pagi. Berjarak empat meja, sejak tadi. Kova baru menyadari.

Kova sedikit membuang pandangannya kearah orang itu. "Dia aneh. Tapi cantik, seksi. Semoga otaknya semengkilat seperti kulitnya", kata hatinya.

Beberapa teman melambaikan tangan pada Kova. "Mereka kumpul di sudut itu", gumam hatinya, sambil membalas lambaian tangan mereka.

Ketika Kova, mencoba ingin kembali mencuri lihat. Orang itu menuju ke arahnya. "Selamat siang Prof. Saya orang baru di sini, tapi wajah anda begitu populer dikalangan kami", menyodorkan tangannya, berkenalan.

"Kami?" Kova, merasa aneh.

"Ya. Kami. Namaku Mannequin."

"Oh, sebuah nama terdengar unik", Kova cermat menangkap makna di balik pandangan sosok itu, lantas mereka tenggelam dalam perbincangan serius mengenai anatomi A-Struktur, dari perkembangan mutakhir transplantasi bersistem organ otak.

"Kesimpulannya bahwa memori otak menurut metoda klasik, pra-Socrates, bagian kiri atau kanan dapat diganti untuk menemukan dunia baru. No limit." Suara itu seperti meyakinkan diri sendiri. Kova, merasa itu berasal dari sebuah teori abad ke-delapan, masa ketika kultus simbolis tengah menjadi perdebatan logika non-sys-transisi.

"Semacam curva terbalik, akibat pola misteri pada pencerapan independensi elemen-elemen sel genetik secara berkala", pangkas Mannequin, seraya kembali menelan ludah berkali-kali.

"Cerdas, namun, maaf. Agak kurang memikat", ujar Kova, sensibilitas indraja di bola matanya-mulai melihat makna-makna.

Seseorang datang menghapiri keduanya, mirip dengan Mannequin, seterusnya, hadir, menjadi empat orang, mirip, dengan Mannequin, ikut bergabung.

Kova, dari heran, hingga bingung, akhirnya menjadi agak tenang, menjadi biasa saja. Obrolan mereka berlangsung lama. Waktu sesungguhnya telah dini hari, kedai itu sudah lama tutup, akan tetapi di pandangan Kova, waktu tetap seperti tadi siang, tak ada perubahan. Teman-teman Kova terlihat masih di tempatnya.

Kedai pun terlihat tetap sibuk seperti biasanya. Meskipun sesungguhnya tidak ada apapun atau siapapun, juga kampus itu, juga kota metropolis tempat tinggal Kova, termasuk segala isinya, juga kereta dalam kota. Ruang-ruang itu nisbi dari kehidupan sesungguhnya, sejak lama, sejak ledakan itu.

Jakarta Indonesia, September 25, 2020.

Tetap Sehat. Masker Jangan Kendor.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x